Direktur National Counterterrorism Center (NTC), Nicholas J. Rasmussen, mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa Yaman terus menjadi salah satu ‘teater’ paling membuat frustrasi dalam kerja kontraterorisme saat ini.
(The New York Times, 30/12/2017)

 

Duniaekspress, 31 Januari 2018. – Komentar Rasmussen mencerminkan kesulitan Amerika Serikat (AS) melakukan operasi di Yaman yang dilanda perang. Konflik itu ibarat matryoshka , atau pertunjukan boneka Rusia, di mana ada perang dalam peperangan. Konflik semakin rumat dengan kehadiran aktor luar, yaitu Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang membawa agenda masing-masing di Yaman dan sering bertentangan satu sama lain.

Dalam konflik semacam di Yaman, menarik garis yang jelas antara Al-Qaidah di Jazirah Arab (AQAP), milisi anti-Houthi, pejuang dan pasukan suku-suku yang didukung oleh Arab Saudi dan UEA adalah tugas yang semakin sulit. Ketidakjelasan ini—berupa banyaknya kelompok yabng bertempur, aliansi yang selalu bergeser, dan ratusan juta dolar materi yang digelontorkan kepada pasukan pro-pemerintah oleh Arab Saudi dan UEA—telah membantu AQAP bertahan dan berkembang (Middle East Eye, 27/10/2017). Pada saat yang sama, perang telah memaksa AQAP untuk menjadi organisasi yang sangat berbeda dari empat tahun yang lalu.

Perang telah memberi AQAP sejumlah peluang untuk mengasah dan memperbaiki taktiknya sambil terus menumbuhkan organisasinya. Yang terpenting, AQAP tampak lebih pragmatis dan luwes dalam meletakkan prioritas ideologi—setidaknya dalam operasinya sehari-hari—dalam rangka membangun aliansi, merekrut, dan melatih pejuang yang kapabel, sekaligus meningkatkan akses terhadap sumber-sumber pendapatan yang terus mengalir.

AQAP telah belajar dari kesalahannya sendiri dan dari kelompok seperti the Islamic State (IS) di Suriah dan Irak. Kesimpulannya, ideologi bisa memenangkan rekrutan, tetapi jarang memenangkan perang. Kesabaran, pejuang yang terampil, aliansi, serta akses terhadap uang dan senjata adalah kunci-kunci untuk menang perang atau—dalam kasus AQAP—jaminan kelangsungan organisasi untuk jangka panjang.

Kesimpulannya, ideologi bisa memenangkan rekrutan, tetapi jarang memenangkan perang. Kesabaran, pejuang yang terampil, aliansi, serta akses terhadap uang dan senjata adalah kunci-kunci untuk menang perang atau—dalam kasus AQAP—jaminan kelangsungan organisasi untuk jangka panjang.

Lebih Adaptatif

Kepemimpinan AQAP belajar banyak dari eksperimen pertama yang dilakukan untuk memegang dan memerintah wilayah pada tahun 2011-12 (Al-Jazeera, 29/5/2011). Menurut Michael Horton dari The Jamestown Foundation (26/1/2018), kekalahan yang nyaris dialami AQAP di Provinsi Abyan di selatan pada tahun 2012 sebagian besar disebabkan AQAP telah mengasingkan rakyat yang ia coba atur dan Yang paling kritis, AQAP dinilai belum sukses menggalang sekutu dari kalangan elite kesukuan atau setidaknya mereka tetap netral. Ternyata tidak cukup kepercayaan diri AQAP yang tinggi dalam upaya penerapan syariat Islam di wilayah kontrolnya (2011), tetapi juga memerlukan dukungan lokal yang mungkin dapat dinikmatinya.
Pada bulan April 2015, AQAP mengambil alih kota terbesar kelima di Yaman, kota pelabuhan Al-Mukalla (Al-Jazeera, 16/9/2015).

Pengambilalihan itu berlangsung cepat dan tidak berdarah. Kepemimpinan AQAP berfokus untuk menguatkan aliansi dan kesepakatan dengan elite lokal dan poros-poros kekuasaan yang ada. Alih-alih secara terang-terangan menegaskan kontrolnya, AQAP memerintah melalui proksi (Middle East Eye, 12/5/2015). Penerapan hukum Islam terbatas—sesuai kemampuan—dan umumnya mencerminkan apa yang telah diterima oleh masyarakat.

