Duniaekspress, 13 Februari 2018. – Salah satu tujuan yang dinyatakan oleh pasukan koalisi yang dipimpin oleh AS untuk menyerang Afghanistan pada tahun 2001 adalah untuk menggulingkan Taliban dari kekuasaannya dan membantu warga Afghanistan membentuk pemerintahan yang demokratis dan stabil. Tujuan utama menyingkirkan kelompok ekstremis  Taliban, adalah untuk mengalahkan terorisme yang dipelopori oleh jaringan Al-Qaeda, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan teroris 9/11. Al-Qaeda dikabarkan memiliki basis di Afghanistan.

Karena fokus utama pasukan koalisi adalah memberangus terorisme, ada baiknya menganalisis tujuan ini setelah menghabiskan waktu 17 tahun, dan mencari tahu kemajuan apa yang telah dicapai dalam mencapai tujuan ini.

 

Artikel ini akan membicarakan tentang korban jiwa dair rakyat sipil dan pengaruhnya terhadap strategi Afghanistan dan Amerika untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat Afghanistan, untuk mengalahkan terorisme. Pentingnya berbicara tentang korban sipil adalah relevan karena kampanye untuk memerangi terorisme terus mengakibatkan bertambahnya korban sipil secara signifikan. Reuters melaporkan bahwa otoritas militer AS mengadakan sebuah penyelidikan tentang sebuah video yang beredar luas di mana seorang tentara Amerika menembaki sebuah truk sipil di Afghanistan.

Kejadian tersebut adalah sebuah ironi, di mana AS adalah mitra pemerintah Afghanistan, yang seharusnya membantu pemerintah mereka untuk melindungi rakyat sipil dan mengalahkan Taliban.

Perang Afghanistan hingga saat ini merupakan perang terpanjang dalam sejarah Amerika, setelah memasuki  tahun ke-17. Dengan pengumuman Presiden Trump bahwa dia akan meningkatkan jumlah pasukan Amerika di Afghanistan, perang akan menjadi berlarut-larut untuk bertahun-tahun yang akan datang. Sepertinya belum terlihat ujungnya.

Untuk membantu kita memahami kemajuan yang dicapai oleh pasukan Amerika dalam mengalahkan Taliban di Afghanistan, Watson Institute dari Brown University telah melakukan studi komprehensif mengenai kampanye tersebut dan menghasilkan sebuah laporan terperinci. Menurut studi tersebut, perang melawan teror belum menghasilkan tujuan yang diinginkan untuk menghilangkan ancaman teroris.

Ketika mantan Presiden AS, George W Bush, meluncurkan “War on Terror”, negara sasarannya hanyalah Afghanistan. Namun kini, setelah 17 tahun berperang di Afghanistan, konflik telah semakin meluas. Bahkan, telah menyebar ke 76 negara, yang setara dengan 39 persen bagian dari planet ini.

Di Afghanistan, apa yang disebut perang melawan teror telah menimbulkan malapetaka. Perang ini telah mengubah seluruh negeri menjadi medan pertempuran dimana pembunuhan, ledakan, dan pemboman telah menjadi makanan sehari-hari.

Serangan udara terus meningkat tanpa ada akhir, menyebabkan kerusakan yang menyakitkan dalam prosesnya. Terlepas dari kampanye militer selama 17 tahun di Amerika, Taliban telah mendapatkan wilayah yang lebih banyak di Afghanistan.

Sekarang, sekitar 43 persen distrik di negara itu berada di bawah kendali Taliban, atau sedang diperebutkan oleh kelompok tersebut. Secara keseluruhan, Taliban mengancam 70 persen wilayah Afghanistan. Sangat menyedihkan, ISIS, yang telah dikalahkan di Suriah dan Irak, justru menyebar cepat di bagian timur Afghanistan.

ISIS merupakan bahaya serius bagi keamanan kelompok minoritas agama di Afghanistan yang menganut sekte Syi’ah. Kelompok ini telah membuktikan rasa pengecut dan kebrutalannya dengan menargetkan tempat ibadah Syiah, dan dengan membunuh sejumlah besar penganut Syiah.

Kelompok ini merupakan ancaman terhadap stabilitas, toleransi beragama dan struktur sosial negara tersebut. Sampai sekarang, belum terlihat adanya strategi yang jelas atau efektif dari pemerintah dalam memberantasnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah menjamurnya lebih banyak kelompok teror di kawasan ini. Menurut sebuah laporan terbaru dari Pentagon ada “lebih dari 20 kelompok teroris atau gerilyawan di Afghanistan dan Pakistan.” Kondisi  ini akan mendorong Afghanistan dan Pakistan ke arah ketidakstabilan dan kekacauan.

Perang melawan teror juga telah merugikan AS. Perang ini sangat berbiaya mahal, dengan anggaran yang telah dihabiskan sebesar 5,6 triliun dolar. Anggaran ini membebani pembayar pajak Amerika dan telah memberi kontribusi pada hutang negara yang telah mencapai 20 triliun dolar. Biaya ini semakin memberatkan untuk saat ini, saat infrastruktur Amerika hancur dan sangat membutuhkan renovasi, ketimpangan kesejahteraan sedang meningkat.

