Duniaekspress, 7 Februari 2018. – Al Somood, majalah berbahasa Arab yang resmi dipublikasikan Emarat Islam Afghanistan (Thaliban) menerangkan arti strategis jihad Emarat Islam Afghanistan dalam usaha membebaskan Palestina. Hal ini tertuang terutama dalam artikel: Jihaad Sya’b Afghaanistan: Ma’rakah Haqiiqiyyah li Tahriir Filishthin (Jihad Rakyat Afghanistan: Pertempuran Riil Untuk Membebaskan Palestina) yang termuat dalam edisi 142, Januari 2018.

Alasannya, negara Israel—yang menjajah Palestina—tidak akan mampu bertahan tanpa pendukung utamanya yaitu Amerika. Lemahnya Amerika juga melemahkan Israel, dan tumbangnya Amerika juga merupakan tumbangnya Israel. Lantaran perang Thaliban melawan Amerika di Afghanistan adalah untuk melemahkan dan menumbangkan Amerika, maka perang Thaliban pada hakikatnya merupakan perang riil dalam menumbangkan Israel dan selanjutnya membebaskan Palestina.

“Dari Amerika-lah Yahudi Israel menyandarkan seluruh kebutuhan pokok mereka demi melanggengkan penjajahan mereka terhadap Palestina, dan (lantaran Amerika juga) ia tetap mampu bertahan  dalam memusuhi negara-negara Arab yang mengelilinginya. Senjata Amerika merupakan senjata utama yang di pakai oleh penjajah Yahudi, dan karena itulah mereka bisa tampil sebagai militer terkuat  di banding seluruh militer bangsa-bangsa Arab,” lanjutnya.

“Harta Amerika yang terus digelontorkan dalam kas negara Israel, yang merupakan pondasi utama kekuatan ekonomi mereka. Sedangkan dukungan politik Amerika merupakan sebab utama kokohnya Israel dalam menghadapi undang-undang internasional apa pun. Pada akhirnya, peran Yahudi di Amerika merupakan unsur utama arah kebijakan dalam negeri dan luar negeri negara tersebut. Inilah yang menyebabkan Amerika dan Israel pada hakikatnya satu entitas. Oleh itu, sangat jarang sekali terjadi perbedaan pandangan secara mendasar antara kedua negara tersebut” tulis Al Somood.

“Oleh itu” lanjutnya, “Jihad rakyat Afghanistan melawan penjajah Amerika pada hakikatnya merupakan jihad melawan kompenen utama kekuatan Israel. Dalam waktu yang sama, keberadaan Israel di Afghanistan selalu berada di samping keberadaan Amerika. Jika dilihat secara mendalam hal ini merupakan suatu yang bisa dipastikan, dan itu terjadi dalam setiap aspek seperti militer, politik, dan ekonomi. Oleh itu, apa pun aktivitas penjajah Amerika di Afghanistan maka otomatis merupakan aktivitas Israel. Demikian juga sebaliknya, setiap kemenangan Jihadis dan setiap pukulan yang diarahkan kepada penjajah Amerika maka hal itu akan sampai terlebih dahulu pada jantung Yahudi sebelum sampai kepada jantung Amerika. Tak diragukan lagi bahwa Israel sangat ingin menjadikan Afghanistan sebagai Israel kedua di Asia Tengah, sebagaimana yang dinyatakan oleh salah seorang anggota kongres Amerika sebelum mereka terjun berperang di Afghanistan.”

Al Somood juga menambahkan bahwa di antara sebab utama keengganan Amerika hengkang dari Afghanistan yaitu adanya proyek Timur Tengah Baru (atau Timur Tengah Raya), yang juga belum terwujud secara sempurna hingga sekarang yang disebabkan beberapa halangan. Di antaranya yaitu ketidakmampuan penjajah Amerika untuk menundukkan rakyat Afghanistan sehingga menyebabkan gagalnya proyek Yahudisasi di sana.

Data kekalahan Amerika di Afghanistan selama 2017 menurut versi Taliban

Proyek Timur Tengah Baru merupakan proyek terwujudnya emperium Israel yang berdiri di atas negeri-negeri Arab, sehingga mengharuskan sebagian besar negeri-negeri tersebut berubah menjadi daerah-daerah koloni Israel. Juga di antara kendala yang menghalangi mulusnya proyek tersebut yaitu tereksposnya realita kekalahan Amerika di Afghanistan sehingga menyebabkan bangsa Arab bisa lebih berani menentang berlangsungnya proyek tersebut di atas negeri mereka.

Amerika di Afghanistan ibarat berdiri di atas besi panas seraya menanti terlaksananya proyek Yahudi di negeri Arab. Hal inilah di antara sebab terjadinya ketergesa-gesaan yang semberono dalam menjalankan langkah-langkah proyek tersebut, yang salah satu di antaranya pengakuan dari Amerika bahwa Al Quds (Yerussalem) sebagai ibukota Israel.

Ketergesa-gesaan itu menyebabkan gagalnya proyek yang memang belum memenuhi syarat-syarat keberhasilannya tersebut. Sampai kapankah Amerika mampu bertahan di Afghanistan sebelum terjadi gejolak di dalam negeri Amerika sendiri? Atau sampai kapankah bangsa Arab dan umat Islam mampu bangkit dan mempersiapkan perlawanan yang memadai untuk menggagalkan proyek Yahudi Raya tersebut.

Di samping perlawanan yang dilakukan bangsa Arab sendiri untuk mempertahakan negeri-negeri mereka, menurut Al Somood, bagaimana pun, perlawanan rakyat Afghanistan merupakan batu sandungan utama proyek Yahudisasi di wilayah-wilayah Arab. Amerika akan terus berusaha mempertaruhkan dirinya di Afghanistan hingga proyek Yahudi di negeri-negeri Arab selesai terlaksana.

Namun, kini Amerika sedang menuju kekalahannya di Afghanistan dan kehilangan kemampuannya untuk terus menjajah Afghanistan sehingga proyek Timur Tengah Baru pun tidak akan menuai keberhasilan. Oleh itu, jihad rakyat Afghanistan merupakan pertempuran riil dalam usaha menjatuhkan Amerika—lalu selanjutnya Israel—dan membebaskan Palestina dan Al Quds. (seraamedia.com)

Sumber: jihadology.net

 

Baca juga, TIDAK TERKALAHKAN DALAM BELASAN TAHUN BERPERANG, AS KEBINGUNGAN MENGHADAPI KEKUATAN THALIBAN