Upaya nyata AQAP ketika memerintah Al-Mukalla selama setahun diarahkan untuk membangun aliansi dengan berbagai elite dari suku lokal, pemilik bisnis, hingga anggota militer Yaman yang tidak berfungsi. Aliansi ini dibangun dengan asas timbal balik: AQAP memberikan jaminan keamanan, perlindungan, dan stabilitas tertentu, dan sebagai gantinya berbagai kelompok elite di atas sepakat untuk tidak memerangi AQAP dan tidak turut campur dalam rampasan perang.

Selama menguasai dan memerintah Al-Mukalla, AQAP berhasil mengontrol kira-kira $100 juta dolar dari cabang Bank Sentral Yaman di kota tersebut dan dari bank lain. AQAP juga menyita perangkat keras militer jutaan dolar dari depot dan basis tentara Yaman. Uang dan perangkat keras ini penting untuk mendanai operasi AQAP yang sedang berlangsung dan untuk mengamankan aliansi. Ada beberapa persen rampasan yang diyakini telah dibagi-bagi di antara mereka yang—setidaknya—memilih untuk tidak melawan AQAP.

Di samping terus menerbitkan rilisannya—hingga saat ini—tentang pentingnya penegakan syariat Islam, mendirikan khilafahan, dan menyerang sasaran di Barat, AQAP tampak lebih memprioritaskan operasinya untuk tujuan yang terlokalisasi. Aliran tweet AQAP yang terus berlanjut, postingan forum, dan publikasi tetap penting untuk perekrutan dan menyediakan bahan bagi analis untuk diuraikan, tetapi umumnya kurang mencerminkan strategi adaptatif dan dinamis yang dipakai AQAP di lapangan.

Ketika meninggalkan Al-Mukalla pada bulan April 2016, AQAP memilih untuk menghindari bentrokan langsung dengan pasukan dukungan UEA yang mencoba merebut kota. Jadi, setahun memerintah sebuah kota besar—setidaknya melalui proksi—memberikan pengalaman yang tak ternilai bagi para pemimpin AQAP. Bahkan, warga Al-Mukalla menilai AQAP melakukan pekerjaan administrasi kota yang lebih baik daripada pemerintahan yang dibekingi Emirat saat ini (Al-Jazeera, 11/1/2018).

Arti penting pengalaman memerintah Al-Mukalla bagi AQAP adalah memungkinkan AQAP untuk membangun reputasi sebagai kekuatan yang dapat diandalkan dan relatif kapabel. AQAP mau dan mampu bekerja sama dengan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat tanpa mengorbankan agendanya sendiri.

Jaringan yang Semakin Tersebar

Kesediaan AQAP untuk beradaptasi dilakukan untuk meraih tujuan yang lebih mampu dijangkau, seperti membangun aliansi dan mengamankan akses pendapatan melalui perdagangan. Tuntutan tersebut mendorong AQAP untuk fokus menerapkan strateginya ini. Salah satu kebijakan yang diambil adalah dengan memasukkan para petugas pelaksana dan pasukannya ke dalam struktur kekuasaan yang ada, di mana AQAP dapat memanfaatkan faksionalisme dengan menawarkan layanan dari pejuang yang lebih terlatih dan punya motivasi yang lebih baik.

AQAP menerapkan strategi yang tidak berbeda dengan yang digunakan oleh musuh-musuhnya, Houthi, yang secara perlahan mengooptasi kalangan elite yang telah setia kepada mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. Dukungan dari elite nasional dan lokal yang dirasakan oleh Houthi berada dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang dinikmati oleh AQAP. Namun, bagi AQAP, dukungan lokal yang terbatas sekalipun sangat penting untuk kelangsungannya dalam jangka panjang.

