Duniaekspress, 14 Februari 2018. – Banyak orang menganggap model baru perjuangan pemuda Palestina, umurnya baru 24 tahun, Ahmad Nashr Jarrar asal Wadi Barqin, Jenin Barat, Utara Tepi Barat, menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya, sebagai estafet bagi panji perlawanan.

Dua model pemuda berbeda usia, menjadi contoh dari berbagai model perlawanan, dan sumber inspirasi bagi generasi muda. Pertama, Ahed Tamimi yang berani menampar tentara Israel, dan Ahmad Nashr Jarrar yang membuat tentara dan intelijen Israel murka.

Pengamat urusan zionis, Muawiyah Musa menyebutkan, apa yang dikhawatirkan pihak intelijen dan keamanan Israel adalah menciptakan model yang menjadi sumber inspirasi bagi lainnya, sehingga mereka berupaya mengakhiri fenomena ini, karena mengetahui bahayanya lebih dibandingkan lainnya.

Ratusan pemuda di Barqin dan Jenin terlibat dalam bentrokan berdarah dan sengit menghancurkan buildozer dan kendaraan tempur Israel yang tengah memburu Ahmad, seruan yang dilantunkan para pemdua adalah, Senjata dibalas senjata, tembakan dibalas tembakan, sebuah apresiasi untuk Ahmad Jarrar.

Setelah operasi pembunuhan terhadap pendeta zionis dekat Nablus, Ahmad melakukan pekerjaan rutinnya, menjual kain dan gorden kepada para pelanggannya, dan mendengar informasi seperti orang lainnya, dan dengan tenang mampu mengelabui intelijen Israel.

Dan pada saat yang sama, tak ada seorangpun yang mengira, Ahmad secara individu sibuk dengan perdagangan, jual beli kendaraan, tetapi dia merupaka pejuang militer.

Melihat kondisi interksi warga dengan dirinya, tak terlihat perbedaan mencolok, ia hadir dalam aksi unjuk rasa dan mengiringi jenazah ke pemakaman, dan hadir bersama mereka di setiap kegiatan.

Dari Yatim sampai buronan Israel

Ahmad hidup sebagai yatim bersama saudara dan saudarinya, setelah Israel membunuh orang tuanya, komandan Brigade al-Qassam, Nasr Jarrar, yang menjadi simbol perlawanan di Palestina, khususnya di Jenin.

Ahmad tumbuh dalam bimbingan ibundanya, Ummu Shuhaib, yang hidup sebagai buronan bersama suaminya, dan saat ini bersama puteranya. Sang ayah selamat dari berberapa percobaan pembunuhan, dan sejarahnya seperti terulang oleh anaknya yang selamat sampai saat ini dari tiga kali upaya percobaan pembunuhan, yang pertama kalinya terjadi di tempat yang sama.

Perbandingan sejarah, Ahmad setelah terungkap bekerja di show room mobil dekta Jenin, seakan ia menunggu saat bentrokan, dan membuatnya mampu memporak-porandakan serangan satuan khusus Israel, yang menyebabkan serangan udara ke rumahnya, dan menewaskan orang tuanya pada awal Intifadah al-Aqsha, setelah terungkap sebagai penanggung jawab atas ledakan kendaraan militer di Khadirah, dan 17 tahun kemudian Ahmad sang bocah kecil melanjutkan kehidupan ayahnya, membawa panji perlawanan.

Sejumlah media memberitakan upara percobaan pembunuhan yang gagal untuk ketiga kalinya terhadap Ahmad, dan sejak itu Jenin tak pernah tertidur karena serbuan brutal pihak Israel, penangkapan hampir setiap hari, tak ada rekan maupun kerabat Ahmad kecuali ditangkap Israel.

Meski semua percaya penuh, bahwa Ahmad sang buronan bisa saja menjadi syahid, atau korban luka ataupun ditangkap Israel kapan saja, namun pesan penting yang ingin disampaikan Ahmad telah sampai, bahwa sikap diam di Tepi Barat telah berakhir dan tak akan pernah kembali. [PIP]