Duniaekspress, 17 Februari 2018. – Pada tanggal 6 Desember 2017, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan dan mengakui bahwa al-Quds (jerusalem) menjadi ibu kota negara Israel, dan akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke ibu kota baru tersebut. Tidak mengherankan jika langkah nekat Presiden AS disambut ketidaksetujuan oleh sebagian besar pemimpin politik di seluruh dunia termasuk Emmanuel Macron (Prancis), Theresa May (Inggris), dan Vladimir Putin (Rusia).

Tanggapan yang lebih kuat datang dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang pada tanggal 13 Desember, di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam (OKI), meminta masyarakat internasional untuk mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina dan kepada AS agar menarik diri dari proses perdamaian.

Pemimpin Hizbullah, Hasan Nashrullah, menyerukan intifadhah ketiga dan agar negara-negara Arab meninggalkan proses perdamaian sepenuhnya. Bahkan kalangan White Supremacists di AS mendekat ke kibor untuk mengutuk keputusan Trump tersebut di beberapa forum internet. Namun, tidak ada yang merespons dengan nada yang lebih kritis daripada kelompok Sunni Jihadi di seluruh dunia.

Dua hari berturut-turut, pada tanggal 7-8 Desember, Liwa’ At-Tauhid dari Brigade An-Nashir Shalahuddin,Palestina dinilai bertanggung jawab atas roket yang diluncurkan ke wilayah pendudukan Israel. Adapun Hai’ah Tahrir Asy-Syam (HTS), yang dianggap bekas afiliasi Al-Qaidah di Suriah, memposting gambar demonstrasi berskala besar melawan AS dan Israel di Idlib, Suriah. Komunitas Sunni Jihadi yang lebih luas juga menanggapi dengan cara yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya dengan tujuan untuk memobilisasi massa Muslim.

Dari Al-Qaidah hingga the Islamic State (IS), dan dari HTS ke Thaliban Pakistan, semua telah menanggapi langkah Trump. Semua pernyataan ini telah dipublikasikan di Telegram, namun dalam artikel ini juga merujuk ke kompilasi yang dikumpulkan kelompok pengamat SITE. Artikel ini ditujukan untuk melihat tanggapan para jihadis atas pengakuan Trump terhadap Yerusalem dan sejauh mana ancaman diskursif mereka akan diterjemahkan dalam bentuk aksi.

Al-Qaidah dan Afiliasinya

Hanya berselang lima hari setelah keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Al-Qaidah Pusat dan seluruh afiliasi resminya segera memublikasikan pernyataan-pernyataan dukungan bagi Palestina. Al-Qaidah menyerukan Muslimin untuk melakukan mobilisasi dan serangan serta memberikan dukungan dalam bentuk apa saja yang disyariatkan. Sebagai tambahan atas berbagai pernyataan tersebut, banyak materi wawasan yang mendukung Palestina juga diunggah oleh kanal-kanal Telegram yang berafiliasi ke Al-Qaidah.

Menggarisbawahi arti penting Palestina dan simbolisasi Yerusalem bukan hal baru. Usamah bin Ladin, pendiri sekaligus pemimpin pertama Al-Qaidah, sebelumnya telah berbicara panjang lebar tentang Palestina dalam fatwanya yang terkenal pada tahun 1996, yang menekankan bahwa jihad adalah hal yang mendasar dalam rangka membebaskan sepenuhnya Palestina dari pendudukan.

Sejak saat itu Palestina dan Yerusalem ditampilkan secara teratur dalam retorika Al-Qaidah, namun kelompok tersebut belum pernah benar-benar berhasil mengubah fokus diskursif ini menjadi aksi utama. Bisa jadi karena belum memiliki kemampuan optimal atau mungkin Palestina tetap menjadi alasan utama untuk memobilisasi orang sebagai target akhir, meskipun belum menjadi sasaran langsung.

Pada bulan Mei 2008 dan Maret 2009, Usamah bin Ladin kembali berbicara secara ekstensif tentang penyebab Palestina dan menekankan bahwa hal itu tetap menjadi tujuan utama gerakan Sunni Jihadi. Akhirnya, dalam suratnya kepada ‘rakyat Amerika’, yang diterbitkan sebagai bagian dari dokumen Abbottabad yang disita setelah serangan di mana Usamah gugur, ia secara eksplisit mengungkapkan ancaman bahwa serangan terhadap Amerika Serikat akan berlanjut selama Palestina belum bebas.