Jajaran pelaksana dan pejuang AQAP hadir di hampir semua garis depan perang multiaktor di Yaman. Mereka paling aktif di Provinsi Al-Bayda dan dalam pertempuran untuk memperebutkan kota Taiz yang terbagi (Laporan SITE Intelligence Group, 10/1/ 2018). AQAP juga tetap menjadi kekuatan kuat di Provinsi Hadramaut, di mana pejuangnya telah meluncurkan berbagai serangan terhadap Pasukan Elite Hadrami yang didukung oleh UEA (Al-Monitor, 19/7/2017). Jadi, AQAP hadir di Al-Bayda dan Taiz serta telah berulang kali membuktikan dirinya sebagai sekutu yang dapat diandalkan dalam pertempuran melawan pasukan aliansi Houthi.

Al-Bayda adalah posisi mundur stratejik bagi AQAP. Setelah kemundurannya pada tahun 2012, para pelaksana tugas senior mencari dan menemukan tempat berlindung di daerah pegunungan yang terjal. Kontrol atas provinsi yang stratejik ini, yang terletak di pusat Yaman, menjadi posisi kunci untuk mengakses delapan provinsi lainnya, dipandang penting bagi Houthi maupun para penentangnya.

Hubungan AQAP dengan suku-suku yang merupakan kekuatan dominan di Al-Bayda cukup kompleks. Garis pembeda antara para pejuang AQAP dan milisi kesukuan serta pasukan anti-Houthi yang didukung koalisi Saudi-UAE jarang bisa dibedakan. Ketidakjelasan ini merupakan komponen penting bagi strategi AQAP untuk melibatkan anggotanya dengan kelompok anti-Houthi dan pejuang suku-suku.

Ini bukan berarti bahwa AQAP menikmati dukungan tingkat tinggi dari suku-suku Al-Bayda, bahkan dalam banyak kasus yang terjadi adalah sebaliknya. AQAP dan sebagian dari suku-suku ini juga pernah berperang satu sama lain. Namun, untuk saat ini, AQAP dan banyak suku-suku yang ada di Al-Bayda menyatukan agenda mereka, yaitu sama-sama terfokus untuk mengalahkan Houthi sebagai musuh bersama (Carnegie Middle East Center, 10/1/2018).

Di kota Taiz yang diperebutkan, yang telah dikepung oleh pasukan Houthi dan pasukan pro-Saleh sejak tahun 2014, anggota dan pejuang AQAP berjuang berdampingan dengan milisi setempat—yang banyak di antaranya adalah orang-orang Salafi—baik secara terang-terangan maupun diam-diam. Pejuang AQAP lebih terlatih, terorganisir, dan terdanai daripada milisi ad-hoc yang dibentuk untuk melawan Houthi dan sekutunya. Ini terutama terjadi dalam dua tahun pertama perang di Yaman.

Seperti halnya ketika memanfaatkan faksionalisme, kesan pragmatis juga ditunjukkan ketika AQAP menyebarkan pejuangnya. Di Taiz, khususnya, pejuang AQAP sering berperan penting dalam upaya untuk menghentikan kekuatan yang bersekutu dengan Houthi yang hendak merebut wilayah.

Di Hadramaut, AQAP menghadapi musuh yang berbeda dan menggunakan strategi yang berbeda. Di sini yang dipandang sebagai musuh utama bukanlah orang-orang Houthi dan pasukan yang terang-terangan bersekutu dengan mereka, tetapi Pasukan Elite Hadrami yang didukung UEA. Pasukan ini diduga bersekutu dengan Pemerintah Yaman di pengasingan. Popularitas pasukan UEA cukup rendah karena pendekatannya yang keras di kalangan penduduk setempat. Banyak penduduk memandang UEA punya tujuan penjajahan atas wilayah Yaman yang kaya minyak dan gas.

Upaya UEA untuk memperoleh pijakan di wilayah tersebut dilakukan dengan cara memberdayakan beberapa elite Hadrami dan melucuti pihak lainnya. Para elite yang tidak puas dan tersingkir—ditambah meningkatnya kebencian masyarakat terhadap UAE dan sekutu-sekutunya—memberi AQAP pintu peluang yang dibutuhkan. Seperti yang ditulis dalam artikel Al-Jazeera baru-baru ini, banyak penduduk Al-Mukalla lebih suka dengan penguasaan AQAP atas kota tersebut (Al-Jazeera, 11/1/2018). Mereka mengungkapkan fakta bahwa AQAP terlibat dalam lebih banyak pekerjaan umum dan memberikan keamanan yang lebih baik bagi penduduk daripada rezim yang memerintah saat ini.

