Duniaekspress, 22 Februari 2018. – Kabul – Kantor PBB di Kabul (UNAMA) menerbitkan laporan tentang korban sipil selama setahun terakhir. Dalam laporan itu disebutkan bahwa Imarah Islam Afghanistan bertanggung jawab atas 42% korban sipil di negara tersebut, 13% oleh rezim Kabul sedangkan Amerika Serikat disebutkan hanya 2% saja.

Imarah Islam Afghanistan menolak laporan tersebut. Thaliban mengatakan bahwa laporan tersebut tidak netral dan memihak kepada Amerika Serikat. PBB dinilai mencoba untuk menyembunyikan kejahatan AS melalui laporan itu.

“Laporan tersebut secara terbuka berpihak pada pasukan penduduk Amerika di Afghanistan dan mencoba menutupi kejahatan mereka,” ungkap juru bicara Thaliban, Qari Muhammad Yousuf Ahmadi dalam rilisnya belum lama ini.

Thaliban menegaskan, Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan telah mengumumkan strategi baru untuk memerangi Thaliban di Afghanistan. Dalam prakteknya, strategi itu kerap menyasar rumah-rumah sipil, fasilitas umum, masjid, kawasan keramaian bahkan pasar.

“Serangan itu berulang kali menewaskan banyak warga sipil, merusak rumah dan merampas harta mereka,” tegas Thaliban.

Selain itu, Thaliban juga mengatakan, tentara, polisi dan milisi Arbaki pro-rezim Kabul kerap kali menyerang perumahan warga dengan senjata. Korbannya juga menyasar wanita, anak-anak serta telah memenjara ribuan orang tak bersalah.

“Terlepas dari kejahatan dan kebiadaban terbuka tersebut, penyebutan 2% korban sipil oleh Amerika dan 13% oleh pasukan pemerintah menjadi bukti bahwa UNAMA seolah-olah mencoba untuk melemparkan pasir ke mata orang-orang dan secara terbuka berpihak pada penjajah Amerika,” sambungnya.

Selain itu, Amerika disebutkan telah menjatuhkan 4300 bom di Afghanistas selama setahun terakhir. Thaliban menyebutkan, setiap orang yang berpikiran sehat mengerti bahwa begitu banyak pemboman dan korban akibat ulah Amerika.

“Laporan semacam itu berusaha memberikan materi propaganda melawan Mujahidin Imarah Islam dan membebaskan penyerang – sumber tragedi Afghanistan yang sebenarnya yang telah menggunakan bahan peledak melawan negara kami dan telah membunuh warga selama 17 tahun penuh – melakukan kesalahan apapun,” paparnya.

Imarah Islam sangat disayangkan bahwa isu kemanusiaan yang sangat sensitif terhadap korban sipil digunakan sebagai alat propaganda dan tekanan dan substansi yang tidak adil tersebut diterbitkan atas nama Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sumber: Alemarah

 

Baca juga, THALIBAN GENCARKAN OPERASI-OPERASI PEMBEBASAN DARI PENJAJAH AS