Antara Khawarij Zaman Dahulu dan Khawarij Kontemporer

Syeikh Aiman Adz Dzawahiri

Duniaekspress, 16 Februari 2018. – Pembunuhan terhadap Abu Khalid as-Suri rahimahullah telah mengungkap sebagian sisi dari kekejian orang-orang ekstrim takfiri masa kini. Antara mereka dengan orang-orang Khawarij zaman generasi awal terdapat sejumlah perbedaan:

Orang-orang Khawarij generasi awal mengumumkan dan membanggakan operasi mereka. Setelah menebas Ali bin Abi Thalib dengan pedangnya, Abdurrahman bin Muljam berteriak, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu wahai Ali, bukan pula milik kawan- kawanmu.”

Adapun mereka ini membunuh dan menyerang secara sembunyi-sembunyi, lalu mereka tidak mendapati pada diri mereka keberanian seperti keberanian orang-orang Khawarij generasi awal. Sebab mereka adalah orang-orang pengecut, tidak berani mengumumkan perbuatan yang mereka lakukan, khawatir kalau hal itu akan menyingkap wajah mereka yang sebenarnya. Para pembunuh Syaikh Abu Khalid As-Suri rahimahullah adalah orang-orang pengecut. Mereka memprovokasi orang-orang lain yang bisa diperdaya untuk melakukan pembunuhan, namun mereka sendiri menyembunyikan perbuatan yang mereka lakukan.

Selain perbedaan ini yang disingkap oleh kasus pembunuhan terhadap Syaikh Abu Khalid As-Suri rahimahullah, terdapat sejumlah perbedaan lainnya antara Khawarij generasi awal dan Khawarij zaman sekarang:

Orang-orang Khawarij terdahulu meyakini kebohongan adalah kekafiran. Adapun orang-orang takfiri ekstrim yang baru, berbohong adalah kebiasaan mereka. Para pemimpin mereka tidak merasa malu untuk berbohong bahkan atas diri mereka sendiri. Sampai-sampai salah seorang di antara mereka mengakui suatu perkara, kemudian mengingkari perkara tersebut di depan publik tanpa malu-malu.

Orang-orang Khawarij terdahulu meyakini pembatalan perjanjian secara sepihak adalah kekafiran. Adapun orang-orang takfiri ekstrim yang baru, mereka memandang berloncatan dari satu baiat kepada baiat lainnya adalah sebuah kepiawaian berpolitik, dalam upaya mereka untuk menggapai ambisi meraih kekuasaan.

Orang-orang Khawarij terdahulu mengkafirkan pelaku kemaksiatan. Adapun orang-orang takfiri ekstrim yang baru, mengkafirkan atas dasar kebohongan dan berita palsu yang mereka karang- karang, bahkan atas dasar ketaatan (yang dilakukan oleh orang lain yang mereka kafirkan, edt). Orang-orang Khawarij terdahulu, mereka mengkafirkan atas dasar akidah. Adapun orang-orang takfiri ekstrim yang baru, takfir bagi mereka adalah perkara politik yang tergantung kepada keuntungan. Barang siapa sependapat dengan mereka, atau bergabungnya ia dengan barisan mereka akan memberikan manfaat, niscaya mereka memujinya. Bahkan mereka berulang kali meminta dirinya untuk menyebut-nyebut mereka dan memuji mereka, agar mereka mendapatkan posisi di hadapan manusia.

Adapun barang siapa tidak sependapat dengan mereka, maka mereka berdusta atas nama dirinya, mencaci makinya, dan mengkafirkannya. Hal itu sebagai wujud mengikut manhaj takfir, lalu tafjir (peledakan), lalu menjauhkan, lalu menguasai dengan sewenang-wenang.

Demikian pula, Majalah Dabiq (majalah pro ISIS, edt.) mengingatkanku akan buku berjudul “Hidayatu Rabbil ‘Alamien” tulisan Abu Abdurrahman Amin. [2]

Peristiwa peledakan Masjid Ariha setelah dibebaskan oleh mujahidin dan pembunuhan terhadap orang- orang yang melaksanakan shaum di dalamnya, mengingatkanku akan serangan Al-Khulaifi dan para pengikutnya yang menewaskan orang-orang yang sedang melaksanakan shalat jamaah di Masjid Ansharus Sunnah di Omdurman (Sudan). Lalu mereka melakukan serangan terhadap Madhafah (Kantor Penerimaan Tamu) Syaikh Usamah bin Ladin di Khartum (Sudan). [3]

Ketika Al-Khulaifi ditanya tentang alasannya melakukan serangan terhadap Masjid Ansharus Sunnah, ia mengatakan bahwa masjid itu adalah tempat ibadah orang-orang musyrik. Ketika Al-Khulaifi ditanya kenapa ia menyerang Madhafah Syaikh Usamah bin Ladin, ia menjawab bahwa tempat itu lebih menyesatkan umat manusia, karenanya ia memulai operasinya dengan lebih dahulu menyerang tempat itu.

Di Peshawar, orang-orang takfiri ekstrim mengkafirkan saya karena saya tidak mengkafirkan mujahidin Afghanistan. Kemudian mereka mengkafirkan Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi karena beliau tidak mengkafirkan saya.

Dahulu mereka itu mengklaim berada di atas madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mengklaim tidak mengkafirkan atas dasar kemaksiatan. Hal itu seperti halnya klaim-klaim kelompok Al-Baghdadi (ISIS, edt), yang mengklaim kelompoknya berada di atas madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, namun kelompoknya mengkafirkan manusia atas dasar kepalsuan dan kebohongan, juga dengan hal-hal yang bukan amal kekafiran, bahkan mengkafirkan manusia yang mengerjakan amal-amal ketaatan, mengikuti Al-Qur’an dan as-sunnah.

Contohnya, mereka mengkafirkan Abu Sa’ad al-Hadhrami rahimahullah (mantan komandan Jabhah Nushrah dan ISIS di propinsi Raqqah, kemudian divonis murtad dan diekesekusi mati oleh ISIS, edt) karena ia mengambil baiat dari FSA untuk berjihad.

Mereka juga mengkafirkanku karena menurut keyakinan mereka, aku mengikuti pendapat mayoritas manusia dan aku tidak kufur kepada thaghut, karena aku mendukung revolusi rakyat yang terzalimi dan aku berbicara dengan lemah lembut kepada Muhammad Mursi yang ditawan (oleh rezim Mesir, edt), semata-mata karena saya mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam berdakwah. Penyebab yang sebenarnya dari kepalsuan dan kebohongan mereka terhadap diriku ini adalah karena saya mencegah ketamakan mereka, dalam upaya menghentikan pertumpahan darah kaum muslimin..

Wallahu A’lam

Baca juga, GHULUW BIANG KEROK KESESATAN KHAWARIJ