Seperti halnya ketika mengeksploitasi faksionalisme dan memanfaatkan kemampuan tempurnya di Al-Bayda dan Taiz, hal serupa dilakukan AQAP di Hadramaut, tetapi dengan sedikit sentuhan, yaitu lebih banyak bertindak sebagai “satpam”.

“Senjata untuk Disewa”

Seperti banyak organisasi militan lainnya, AQAP kadang-kadang menanggung risiko dimanfaatkan oleh rezim pemerintah yang justru hendak digulingkannya. Misalnya, sebagian kesatuan mantan rezim Saleh pernah berusaha menunggangi Al-Qaidah untuk menyasar pesaingnya dan untuk mengucurkan dana dari para pendonor Barat. Menurut Al-Jazeera (4/6/2015), AQAP dan organisasi turunannya benar-benar pernah ditembus oleh kedua cabang intelijen Yaman: Biro Keamanan Politik (PSB) dan Badan Keamanan Nasional (NSA).

Hubungan suram antara rezim Saleh dan AQAP mencerminkan rangkaian hubungan yang sama-sama suram dan kompleks, yang sekarang berlangsung antara sejumlah elite Yaman, kekuatan yang didukung oleh koalisi Saudi-UEA, dan AQAP. Dalam hal ini, AQAP cukup ahli dalam memanfaatkan aliansi yang ambigu dan terkadang bergeser, yang sekarang ada di Yaman yang sedang dilanda perang.

Aliansi semacam ini melayani banyak tujuan, namun yang terpenting, mereka mengizinkan AQAP untuk lebih jauh mengembangkan operasinya di berbagai jaringan bela diri, sosial, dan bisnis, di mana mereka dapat mengumpulkan kecerdasan manusia yang berharga (Humint). Aliansi ini juga berfungsi sebagai sumber pendapatan penting bagi AQAP, baik dalam hal uang tunai maupun akses ke jaringan perdagangan yang sah dan ilegal.

Peperangan di Yaman menyediakan banyak kesempatan untuk memperoleh keuntungan bagi kelompok-kelompok elit di seluruh penjuru negeri, walaupun keuntungan ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan profit produsen senjata yang memasok Arab Saudi dan UEA (Chatham House, 20/12/2017).

AQAP juga bertekad untuk menemukan cara baru untuk mencari keuntungan dan menjamin masa depan keuangannya. Seperti kemampuannya untuk menyebarkan pejuang yang termotivasi dan terlatih ke garis depan di tempat-tempat seperti Taiz dan Al-Bayda, AQAP tetap berada di pos dan memastikan pasokan. Kemampuannya diakui dan dihargai oleh sejumlah kekuatan anti-Houthi, seperti sikap yang ditunjukkan oleh para elite di Hadramaut.

Meskipun tidak ada ancaman Houthi di Hadramaut, ada banyak yang dipertaruhkan di provinsi yang kaya sumberdaya tersebut. Di Hadramaut terdapat terminal LNG Yaman, ladang-ladang minyak dan gas yang dibangun, serta cadangan minyak bumi yang belum tergali. Hadramaut juga menempati peringkat atas lokasi akuifer (lapisan bawah tanah yang menyimpan cadangan air) yang belum dimanfaatkan oleh Yaman.

Keterlibatan Arab Saudi dan UEA dalam urusan Hadramaut telah membuat marah banyak penduduk, baik elite maupun nonelite. Banyak yang melihat UEA dan Arab Saudi sebagai kekuatan penjajah, yang berniat untuk mengatur Yaman dan menolak kemandirian nasional mereka. Bersamaan dengan ini, pasukan yang didukung UEA dituduh telah melenyapkan dan menyiksa orang-orang Yaman yang mereka curigai ada kaitannya dengan AQAP atau mendukung milisi kesukuan yang menentang Pasukan Elite Hadrami (Human Rights Watch, 22/6/2017).

