SENJATA ANDALAN YANG MENJADI BUMERANG BAGI ISIS

Duniaekspress, 4 Februari 2018. – Smartphone membantu ISIS tumbuh dan berkomunikasi. Melalui serangkaian proses, sekarang, perangkat tersebut berkontribusi terhadap kejatuhan mereka.

Dalam sebuah bangunan yang tidak begitu mencolok dan sangat aman di pinggiran kota Washington, sekelompok teknisi dan ahli bahasa pemerintah AS mengunduh sejumlah besar data dari telepon, hard drive, CD dan perangkat lainnya, memberikan layanan bagi komunitas intelijen AS untuk terus memburu militan.

Banyak perangkat smartphone telah dipungut dari medan perang di Irak dan Suriah, di mana ISIS telah kehilangan hampir semua wilayah yang dikuasainya pada tahun 2014.

“Ini adalah teknologi masa depan yang terwujud hari ini,” ujar Kolleen Yacoub, direktur National Media Exploitation Center, kepada USA TODAY dalam sebuah wawancara, yang langka terjadi, di kantor pusat tersebut.

Ini adalah pertama kalinya kantor tersebut mengizinkan seorang jurnalis masuk. Kantor tersebut juga mendukung penyediaan data untuk penegakan hukum dan lembaga lainnya. Wartawan sengaja diberi akses untuk memberikan wawasan tentang bagian komunitas intelijen yang sangat penting, namun sedikit yang diungkap ke publik.

Kantor ini bermula dari hanya segelintir karyawan saat didirikan pada tahun 2003 dan sekarang menjadi sekitar 700 orang, termasuk dengan kantor cabangnya di luar negeri. Mereka memiliki sekitar 100 ahli bahasa.

“Kemampuan untuk memanfaatkan perangkat keras elektronik yang berhasil dipungut adalah kemampuan hebat yang telah kami adopsi dan kembangkan, serta meningkat pesat selama 15 tahun terakhir,” kata Jim Howcroft, seorang pensiunan pejabat intelijen Angkatan Laut dan direktur program terorisme di George C. Marshall European Center for Security Studies.

Berpusat di Maryland, dan dikelola oleh Defense Intelligence Agency, kantor ini meneliti secara komprehensif dokumen kertas dan juga barang elektronik. Perkembangan teknologi, dan persebaran laptop dan ponsel telah memicu pertumbuhan dalam metode pengumpulan data intelijen.

Smartphone menyimpan sejumlah besar informasi penting bagi analis intelijen, termasuk foto, nomor telepon, data GPS dan pencarian di Internet.

Para pengguna ponsel pintar, umumnya, menganggap perangkat mereka aman dan tidak melakukan tindakan pencegahan untuk melindungi data-data dalam ponsel mereka, kata Yacoub.

“Apa yang mereka simpan di perangkat mereka adalah informasi akurat,” kata Yacoub. “Sebagaimana kita cenderung memperlakukan perangkat digital kita, perangkat ponsel kita … sebagai barang pribadi dan kita tidak memanipulasinya.”

“Musuh juga berlaku apa adanya terhadap data-data itu, tidak merekayasanya,” katanya.

Data tersebut mencakup video dan foto yang membantu mengidentifikasi militan dan pemimpin mereka.

Bahkan saat perangkat rusak atau informasi dihapus, ahli teknisi di kantor tersebut mampu memulihkan 60% sampai 80% dari data. “Dihapus tidak berarti hilang” adalah salah satu motto yang mereka gunakan.

Jumlah data yang masuk ke kantor tersebut telah meroket dalam dua tahun terakhir, kata Yacoub, terutama sejak kampanye melawan ISIS.

Bahkan saat perangkat rusak atau informasi dihapus, ahli teknisi di kantor tersebut mampu memulihkan 60% sampai 80% dari data. “Dihapus tidak berarti hilang” adalah salah satu motto yang mereka gunakan.

Analisis data telah sangat membantu dalam memberikan informasi awal bagi analis intelijen. Ini belum pernah terjadi sebelumnya, tentang bagaimana kelompok radikal beroperasi di Irak dan Suriah karena adanya kemunculan smartphone dan ketelitian para anggota ISIS dalam menyimpan catatan di area yang dikontrolnya.

Data tersebut termasuk puluhan ribu catatan personil pejuang asing (foreign fighter) dan keluarga mereka dengan tanggal lahir, alias, nomor telepon, pekerjaan dan informasi berharga lainnya.

“Mereka memiliki pemerintah pusat sendiri,” kata Yacoub.

ISIS memiliki departemen yang mengembangkan teknologi drone, senjata kimia, operasi keuangan dan propaganda. Mereka juga menyimpan catatan rinci tentang birokrasi yang dibuatnya untuk menyediakan layanan di area yang dikontrolnya.

Beberapa pemimpin teror telah ditangkap, melarikan diri dari medan perang dengan mengumpulkan informasi dengan harapan mereka dapat menggunakannya untuk menjaga agar kelompok mereka tetap aktif atau berkumpul kembali setelah kehilangan wilayah.

“Jika Anda berkomitmen untuk mempertahankan organisasi ini dan Anda akan terus menjalankan eksistensinya … maka Anda akan melakukan semua yang anda bisa,” kata Brigadir Jenderal James Glynn, wakil komandan Jenderal Joint Task Force, dalam sebuah wawancara dari Baghdad.

Informasi intelijen yang diperoleh telah membantu para analis memetakan bagaimana ISIS mencoba berevolusi.

“Jika Anda tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang bagaimana ISIS beroperasi hari ini, saya rasa Anda tidak dapat benar-benar mengerti ke mana tujuan mereka selanjutnya,” kata Seth Jones, direktur  Transnational Threat Project di lembaga think-tank asal AS, Center for Strategic and International Studies. “Mereka tidak akan menghilang,” katanya. (seraamedia).

 

Sumber: www.usatoday.com

 

Baca juga, ISIS KLAIM SERANGAN TERHADAP LEMBAGA KEMANUSIAAN DI JALALABAD