Duniaekspress, 21 Februari 2018. –  Baghdad – Pengadilan Iraq di ibukota Baghdad, Senin (19/02), memvonis mati seorang wanita warga negara Turki atas tuduhan bergabung Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS). Sedikitnya sepuluh wanita lainnya dari berbagai warga negara divonis seumur hidup.

Mereka didakwa dengan pasal anti terorisme. Baghdad sendiri telah memvonis mati ratusan narapidana dengan pasal ini. Mayoritas warga Sunni.

Sehari sebelumnya (Ahad, 18/02), pengadilan Baghdad juga memvonis penjara seorang wanita muda asal Jerman, Linda Wensel. Wensel yang saat berangkat ke Iraq berusia 17 tahun ini terkena hukuman lima tahun. Dia terkena dua tuduhan; bergabung ISIS dan memasuki Iraq secara ilegal.

Sebulan yang lalu, tiga wanita juga divonis karena terkait ISIS. Mereka dijatuhi hukuman seumur hidup karena dituduh membantu ISIS. Satu di antaranya warga negara asing.

Sejumlah sumber di Iraq berbicara, adanya ratusan wanita dan anak-anak anggota keluarga pejuang ISIS bekewarganegaraan Eropa, Asia dan Arab. Mereka ditahan di penjara Departemen Keadilan di Baghdad.

Juru bicara Mahkamah Agung Iraq, Abdul Sattar Al-Birqdar, mengatakan bahwa Pengadilan Pidana Pusat di Baghdad tengah menangani kasus sekelompok wanita anggota ISIS dari berbagai negara, di antaranya Turki dan Azerbaijan.

“Pengadilan telah mengeluarkan sepuluh hukuman seumur hidup terhadap sepuluh wanita setelah karena kasus terorisme, sementara satu lainnya yang merupakan warga negara Turki dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung,” jelas Birqdar.

Dia menambahkan bahwa vonis tersebut dengan ketentuan Pasal IV / 1 undang-undang anti-terorisme, dalam pengertian Pasal II 1/3. Terpidana masih memiliki hak mengajukan banding di pengadilan kasasi.

Dalam hal ini, Anggota Asosiasi Advokat Iraq, Muhammad Khalid Tohma, menunjukkan bahwa keputusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Pidana Iraq yang mengkhususkan diri dalam kasus terorisme dapat masih menerima banding dalam jangka waktu tidak lebih dari satu bulan. Jika terpidana tak mengajukan banding, vonis tersebut berlaku.

Tohma menambahkan, terpidana warga negara asing bisa menjalani hukumannya di negara masing-masing karena Iraq memiliki kesepakatan dengan negara-negara tersebut. Terkait pelaksanaan hukuman mati, Tohma yakin tidak akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Pelaksanaannya tergantung negosiasi dengan negara terkait. (AB)

Sumber: Al-Araby Al-Jadid

 

Baca juga, KLAIM ISIS ATAS PENEMBAKAN JAMA’AT GEREJA DI DAGESTAN YANG MENEWASKAN 5 ORANG