Kombinasi fakta berupa taktik kasar, kehadiran asing, dan peminggiran banyak elite lokal menyediakan kesempatan bagi AQAP untuk mempertahankan dan meningkatkan posisinya di Hadramaut. Di beberapa wilayah, terutama di bagian selatan Hadramaut—di mana pasukan yang didukung UEA paling aktif—pejuang AQAP bertindak sebagai “senjata untuk disewa” oleh elite yang tidak puas, yang ingin menggagalkan apa yang terlihat sebagai pengambilalihan oleh UEA yang mungkin berakibat ketidakberdayaan permanen bagi mereka.

Pada saat bersamaan terdapat konflik di dalam Pasukan Elite Hadrami. Ada persaingan antara UEA dan Arab Saudi, yang agendanya saling berseberangan. Ini berarti potensi kekuatan yang didukung oleh masing-masing pihak tidak selalu bekerja sama, dan pada saatnya, mungkin akan saling memerangi.

Para pemimpin AQAP memahami keuntungan finansial dan politik yang mungkin timbul dari membiarkan pejuangnya bertindak sebagai “tentara bayaran” bagi elite terpilih. Perang di Hadramaut bisa memperkaya AQAP sekaligus membuka peluang bagi para anggotanya untuk terus terlibat dalam struktur kekuasaan lokal.

Kesimpulan Hasil Pengamatan

Kompleksitas perang di Yaman, kehadiran aktor luar dengan agenda yang saling bertentangan, dan kesempatan untuk memasuki berbagai jaringan legal dan illegal; semua mendukung pertumbuhan dan perkembangan AQAP yang berkesinambungan. AQAP telah berulang kali menunjukkan diri sebagai organisasi—atau pluralitas organisasi—yang belajar, beradaptasi, berkembang, dan siap untuk memanfaatkan keuntungan jika memungkinkan.

Kemampuan AQAP untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan politik dan tuntutan kelangsungan hidup cukup mengalir. Hal ini dibuktikan lewat kesediaannya untuk tidak mengedepankan propaganda inti ideologi salafi-jihadinya. Dengan strategi yang lebih bijaksana dan terlihat pragmatis memungkinkan AQAP membangun aliansi, melibatkan para anggotanya, sekaligus memperoleh aliran pendapatan.

Posisi pasukan Houthi dan sekutunya yang melemah di beberapa dan kemungkinan terbatas mereka mundur dari Sanaa akan membantu AQAP. Ketidakmampuan pasukan yang didukung koalisi untuk mengamankan wilayah yang coba mereka kontrol tampak jelas dari serangan dan pemboman yang hampir setiap hari terjadi di Aden dan sepanjang Yaman selatan.

Jika pasukan yang didukung koalisi Saudi-UEA mampu memaksa Houthi mundur, AQAP akan datang untuk mengisi sebagian celah yang ditinggalkan oleh Houthi dan sekutunya, paling tidak dalam jangka pendek. Namun, AQAP memahami bahaya melakukan manuver ini secara berlebihan. Sepertinya AQAP akan terus menyembunyikan diri dalam Perang Yaman untuk mengejar strateginya yang berhasil mempertahankan aliansi dan akses ke jaringan perdagangan. Kepemimpinan AQAP telah mengakui bahwa masa depan itu milik organisasi yang mampu dengan cepat beradaptasi dan mengeksploitasi lingkungan yang dinamis.

 

Sumber : Seraamedia.com

Referensi:

  • Michal Horton. 26 Januari 2018. “Guns for Hire: How al-Qaeda in the Arabian Peninsula Is Securing Its Future in Yemen” dalam jurnal Terrorism Monitor, Volume: 16, Terbitan: 2.
  • Nadwa Al-Dawsari. 10 Januari 2018. “Our Common Enemy: Ambiguous Ties Between al-Qaeda and Yemen’s Tribes” dalam laporan Carnegie Middle East Center.
  • Peter Salisbury. 20 Desember 2017. “Yemen: National Chaos, Local Order” dalam laporan Chatham House.
  • Human Rights Watch. 22 Juni 2017. “Yemen: UAE Backs Abusive Local Forces”.
  • https://jamestown.org/program/guns-hire-al-qaeda-arabian-peninsula-securing-future-yemen/

Baca juga, SYAIKH KHALID BATARFI ULAMA SENIOR AL-QAIDAH YAMAN MASUK DALAM DAFTAR TERORIS GLOBAL