Premi asuransi kesehatan naik, menempatkan kesehatan banyak orang Amerika dalam bahaya. Pendapatan negara stagnan dan setiap tahun fiskal selalu mengalami defisit anggaran. Sehubungan dengan perkembangan ini, biaya untuk apa yang disebut sebagai perang melawan teror tampaknya tidak masuk akal dan boros. Uang yang dihabiskan untuk perang melawan teror yang gagal bisa digunakan untuk memperbaiki taraf hidup orang Amerika dengan menjaga kualitas pendidikan, kesehatan dan pekerjaan mereka.

Secara militer, perang juga mahal biayanya. Tentara yang kembali dari medan perang tersebut mengalami masalah mental dan psikologis seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD). Kondisi kesehatan mental ini, yang dipicu oleh pengalaman perang yang mengerikan, telah menjadi tantangan besar bagi keluarga para veteran yang mengidap PTSD dan untuk Kementerian Urusan Veteran. Bahkan, Kementerian Urusan Veteran ini cukup berantakan. Birokrasinya tidak efektif dan menjadi tempat yang paling tidak menarik untuk bekerja.

Departemen ini tidak hanya harus mengatasi banjir pasien yang mencari pengobatan dan kadang meninggal karena lama menunggu, tapi juga harus menghadapi 20 kasus bunuh diri per hari di antara para veteran.

Tragedi Korban Rakyat Sipil

Bagi orang Afghanistan, salah satu kelemahan dari perang melawan teror adalah tingkat korban jiwa dari rakyat sipil yang cukup tinggi. Tragedi ini merenggangkan hubungan mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai dengan Amerika. Isu tersebut menempatkan Karzai dalam konfrontasi dengan operasi militer Amerika / NATO.

Pasukan Amerika / NATO mengklaim bahwa mereka menargetkan militan dan teroris yang bersembunyi di antara warga sipil. Tapi collateral damage tak terhindarkan. Karzai telah membalas klaim anti-teror AS dengan menunjukkan bahwa para teroris tidak bersembunyi di antara warga sipil Afghanistan. Teroris datang dari luar perbatasan Afghanistan. Ia melawan stereotip Islamofobia ala Amerika. Karzai menyatakan bahwa siapa pun yang memiliki jenggot dan memakai sorban tidak secara otomatis menjadi teroris.

Pembelaan atas korban sipil juga menyokong citra Karzai. Orang Afghanistan mengira dia tidak sekuat yang seharusnya dia hadapi dalam masalah korban jiwa dari kalangan sipil. Tidak diragukan lagi, hal itu juga membuat orang Afghanistan cukup marah dan frustrasi. Berapa lama mereka seharusnya akan terus merasakan akibat dari perang melawan teror?

Tahun lalu saja terjadi peningkatan korban sipil sebesar 50 persen dari serangan udara Amerika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016. Menurut sebuah investigasi PBB, pada tahun 2017, setidaknya 205 warga sipil terbunuh dan 261 terluka oleh serangan udara. Pasukan udara Afghanistan juga terlibat dalam serangan tersebut. Pasukan koalisi seharusnya menargetkan kelompok teror dan melindungi warga sipil. Namun sebaliknya, pasukan koalisi juga membunuh orang Afghanistan.

Dikotomi ini tidak bisa dipahami orang Afghanistan. Label perang melawan teror tidak mewakili kenyataan di lapangan. Pembunuhan yang tidak adil ini tidak membantu memenangkan hati dan pikiran orang-orang Afghanistan. Mereka membutuhkan perlindungan dan dukungan, terutama dukungan intelijen. Mereka ingin negara mereka bebas dari perang proxy, kompetisi regional, dan peperangan. Mereka membutuhkan dukungan politik untuk memerangi terorisme, yang berasal dari luar Afghanistan.

Dengan mengamati situasi terakhir “perang melawan teror” yang telah berusia 17 tahun di Afghanistan, setiap pengamat dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa strategi AS tidak tepat. Bahkan belum mencapai tujuannya. Sebaliknya, tujuannya menjadi kabur. Setelah sekian tahun, pengamat kritis akan mengajukan pertanyaan ini: untuk apa perang di Afghanistan?

Jika strategi tersebut dapat dicapai, dan dengan semua sumber daya yang ada di Amerika Serikat, tujuan perang melawan terorisme seharusnya tercapai sekarang. Tapi teror belum menurun, bahkan menjadi lebih mematikan, menyebabkan lebih banyak korban dan menghancurkan lebih banyak nyawa. Strategi militer AS untuk menggulung Taliban dan menghapuskan terorisme belum berhasil. Perang ini telah membunuh lebih banyak warga sipil daripada teroris.

Satu-satunya cara untuk mengatasi ancaman teror di Afghanistan adalah mencari solusi politik. Terorisme adalah taktik yang digunakan oleh kelompok teror untuk mencapai tujuan politik mereka. Jadi, seseorang perlu mengatasi penyebab dasar taktik, mengidentifikasi penyebab yang mendorong terjadinya kekerasan teroris, memahaminya dan menghasilkan solusi yang lebih efektif. Keinginan politik, tekad yang kuat, dan kejujuran diperlukan untuk mencapai tujuan. Sayangnya, faktor-faktor ini hilang sejak dari permulaan perang melawan teror. (SM)

 

Sumber: www.counterpunch.org

 

Baca juga, THALIBAN MAMPU DENGAN CEPAT AMBIL ALIH WILAYAH KOALISI