Duniaekspress, 9 Februari 2018. – Deir Zour – Koalisi pimpinan AS mengatakan, Kamis (08/02), miiliternya dan sekutu lokal di Suriah meluncurkan serangan udara dan artileri menargetkan pasukan pendukung rezim Assad pada Rabu malam untuk menghadang serangan “yang tidak dapat dibenarkan” di dekat Sungai Efrat.

Seorang pejabat AS, yang berbicara tanpa menyebut nama, seperti dilansir Reuters, mengatakan bahwa pasukan pendukung Assad “mungkin berusaha mengendalikan ladang minyak di Khasham” di sebelah timur Sungai Efrat di provinsi Deir al-Zour.

Pasukan yang terlibat dalam serangan ini sekitar 500 militan yang didukung oleh artileri dan tank serta peluncur dan mortir multi-roket. Pejabat itu mengklaim, sedikitnya 100 pasukan penyerang tewas akibat serangan ini.

Media rezim Suriah mengatakan bahwa puluhan tewas dan luka-luka akibat gempuran koalisi AS. Sementara itu, seorang komandan milisi koalisi pendukung rezim Assad mengatakan bahwa jumlah korban di pihaknya hanya tujuh tewas dan 27 luka-luka.

Dalam sebuah surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diterbitkan oleh Kantor Berita Arab Suriah (SANA), Kementerian Luar Negeri Suriah menggambarkan serangan tersebut sebagai “kejahatan perang” dan menyerukan “pembubaran aliansi ini”.

“Kami menuntut (masyarakat internasional) untuk mengutuk pembantaian ini dan untuk menahan koalisi internasional yang bertanggung jawab atas hal tersebut,” kata kementerian tersebut.

Juru bicara Pentagon Dana White menekankan bahwa serangan yang diluncurkan pasukannya itu murni serangan bertahan.

“Kami tidak mencari konflik dengan rezim (Suriah),” katanya dalam sebuah penjelasan mengenai tanggapan koalisi terkait serangan itu dalam sebuah konferensi pers.

Namun insiden tersebut menyoroti meningkatnya ketegangan di Suriah di tengah laporan senjata kimia Suriah yang digunakan di bagian lain negara tersebut.

Pada bagiannya, Rusia mengatakan bahwa pasukan pendukung rezim itu mengalami serangan saat meluncurkan operasi pengintaian. Mereka tidak mengoordinasikan sebelumnya operasi itu kepada Rusia.

Rusia dan AS sendiri terus menjalin komunikasi dengan Rusia untuk mencegah pertempuran antara pasukan yang didukung masing-masing. Kesepakatan-kesepakatan antara keduanya untuk memuluskan kepentingan kedua pihak. (AB).

Sumber: Reuters

 

Baca juga, REZIM ASSAD SERANG WILAYAH GHOUTA DENGAN GAS KLORIN