Duniaekspress, 11 Februari 2018. – Jakarta – Pengamat Intelijen dan Pertahanan, Jaka Setiawan, menilai ulama kerap dijadikan objek operasi intelijen karena memiliki peran yang cukup besar di Indonesia. Hal itu ia kemukakan melihat fenomena orang diduga gila yang menyerang ulama baru-baru ini.

“Selama ini di Indonesia (ulama) memang punya peran besar, baik dalam politik elektoral (Pemilu) maupun politik keumatan. Ini menjadi psikologi war bagi ulama-ulama yang memobilisasi kesadaran umat untuk kembali berkiprah di tengah-tengah masyarakat, itu motifnya,” ungkapnya gamblang.

Jaka lantas menyoroti subjek penyerang ulama, yang dilakukan oleh orang gila. Menurutnya, pelaku tidak mungkin murni orang gila, melihat pola serangannya yang menargetkan ustadz.

“Jadi pertama kita bisa lihat secara detil, apakah pelaku benar orang gila atau tidak. Adapun pihak yang bisa melakukan pemantauan ini menurut saya adalah media Islam yang mengawal kasus ini dan juga dari pihak korban,” ungkapnya.

“Korban pun yang punya tim advokasi bisa melihat apakah pelakunya adalah orang gila, atau tidak. Kalau kejadian yang menimpa Almarhum ustadz Prawoto dari Persis kemarin kan, sudah diketahui bukan orgil, tapi murni kriminal,” katanya.

Menurut Jaka, tindakan yang dilakukan oleh pelaku, tidak mungkin terjadi tanpa ada pemicunya. “Kan gak mungkin tiba-tiba dia membunuh karena resek doang, kan ga mungkin. Di sinilah peran intelijen bermain,” tambahnya.

Jaka mengungkapkan, intelijen bisa saja mendoktrin orang yang kurang motivasi (orang gila,red) sehingga melakukan tindakan jahat.

“Ini sebenarnya cuma masalah perang opini, apakah dia orang gila. Faktanya di kasus Persis kemarin kan memang bukan orang gila. Kalaupun orang gila, ya banyak yang telah dilakukan dalam operasi-operasi seperti ini,” ungkap Jaka.

Untuk mendukung argumentasinya, Jaka kemudian mencontohkan operasi intelijen yang menggunakan orang gila.

“Jika saya punya infrastruktur, saya gampang, tinggal masukin anggota-anggota saya ke RSJ di seluruh Indonesia, lalu saya kasih anggota saya target untuk melakukan operasi, itu kan gampang dilakukan oleh intelijen, seperti itu mudah. Mudah banget, dan operasi seperti itu di intelijen bukan hal yang tabu,” ungkapnya.

Jaka menyebut kasus di Banyuwangi dengan motif dukun santet. “Tiba-tiba banyak muncul orang gila. Orang gilanya ketika ditanya menjawab, tapi ketika ditanya asalnya, tiba-tiba jadi gila. Dan ketika sudah selesai targetnya, tiba-tiba orang gila itu pada menghilang semua begitu saja,” tuturnya.

Dalam kasus sekarang ini, ia melihat pelakunya bukan intel organik, dalam artian anggota intel yang ditanam di RSJ untuk pura-pura gila.

“Saya melihat, kasus ini lebih kepada doktrin yang mungkin karena masalah ekonomi untuk kemudian orang yang melakukan tindakan kejahatan itu disogok uang, namun perlu juga kita buktikan teori ini,” ungkap Jaka.

Ia membandingkan kasus orang gila saat ini dengan pembantaian yang dilakukan orang gila di Banyuwangi pada 1998. Jika kasus terdahulu menggunakan intel berpura-pura menjadi orang gila atau intel organik, kalau yang terjadi saat ini menurutnya lebih kepada doktrin.

“Sama polanya dengan aksi terorisme. Terduga teroris tadinya orang biasa yang kemudian didoktrin untuk melakukan hal-hal ekstrem. Kalau ini kriminal yang saya rasa didoktrin juga dengan motivasi yang lain, dalam intelijen hal seperti itu bisa dilakukan,” ungkapnya.

sumber : Kiblat.net

 

Baca juga, PERMAINAN DI MEDIA MAINSTREAM PARA VETERAN INTELIJEN