DENMARK LARANG CADAR BAGI MUSLIMAH, BAHKAN AKAN DIKENAKAN DENDA BAGI YANG MELANGGAR

Duniaekspress, 7 Februari 2018- Denmark akan menjadi negara Eropa selanjutnya yang melarang warganya mengenakan cadar di tempat umum. Bagi yang mengenakan, nantinya akan dikenakan sejumlah denda.

“Ini tidak sesuai dengan nilai masyarakat Denmark atau rasa hormat kepada masyarakat agar merahasiakan wajah saat bertemu di ruang publik,” kata Menteri Kehakiman Denmark, Soren Pape Poulsen.

Menurut Soren, dengan adanya pelarangan tersebut menunjukan bahwa masyarakat Denmark saling mempercayai satu sama lain. “Dengan adanya larangan, kita tunjukan bahwa di sini, di Denmark, kita menunjukkan kepada satu sama lain saling percaya dan menghargai dengan tidak menutup wajah ketika bertemu satu sama lain,” lanjut dia.

Hal ini telah didukung oleh Partai Rakyat Denmark. Bentuk dukungan tersebut telah diberikan sejak Oktober 2017 lalu. Meskipun demikian, cadar yang berkaitan dengan kostum suatu kegiatan diperbolehkan.

Nantinya, masyarakat yang mengenakan cadar bisa terkena denda sebesar 10 ribu krona atau sekitar Rp 22,5 juta jika melanggar peraturan tersebut berkali-kali. Selain Denmark, sejumlah negara di Eropa telah melaksanakan pelarangan ini. Negara tersebut adalah Prancis, Belgia, Belanda, Bulgaria dan negara bagian di Jerman.

Baca Juga: CANADA PAKSA MUSLIMAH LEPAS CADAR DAN HIJAB

Selain Denmark, pemerintah Canada juga menetapkan undang-undang baru yang melarang penggunaan cadar dan burqa. Dibawah UU ini pemerintah paksa muslimah di negara itu untuk melepas penutup seperti cadar dan burqa mereka untuk mengakses layanan publik, termasuk naik bus.

Bill 62, yang dikenal sebagai undang-undang netralitas agama, melarang pekerja publik dan mereka yang ingin mengakses layanan publik dari mengenakan penutup wajah, termasuk niqab dan burka. Pekerja publik yang dimaksud meliputi guru, pekerja rumah tangga dan dokter.

RUU tersebut diperkenalkan pada tahun 2015 namun ditunda setelah terjadi penembakan di sebuah masjid di Kota Quebec, di mana enam orang Muslim meninggal pada saat sholat pada 29 Januari.

Pemerintah ingin terus memisahkan antara negara dan agama dengan alasan untuk mengurangi kehadiran simbol-simbol keagamaan yang mencolok di depan umum. Hal ini dianggap sebagai nilai dasar Quebec bahwa negara tidak mempromosikan agama.