BAYAN DAN TAUBATNYA ABU MASYAROH AL-QAHTHANI DARI FAHAM GHULUW TAKFIR SESAT ISIS
Duniaekspressm 27 Januari 2018. Bayan taubat dan ajakan tentang taubat atau rujuknya Abu masyaroh Al-Qahthani, dari pemahaman ghulat takfir ala khawarij, kepada pemahaman ahli sunnah waljama’ah, dan inilah suatu gerakan reformasi internal besar-besaran di jajaran daulah ISIS, dalam memurnikan gerakannya pada manhaj ahli sunnah waljama’ah yang selama ini telah disesatkan oleh kaum ghulat yang menjadi penumpang gelap dalam gerbong daulah ISIS.
oleh : Abu_Maysaroh_Al_Qahthani
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah semata, Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi As-Shadiqul Mashduq yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi seluruh alam, amma ba’du:
Bersamaan dengan dikeluarkannya Ta’mim Lajnah Mufawwadhoh no. 752 tanggal 24/12/1438, maka ana Abu Maysaroh, menyatakan bahwa Ta’mim Lajnah Mufawwadhoh yang telah lalu berjudul “Agar binasa orang yang binasa dengan kejelasan” itu berisi penyimpangan yang nyata dalam masalah takfir, dan ana berlepas diri darinya. Sebagaimana daulah menarik dan berlepas diri dari ta’mim tersebut.
Dan perlu diketahui bahwa ketika selama ini ana menyampaikan atau menyebarkan pemahaman yang  selaras dengan isi ta’mim tersebut tidak lain sebatas karena itu sudah merupakan tugas ana di media daulah islamiyah. Jadi itu bukanlah ijtihad ana pribadi dan demi Allah itu semua tidak lain adalah perintah dari Amir.
Dan ana menyatakan rujuk kepada manhaj ahlusunnah dalam masalah takfir dan bertaubat kepada Allah dari seluruh kesalahan ana yang telah lalu dan kejahilan ana.
Dan telah sampai kepada ana bahwasanya disana ada orang-orang yang menuduh dan memfitnah ana dengan tuduhan bahwasanya ana mengkafirkan daulah atau para qodahnya. Maka ketahuilah bahwa mereka membangun tuduhan itu diatas dzon belaka, kemudian mereka itu menyimpulkan dari lawazim perkataan-perkataan ana yang telah lalu tanpa pernah tabayyun sama sekali bagaimana pendapat ana, setelah semua urusan menjadi jelas pada hari ini. Atau menghukumi hanya berdasarkan qila dan qola. Apakah seperti ini akhlaq seorang muslim? Lalu mereka menghukumi seseorang tanpa tabayyun.
Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 6 :
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا أَن تُصِيبُوا قَوْمًۢا بِجَهٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Dan telah datang riwayat Ibnu Hibban, di dalam Shahih-nya disebutkan, “Manusia akan meminta keputusan hukum. Apabila ada dua orang yang bersengketa mendatangimu, maka janganlah engkau menetapkan keputusan hukum untuk orang pertama sebelum engkau mendengar keterangan pihak lainnya, karena dengan demikian engkau dapat mengetahui siapa yang benar.” (Shahih Ibnu Hibban 5065)
Adapun mengenai tuduhan yang berkaitan dengan diri ana secara pribadi, maka ana katakan itu tidak lain hanyalah upaya pembunuhan karakter dan ana berlepas diri dari seluruh tuduhan yang dibangun diatas dzon itu.
Seperti contohnya tuduhan bahwa ana selama ini meninggalkan atau jauh dari front ribath dan qital, dan mereka sendiri mengatakan  bahwa mereka sulit untuk menemukan jawabannya. Naam, mereka tidak akan pernah menemukan jawabannya jika mereka tidak tabayyun. Demi Allah ana sebenarnya tidak perlu menjelaskan masalah seperti ini. Jika orang-orang yang melontarkan tuduhan itu mau tabayyun sebelumnya. Maka ana katakan bahwasanya BENAR bahwa ana dan SELURUH KRU MEDIA DAULAH ISLAMIYAH itu jauh dari front qital dan ribath namun itu semua bukanlah keinginan kami, dan kami tidak pernah meninggalkan front jihad walau seharipun dan kami memberikan hampir seluruh dari waktu kami didalamnya. Untuk memerangi musuh-musuh Allah melalui front jihad media. Dan ketahuilah bahwa telah ada ta’mim dari Lajnah Mufawwadhoh  bernomor :
 ه8-ت-١٤
Dikeluarkan sejak tanggal : 20-2-2017
Yang isinya bagi seluruh kru media daulah islamiyah bahwa mereka semua diberikan pengecualian dari front-front ribath dan qital. Dikarenakan mereka telah berada di satu front jihad yang penting yaitu jihad media yang mana ini adalah salah satu front terpenting dalam jihad daulah.
Dan adapun mengenai tuduhan-tuduhan yang lainnya ana tidak merasa perlu untuk membahasnya. Karena itu tidak terlalu penting bagi ana dan hanya akan menguras waktu dan tenaga. Walaupun ana berhak untuk membantah satu persatu dari semua tuduhan itu.
Ana berharap bayan yang singkat ini dapat difahami, Sebagai penutup ana hanya dapat mengatakan:
Hasbunallah wa ni’mal wakil
Abu Maysaroh Al Qahthani
Dan penjelasan dari media KDI yang merupakan  salah satu corong medianya daulah ISIS di indonesia, juga memberikan penjelasannya sebagai berikut :
Sehubungan dengan bayan diatas maka dengan ini kami admin KDI MEDIA ruju’ menghukumi Abu Maysaroh Al Qahtani sebagai Ghulat dan menghapus tulisan Abu Hathim dari channel KDI MEDIA.
Sekali lagi kami tegaskan dan jelaskan disini bahwa apa yang telah kami posting mengenai chatt /obrolan seorang ikhwah dengan Abu Maysaroh, itu semua dalam rangka menjelaskan dan menunjukan bukti di mana letak paham Ghulat Lajnah Mufawwadhah era Abu Maram Al Jazairy dan bukan juga dalam rangka pembunuhan karakter terhadap Abu Maysaroh.
Dalam bayannya, Abu Maysaroh mengakui bahwa apa yang selama ini dia sebarkan bukanlah pemahaman dia sendiri akan tetapi pemahaman Ghulat yang datang dari Lajnah Mufawwadhah yang lama.
Kami juga menyerukan kepada semua pihak untuk ruju’ kepada paham ahlussunah dan meninggalkan paham ghulat tanpa rasa sungkan dan malu.
Dan bagi siapa saja yang ruju’ setelah bayan ruju’ Abu Maysaroh maka kami katakan berarti selama ini yang kalian ikuti adalah Abu Maysaroh bukan Daulah Islamiyyah.
Karena itu hendaknya kita ruju’ kepada pemahaman ahlussunah setelah Daulah Islamiyyah mencabut bayan yang menyimpang kemarin bukan setelah Abu Maysaroh membuat bayan ruju’.
Karena Abu maysaroh sendiri tidak pernah mengajak seorang pun untuk mengikuti dirinya akan tetapi untuk mengikuti Daulah Islamiyyah.
Kita mengikuti Daulah Islamiyyah karena kebenaran yang ada padanya bukan karena zat Daulah Islamiyyah itu sendiri.
Walhamdulillah.
Sumber : KDI MEDIA