Duniaekspress, 9 Februari 2018. – Korps ke-209 Angkatan Darat Afghanistan dibantu Komando Afghanistan yang sangat terlatih, melakukan operasi ofensif di provinsi Kunduz, Afghanistan Utara. Dikutip dari LWJ serangan tersebut diklaim menewaskan antara 60 sampai 80 pejuang Taliban, namun Thaliban dengan cepat merebut kembali wilayah tersebut. Serangan seperti ini sudah berulang kali terjadi dimnana pasukan gabungan koalisi Barat dan rezim gagal mempertahankan wilayah dari serangan Thaliban.

Menurut komandan Korps 209, Sayed Qurban Musavi, operasi pembersihan di sejumlah desa di utara Kota Kunduz yang diperebutkan berlangsung sekitar seminggu. Koalisi lokal menyarankan untuk menambah serangan udara guna mendukung serangan tersebut. 

NATO mengeluarkan siaran pers terkait keberhasilan serangan tersebut. Siaran pers juga memasukkan rincian serangan serupa pada bulan Desember 2017 oleh unit yang sama di distrik Imam Sahib sekitar 70 kilometer utara Kota Kunduz, dekat perbatasan dengan Tajikistan. NATO mengklaim bahwa lebih dari 100 pejuang Thaliban terbunuh dalam serangan bulan lalu, sementara laporan lokal memperkirakan jumlah pejuang yang tewas berusia sekitar 75 tahun.

Kemenangan yang Rapuh

Bahkan ketika operasi berhasil menyingkirkan pejuang Thaliban dari medan perang, serangan balik mematikan Thaliban semacam ini mampu mengambil alih wilayah kontrol. Segera setelah kemenangan seharusnya berpihak ANSF di Kunduz, warga mengatakan bahwa Thaliban kembali memasuki wilayah tersebut untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Thaliban, melalui lengan media, mengklaim bahwa serangan balik telah dilakukan untuk menggagalkan kemajuan koalisi.

Inilah masalah yang sesungguhnya, bahwa tidak ada wilayah yang berhasil dikuasai pasukan koalisi kecuali Thaliban berpotensi untuk mengambil alih kembali. Sebaliknya, pertahanan wilayah oalisi hanya bertumpu pada pada komandan lokal yang tidak terorganisir dan pasukan yang kurang terlatih. 

Pasukan ini jauh lebih tidak mampu membangun infrastruktur pertahanan dan strategi untuk menangkis serangan Thaliban yang tangguh dan tanpa henti. Seperti yang terlihat di tempat lain di negara ini, seperti Kota Farah, pasukan lokal tidak mampu bertahan dalam stabilitas keamanan jangka panjang tanpa dukungan senjata federal.

Awal bulan ini NATO menyatakan bahwa pasukan Afghanistan dan Koalisi akan melakukan serangan pada tahun 2018, yang membangun kesuksesan 2017. Namun, dengan banyak serangan profil tinggi dari Taliban dan Negara Islam yang mengguncang negara itu bulan ini, Militer Afghanistan dan NATO tentu saja merasa tertekan untuk menunjukkan kemajuan kepada rakyat Afghanistan.

Hingga siaran pers minggu lalu, serangan yang dijanjikan Koalisi dan militer Afghanistan belum juga dilakukan. Tentu ini menjadi PR besar bagi koalisi dimana posisi pemerintah sekarang semakin banyak menjadi target serangan Thaliban. 

 

Sumber: Logwarjournal

 

Baca juga, MILITAN ISis DAN HIZB MENYERAH KEPADA IMARAH ISLAM AFGHANISTAN