Pemimpin Al-Qaidah saat ini, Aiman Azh-Zhawahiri, juga menyertakan isu Palestina dalam pernyataannya terdahulu. Dalam pidato bulan November 2015 yang berjudul “Mari Bersatu untuk Membebaskan Al-Quds”, Azh-Zhawahiri mengklaim bahwa mujahidin harus menyerang sekutu-sekutu Israel dan berjuang untuk merebut kembali Palestina. Pada bulan Januari 2016, Hamzah bin Ladin—salah satu putra Usamah dan tokoh Al-Qaidah yang semakin populer dan terkemuka—juga meminta mujahidin di medan jihad untuk membentuk sebuah pasukan dan dari Suriah memasuki Palestina untuk membebaskan Yerusalem.

Dalam waktu yang berdekatan, beberapa hari setelah pengumuman Trump, dirilis pernyataan Hamzah yang baru tentang Palestina dirilis, meskipun kemungkinan besar direkam sebelum pengumuman Trump tersebut dan karena itu tidak terkait langsung dengannya. Namun, Hamzah tetap menambahkan narasi Al-Qaidah bahwa rezim-rezim Arab sejak awal punya andil yang memungkinkan pendudukan Palestina.

Segera setelah pengumuman Trump, pernyataan diterbitkan oleh Kepemimpinan Pusat Al-Qaidah (yang berarti mewakili sikap Aiman Azh-Zhawahiri) dan afiliasinya. Pernyataan ini termasuk yang paling menarik karena menawarkan kritik terkuat atas keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem dan bagaimana jihadis dan Muslim pada umumnya harus meresponsnya. Sebagai pembuka, pernyataan Al-Qaidah dimulai dengan penegasaan bahwa “Amerika dan mereka yang tinggal di Amerika tidak akan pernah bermimpi tentang perdamaian sampai kita merasakannya sebagai realitas di Palestina” dan melanjutkan bahwa cara terbaik dan termudah untuk menghadapi “Firaun” hari ini (Amerika Serikat) adalah dengan jihad.

Juga, “Seperti halnya kalian memerangi kami maka kalian juga akan kami perangi. Demikian pula seperti Anda mengebom kami, Anda juga akan dibom, dan pihak yang memulai permusuhan adalah yang patut disalahkan.” Ide ‘pembalasan’ ini menggemakan retorika al-Qaidah sebelumnya tentang Palestina, mungkin karena ini adalah isu yang bisa bergema secara luas di kalangan umat Islam.

Menariknya, Kepemimpinan Umum Al-Qaidah tidak secara eksklusif melihat pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel hanya dari sisi yang negatif. Mereka juga melihatnya sebagai potensi untuk memobilisasi lebih luas dukungan baru. Meskipun organisasi tersebut secara umum menggambarkannya sebagai agresi terang-terangan terhadap umat Islam, di mata Al-Qaidah, langkah tersebut berpotensi memicu orang Muslim untuk bergabung dalam perjuangan mujahidin.

Serangan Muslimin, menurut kepemimpinan al-Qaidah, perlu menargetkan tiga kelompok: Israel, Amerika Serikat, dan rezim-rezim Timur Tengah, dan termasuk yang paling utama di antara mereka adalah penguasa Kerajaan Arab Saudi yang telah menjadi pusat dalam memfasilitasi dukungan bagi aliansi ‘Zionis-Salibis’. Bagi Azh-Zhawahiri, dan Al-Qaidah secara umum, keputusan Trump datang pada waktu yang agak tepat, karena Al-Qaidah dan bekas afiliasinya Suriah sedang terperangkap dalam konflik.

Oleh karena itu, dari pernyataan di atas, Kepemimpinan Umum Al-Qaidah menggunakan kesempatan tersebut untuk meminta mujahidin melupakan perselisihan dan agar mereka bersatuan (yang mengacu kepada konflik Al-Qaidah dengan kelompok jihadis lainnya, termasuk baru-baru ini dengan Jabhah An-Nushrah, bekas afiliasinya yang membentuk Hai’ah Tahrir Asy-Syam). “Bersiaplah, baik dalam keadaan ringan atau berat, untuk medan pertempuran jihad, dan siapkan kekuatan maksimalmu. Satukan barisan kalian, koordinasikan upaya kalian, lupakan perselisihan kalian, bertobatlah kepada Rabb kalian, dan mohon ampunlah atas dosa-dosa kalian.”

Akhirnya, Al-Qaidah menyerukan kepada umat Islam untuk “menyatakan sebuah perang tanpa henti melawan bangsa-bangsa kafir yang telah berkumpul untuk memerangi kalian dari setiap sudut. Konsentrasikanlah usaha kalian melawan Gembong Kekafiran, hingga kesulitan dengan masalahnya sendiri, intensifkan serangan kalian terhadapnya sampai ia menahan diri dari agresinya, karena akhirnya sudah dekat, dan kemenangan hanyalah membutuhkan kesabaran sesaat.”

