Kewajiban Ayah: Memimpin dan  Membimbing Keluarga Taat Kepada Allah Ta‘ãlã

Duniaekspress 5 januari 2018, Ayah sebagai kepala rumah tangga memiliki banyak tugas dan kewajiban. Diantara kewajiban seorang ayah yang paling vital adalah membimbing keluarga taat kepada Allah Ta‘ãlã. Imãm Nawãwî dalam Riyãdhus Shãlihîn membuat bab tersendiri terkait masalah ini. Beliau berargumen dengan firman Allah Ta‘ãlã:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Q.S. Thaha[20]: 132).

Perintah dalam ayat ini adalah perintah yang ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan setiap perintah yang ditujukan kepada Rasulullah adalah perintah kepada umatnya selama tidak ada dalil, alasan atau indikasi lain yang memalingkan hukum asal atau mengecualikannya.

Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk memerintahkan keluarganya melaksanakan shalat dan sabar dalam melaksanakannya. Hakikat dari perintah ini adalah memerintahkan keluarga untuk mentaati Allah. Dan perintah yang sama ditujukan kepada umatnya untuk memerintahkan keluarga mereka melaksanakan shalat dan sabar dalam melaksanakannya.

 

Metode Umar Bin Khattab dalam Mendidik Keluarganya

Imãm Mãlik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari bapaknya (Aslam Al ‘Adawi Al ‘Umari maulanya Umar bin Khaththãb); Bahwa Umar bin Khaththãb shalat malam panjang sekali. Hingga apabila tiba akhir malam ia membangunkan keluarganya untuk shalat. Ia berkata kepada mereka shalat.. shalat.. kemudian ia membacakan ayat ini: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (HR. Mãlik dalam Muwathã’ dan Baihaqi dalam Sunan Kubrã).

Sebagai seorang ayah, Umar bin Khaththãb turun langsung mendidik keluarganya dengan melatih mereka ‘menuhankan’ Allah Ta‘ãlã. Beliau turun langsung untuk membenahi keimannan mereka, untuk mengenalkan anak-ankanya hak-hak Allah Ta‘ãlã. Syaikh As Sa’dî berkata mengomentari ayat ini:

أي: حث أهلك على الصلاة، وأزعجهم إليها من فرض ونفل. والأمر بالشيء، أمر بجميع ما لا يتم إلا به، فيكون أمرا بتعليمهم، ما يصلح الصلاة ويفسدها ويكملها.

Artinya, anjurkan keluargamu untuk mengerjakan shalat dan buatlah mereka cemas (kalau meninggalkan) shalat fardhu maupun nafilah. Dan perintah melaksanakan sesuatu adalah perintah melaksanakan seluruhnya, yakni apa saja yang tidak akan sempurna pelaksanaannya kecuali dengannya (maksudnya kaedah, Mã Lã Yatimmu Al Wãjib illa bihi Fahuwal Wãjibu). Artinya ini perintah untuk mengajari mereka. apa saja yang boleh, merusak dan menyempurnakan shalat.

Allah Ta‘ãlã juga berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At Tahrîm [66]: 6).

Ibnu Katsir berkata menafsirkan ayat ini:

(قال سفيان الثوري عن منصور عن رجل عن علي رضي الله عنه في قوله تعالى (قوا أنفسكم وأهليكم ناراً) يقول أدبوهم وعلموهم،

Sufyan Ats Tsauri berkata dari Manshur dari seorang lelaki dari Ali, beliau berkata pada firman Allah Ta‘ãlã: ”Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. “Ajarilah mereka adab dan ilmu.”

Imãm Bukhãrî meletakan ayat ini dalam bab: sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يُعَذَّبُ الْمَيِّتُ بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ النَّوْحُ مِنْ سُنَّتِهِ.

“Mayyit diazab dikarenakan tangis sebagian keluarganya, jika niyahah (meratapi kematian) menjadi kebiasaannya.”

 

Mayyit diazab dikarenakan meninggalkan keluarga, khususnya istri dan anak jahil, bodoh tidak mengenal syariat. Disinilah letak perintah Allah agar kita menjaga keluarga, khususnya anak dan istri kita dari api neraka.

