Duniaekspress, 29 Januri 2018. – Dr Ayman al Zawahiri, pemimpin Al Qaidah global, membahas kegagalan Arab Spring dalam pesan audio yang baru dirilis oleh As Sahab, sayap media Al Qaidah, merilis rekaman online berbahasa Arab berdurasi 12 menit beberapa hari lalu, ditranslate oleh Long War Journal, Sabtu (27/1/2018).

Syeikh Ayman Zawahiri berbicara pada peringatan tujuh tahun pergerakan Arab, yang dimulai di beberapa negara pada akhir 2010 dan awal 2011. Pesannya berjudul, “Tujuh Tahun Kemudian, Mana Hasilnya?”  Syeikh menyampaikan, bahwa “semua revolusi ditekan kecuali Suriah, yang memasuki spiral solusi internasional,” yang berarti bahwa negara-negara kuat sekarang mendikte jalannya peristiwa.

“Rezim yang memerintah di Tunisia, Mesir, Yaman dan Libya semuanya hanya berubah menjadi lebih ganas dan korup daripada sebelumnya,” kritik Syeikh Ayman  Zawahiri. Dia mengingatkan bahwa jihadis harus belajar dari pengalaman pahit ini. Pelajaran nomor satu yang ingin dia sampaikan adalah bahwa para jihadis tidak dapat berkompromi dengan ideologi mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh banyak kelompok Islam lainnya.

Syeikh Ayman  Zawahiri menasihati kelompok Islam, seperti partai Ennahda di Tunisia dan Ikhwanul Muslimin Mesir, atas kegagalan gerakan Arab untuk mewujudkan pemerintahan berbasis syariah di beberapa negara. Pernyataan al Qaidah mengatakan bahwa umat Muslim meminta diberlakukannya syariah, namun hanya tertarik pada kekuasaan, membuat konsesi yang membahayakan ideologi mereka. Syeikh Ayman  Zawahiri berpendapat bahwa Ennahda dan Ikhwanul Muslimin sangat ingin memenangkan Barat dan Amerika, namun jalan yang mereka lakukan hanya membawa kembalinya rezim kriminal yang sama yang mereka gulingkan.

Baca juga, AL-QAIDAH SOROTI SEJARAH BERDIRINYA NEGARA ARAB SAUDI

Pesan terakhir Syaikh Ayman Zawahiri sama dengan yang dia rilis pada Agustus 2016. Dia menceritakan gagalnya gerakan Arab  di Mesir, Tunisia dan Yaman. Dia mengatakan jangan seperti “peternakan unggas, yang menciptakan ayam-ayam yang senang dengan apa yang mereka dapatkan, namun membuat mereka tidak mengetahui sedikit pun tentang ancaman pemangsa yang mengelilingi mereka.”

Penerus Syeikh Usamah bin Laden rahimahullah itu sekarang mengatakan gerakan Libya sebagai salah satu contoh yang gagal. Dan dia menyesalkan bahwa negara-negara dapat mengendalikan konflik Suriah melalui pendanaan dan beberapa kelompok perlawanan malah takut diberi label teroris. Poin terakhir adalah referensi untuk usaha pimpinan AS untuk menunjuk kelompok jihad tertentu sebagai organisasi teroris. Salah satu alasan bahwa “kesatuan” al Qaidah di Suriah terganggu  karena  beberapa oposisi khawatir bahwa peruntukan tersebut akan merusaknya. Meskipun Syeikh Ayman Zawahiri tidak menyebutkannya, Al Qaidah sendiri pada awalnya berusaha menyembunyikan jangkau jaringannya di Suriah, untuk menghindari pengawasan internasional.

Sebelumnya, Syeikh Usamah bin Laden memperkirakan bahwa ada “potensi yang cukup besar di dalam Ikhwan” yang berkembang ke arah para jihadis. Syeikh Bin Laden juga menulis dalam jurnal pribadinya beberapa saat sebelum syahidnya, bahwa gerakan Arab merupakan kesempatan unik bagi perjuangannya. Sebagai tambahan, Al Qaidah memerintahkan anak buahnya untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok Islam di negara-negara mayoritas Arab dalam upaya mengarahkan mereka menuju ideologi jihad. Di Suriah, misalnya, pasukan al Qaidah telah bekerja sama dengan kelompok Islam dan Salafi dari berbagai faksi dan bahkan bersiyasah dengan kelompok yang didukung oleh Barat.

Walaupun Syeikh Ayman Zawahiri menyesalkan kegagalan untuk mencapai tujuan tata pemerintahan syariah yang sudah berjalan lama di beberapa negara, hal itu tidak berarti bahwa dia menilai semuanya hilang. Meskipun tata kelola syariah yang meluas tidak berakar, Al Qaidah masih mempertahankan tapak gerakan di banyak wilayah di sejumlah negara. Meskipun menghadapi banyak hambatan, pasukan gerilya Al Qaidah justru saat ini berjuang di lebih banyak negara. (AB)

sumber : Long War Journal

 

Baca juga, AL-QAIDAH REHABILITASI MANTAN KOMBATAN ISIS/IS DI SURIYAH