Seluruh afiliasi resmi Al-Qaidah juga merilis pernyataan dukungan yang sama atas isu Palestina sekaligus menyerukan serangan, meskipun dengan intonasi tekanan yang tidak sekuat Kepemimpinan Pusat. Sejauh ini hanya Al-Qaidah di Anak Benua India (AQIS) yang belum memublikasikan pernyataannya. Adapun sehari setelah pernyataan Al-Qaidah Pusat (AQC), Al-Qaidah di Jazirah Arab (AQAP) menawarkan pandangannya atas situasi yang ada. Menggemakan ulang pernyataan dari hari sebelumnya, AQAP menjelaskan bagaimana keputusan Trump mengambarkan bahwa Amerika Serikat adalah pelayan bagi kepentingan Yahudi serta menyoal normalisasi hubungan antara rezim-rezim Timur Tengah dengan Israel.

Sedikit lebih ringkas daripada pernyataan AQC, AQAP memfokuskan seruannya kepada mujahidin agar melupakan perselisihan mereka dan agar mendukung Palestina. Pada hari yang sama, Al-Qaidah di Maghrib Islami (AQIM) memublikasikan pernyataannya yang menggarisbawahi bahwa keputusan Trump disampaikan hanya beberapa hari setelah peringatan seratus tahun Deklarasi Balfour (atau tepatnya sebulan lebih sedikit) sebagai menjadi kado “yang tidak sepantasnya”.

Sambil mempromosikan slogan “Di Al-Quds Kita Bertemu”, AQIM menyatakan bahwa Palestina perlu dijadikan sebagai isu sentral bagi mujahidin dan setiap Muslim semestinya menunjukkan dukungannya dengan berbagai sarana yang ia bisa, termasuk dukungan selain dalam bentuk berperang di medan jihad. Dua hari kemudian, pada tanggal 9 Desember 2017, Harakah Syabab Al-Mujahidin (Asy-Syabab) memublikasikan sebuah pernyataan panjang.

Dimulai dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Hari Kiamat tidak akan tiba hingga Muslimin memerangi Yahudi dan Muslimin akan membunuh mereka sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di belakang batu atau pohon, sampai-sampai batu atau pohon mengatakan, ‘Wahai Muslim, atau Hamba Allah, ini ada seorang Yahudi di belakangku. Datang dan bunuhlah ia, kecuali pohon Gharqad, karena itu adalah pohon orang-orang Yahudi.”

Jadi, afiliasi-afiliasi Al-Qaidah mengulangi janji yang pernah disampaikan oleh Usamah bin Ladin—untuk membebaskan Palestina—dan menyerukan kepada Muslimin untuk menunaikan janji tersebut, mengingat sekarang tidak ada lagi alasan untuk menghindar. Sekaligus merujuk kepada gerakan dan front jihad yang aktif di sekeliling Israel, seperti di Syam, Afrika Utara, termasuk Somalia, Asy-Syabab menekankan bahwa medan-medan tempur dan kamp-kamp pelatihan saat ini menjadi lahan subur yang siap panen untuk pertempuran membebaskan Yerusalem.

Respons resmi Al-Qaidah juga muncul pada 11 Desember ketika Jamaah Nushrah Al-Islam wa Al-Muslimin (JNIM), yang merupakan hasil penggabungan sejumlah jamaah jihad di Sahil yang sebelumnya beraliansi dengan Al-Qaidah, menyampaikan dukungannya untuk Palestina. Pernyataan tersebut, meskipun isinya ringkas, menyerukan kepada umat Islam agar bersatu melawan musuh dan—sebagaimana Asy-Syabab—mengulang-ulang kata-kata Usamah bin Ladin: “Kami bersumpah kepada Allah, yang jadikan langit tinggi tan pilar-pilar, baik Amerika maupun mereka yang tinggal di Amerika, tidak akan bermimpi aman sebelum kita merasakannya sebagai kenyataan di Palestina dan sebelum seluruh pasukan kafir meninggalkan negeri Muhammad.”

Ideolog yang oleh media dan pengamat Barat dinilai berafiliasi Al-Qaidah juga menyampaikan pandangan mereka atas keputusan Trump. Dengan berpakaian seragam militer, Dr. Abdullah Al-Muhaisini, ulama Saudi yang dikenal dekat dengan Al-Qaidah, berseru lantang, “Trump berkata, dengan segala keangkuhannya, ‘Amerika menerima Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota Israel’. Biarkan mereka tetap berandai-andai! Yerusalem adalah ibu kota Muslim! Itu ada di hati kaum Muslimin. Tidak mungkin untuk menghapusnya. Tidak mungkin Al-Quds menjadi ibu kota Israel, sementara kaum Muslimin masih memiliki mata yang bisa melihat.”