 

Imãm Baihaqî berkata: Abû Nashr bin Qatãdah telah menceritakan kepada kami. Abû Manshûr An Nadhrawî telah menceritakan kepada kami. Ahmad bin Najdah telah menceritakan kepada kami. Sa’îd bin Manshûr. Abdullah bin Al Mubãrak telah menceritakan kepada kami dari Ma’mar dari Muhammad bin Hamzah dari Abdullah bin Salami Ia berkata:

” كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ بِأَهْلِهِ شِدَّةٌ أَوْ قَالَ: ضِيقٌ أَمَرَهُمْ بِالصَّلَاةِ وَتَلَا ” {وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا}

“Adalah Rasulullah jika keluarganya ditimpa kesulitan atau kesempitan beliau memerintahkan mereka untuk shalat dan beliau membaca: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (HR. Baihaqî dalam Syu‘aibul Imãn).

 

Metode Pendidikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Ada beberapa metode yang diterapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mendidik anak kecil. Sebagaimana yang gambarkan beberapa hadits tentang beliau dan metode pendidikan yang beliau terapkan. Di antara metode-metode tersebut beliau terapkan kepada anak tiri beliau, dan kepada cucu-cucu beliau, Hasan dan Husain. Berikut metode-metode tersebut.

 

Metode Nasehat

Dari Abû Hafsh ‘Umar bin Abî Salamah Abdullah bin Al Asad anak tiri Rasulullah berkata:

كنت غلاما في حجر رسول الله صلى الله عليه و سلم وكانت يدي تطيش في الصحفة فقال لي رسول الله صلى الله عليه و سلم : [ يا غلام سم الله تعالى وكل بيمينك وكل مما يليك ] فما زالت تلك طعمتي بعد ] متفق عليه

“Aku dahulu adalah anak kecil dibawah asuhan Rasulullah. Dan tanganku kesana-kesini menjelajahi ke semua sisi piring makan. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadaku: ‘Wahai anak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu. Dan makanlah makanan yang ada di depanmu.’ Lalu selanjutnya cara makanku selalu demikian.” (HR. Bukhãrî dan Muslim).

 

Metode Teguran Langsung

Dari Abu Hurairah, beliau berkata:

أخذ الحسن بن علي رضي الله عنهما من تمرة من تمر الصدقة فجعلها في فيه فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : [ كخ كخ ارم بها أما علمت أنا لا نأكل الصدقة ] متفق عليه

“Al Hasan putranya Ali mengambil sebiji kurma dari kurma hasil sedekah lalu ia memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah SW bersabda: “Kahk.. Kahk.. lemparkan (keluarkan) itu. Apakah kamu tidak tahu kalau kita tidak boleh memakan makanan sedekah.” (HR. Bukhãrî dan Muslim).

Pada riwayat yang lain: “Kita tidak boleh makan makanan sedekah.”

 

 

Metode Hukuman

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

[ مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع واضربوهم عليها وهم أبناء عشر وفرقوا بينهم في المضاجع ]

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada saat mereka berusia 7 tahun. Pukullah mereka lantaran mereka melalaikan shalat pada saat mereka berusia 10 tahun dan pisahkan tempat tidurnya mereka.” (hadits hasan diriwayatkan Abû Dãwud dengan sanad hasan).

Dari Abu Tsurayyah Sabrah bin Ma’bad Al Juhanî –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

[ علموا الصبي الصلاة لسبع سنين واضربوه عليها ابن عشر سنين ]

“Ajarkan anak-anak shalat ketika berumur 7 tahun dan pukullah ia jika melalaikan shalat ketika berumur 10 tahun.” (Hadits hasan diriwayatkan Abû Dãwud dan Tirmidzî. Beliau berkata: hadits hasan).

Dan Lafadz Abû Dãwud:

[ مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين ]

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika ia mencapai usia 7 tahun.”

 

Khatimah

Sungguh pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; khususnya dalam mendidik anak. Beliau adalah pribadi yang selalu memberikan perhatian besar daam mendidik anak, bahkan terlibat langsung dalam pendidikan anak. Mudah-mudahan kita dapat beruswah dengan pribadi mulia ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

(Sultan Serdang)

Selanjutnya baca:

MENUDUH SUAMI BERZINAH