Adapun Abu Qatadah Al-Filasthini dan Abu Muhammad Al-Maqdisi, dua sosok yang bisa dibilang termasuk ideolog jihadi berpengaruh yang masih hidup, juga memberikan komentar. Kedua ulama tersebut mengungkit keputusan Trump dan keterlibatan rezim Arab. Bagi Al-Maqdisi, keputusan tersebut juga menunjukkan kegagalan gerakan jihad karena jelas tidak memberikan tekanan yang cukup besar kepada Amerika Serikat atau Israel untuk menghindari tindakan berani tersebut.

Abu Qatadah menertawakan prakarsa Trump sebagai ‘proyek Kushner’ yang mengacu kepada menantu Yahudi Presiden Trump, yang bertindak sebagai penasihat seniornya untuk urusan Timur Tengah.

Pernyataan sikap Al-Qaidah juga banyak diedarkan oleh kalangan jihad di media sosial. Pernyataan lama di Palestina oleh tokoh-tokoh Al-Qaidah yang berpengaruh seperti Usamah bin Ladin, Aiman Azh-Zhawahiri, dan Abu Yahya Al-Libi telah beredar secara massal. Kelompok-kelompok jihadi juga membanjiri kanal Telegram dengan poster-poster karakteristik kompleks Al-Masjid Al-Aqsha serta pesan untuk mendukung perjuangan Palestina. Simpati isu penyebab Palestina juga ditunjukkan dalam bentuk nama saluran dan gambar profil akun.

Saluran Telegram Al-Qaidah yang dikelola simpatisan, Al-Firdaus, segera mengubah namanya menjadi termasuk Yerusalem, sementara tokoh berafiliasi al-Qaidah terkemuka beralih ke gambar profil yang menunjukkan Dome of the Rock. Dari karakter yang lebih operasional, di beberapa saluran Telegram simpatisan Al-Qaidah, dimuat ulang panduan setebal 52 halaman tentang bagaimana melakukan serangan lone wolf di Amerika Serikat, yang awalnya ditulis oleh Abu Abdil Karim Al-Gharbi pada bulan April 2017.

Tulisan itu diposkan ulang pada tanggal 6 Desember untuk mempromosikan serangan baru terhadap AS. Upaya ini menunjukkan bahwa Palestina dan Yerusalem tetap menjadi isu utama dalam hati nurani jihadis, meskipun mereka—mungkin—masih merasa sulit untuk menerjemahkannya ke dalam tindakan. Seperti yang terlihat sejauh ini, hanya insiden terisolasi yang terjadi, tampaknya tidak ada yang terburu-buru memobilisasi jihad secara keseluruhan.

Terakhir, penting disimak pernyataan Hai’ah Tahrir Asy-Syam (HTS), yang didirikan oleh bekas cabang resmi Al-Qaidah di Suriah, yaitu Jabhah An-Nushrah alias Jabhah Fath Asy-Syam. HTS memublikasikan pernyatan berbahasa Arab di kanal Telegram pada 7 Desember 2017. Kelompok tersebut mendeklarasikan bahwa “aliansi Salibis-Zionis” berusaha menunggangi kebangkitan kaum Muslimin yang melancarkan revolusi dan pengkhianatan rezim-rezim penguasa. Aliansi tersebut berusaha membajak dan manuver yang dilakukan oleh Amerika adalah mencitrakan diri sebbagai sponsor proses perdamaian.

HTS juga menekankan bahwa pada dasarnya “apa yang direbut paksa dengan kekuatan hanya bisa direbut kembali dengan kekuatan” dan bahwa “mimpi negoisasi dan ilusi perdamaian” telah sirna. Alasan mendasarnya karena “kaum Muslimin sedang teralihkan perhatiannya dengan revolusi dan pengundur-unduran serta pengkhianatan rezim-rezim yang menguasai mereka, (dan bahwa aliansi Tentara Salib-Yahudi) mengambil keuntungan (…) untuk meloloskan keputusan mereka baru-baru ini”.

Hai’ah Tahrir Asy-Syam melihat masalah Palestina sebagai “masalah bagi semua Muslimin yang jujur dan bebas di seluruh dunia.” Namun, “Jalan menuju Al-Quds tampaknya adalah jalan melalui setiap kota Sunni di Syam. Pada saat yang sama ketika Bani Isra’ill sedang menikmati hidup dalam damai, kota-kota di Suriah sedang menderita bencana karena dihancurkan oleh rezim dan sekutu-sekutunya.” Tampaknya HTS mengisyaratkan perangnya sendiri melawan rezim Suriah sebagai prioritas awal dalam pesannya, tetapi dengan menarik benang merah; bahwa Yerusalem akan dibebaskan melalui Suriah.

 

Sumber:  icct.nl

 

Baca juga, PERNYATAAN AL-QAIDAH, ATAS ISRAEL YANG MENCAPLOK AL-QUDS DIJADIKAN SEBAGAI IBUKOTA NEGARANYA