Duniaekspress, 23 Februari 2018. – Dalam sebuah komentar yang tidak biasa, Presiden Trump memberikan penilaian pribadinya atas berbagai perang, intervensi pasca-9/11. “Tujuh triliun dolar. Sebuah kesalahan,” katanya. “Tapi memang seharusnya begitu.”

Tujuh triliun itu hanya perkiraan. Tak seorang pun, setidaknya dari semua penguasa Pentagon, benar-benar tahu berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk melakukan seluruh operasi militer, baik skala besar dan maupun kecil. Namun, total pengeluaran pasti mencapai triliunan dolar.

Dan berapa pun penghitungan saat ini, jumlah itu pasti akan meningkat seiring perang yang terus berlanjut dan juga akibat kewajiban yang muncul. Perawatan untuk para veteran, misalnya, telah menjadi pekerjaan rumah yang membuat pemerintah AS kewalahan, untuk beberapa dekade yang akan datang.

Bahwa Donald Trump sendiri yang mencirikan perang tersebut sebagai sebuah kekeliruan adalah sebuah momen langka. Bagaimanapun, sebagai panglima tertinggi saat ini, dialah yang bertanggung jawab atas kesalahan itu dan berbagai konsekuensinya. Kita mungkin meragukan bahwa para jenderal yang menduduki posisi senior di pemerintahannya juga memiliki penilaian yang sama dengan bos mereka.

Presiden Amerika yang sedang menjabat, yang mencirikan perang Amerika yang sedang berlangsung sebagai sebuah kekeliruan, telah menjadi perhatian publik.

Tentu saja, Trump bukanlah sumber kebenaran. Banyak kritik yang biasa ia lontarkan hanya berisi kebencian atau sesuatu yang kontroversial. Namun dalam hal ini, dia telah mengucapkan sebuah kebenaran sejati yang sangat penting (bahwa perang Amerika yang menghabiskan triliunan dollar merupakan kesalahan -red)

Sayangnya, kalimat penutup Trump telah mengaburkan kebenaran ucapannya: “Tapi, memang seharusnya begitu.” Setidaknya ada dua cara untuk menafsirkan ucapan ini. Yang pertama adalah fatalistik: Kita terjebak dalam kekacauan tersebut dan tidak ada jalan untuk melepaskan diri. Yang kedua bersifat pragmatis: ini adalah fakta yang tidak berani kita abaikan.

Orang Amerika umumnya menunjukkan keengganan terhadap fatalisme. Mereka suka memanjakan diri dengan para pragmatisme. Dengan adanya masalah, mereka ingin memperbaikinya. Tentunya sikap ini biasa dilakukan oleh kalangan eksekutif pebisnis. Saat menghadapi perusahaan yang gagal, mereka akan berusaha mengurangi kerugian mereka atau bertindak dengan berani untuk mengembalikan keuntungan.

Memangkas kerugian sering diartikan dengan mengurai masalah-masalah yang tidak diduga sebelumnya. Memulihkan keuntungan juga akan memerlukan perubahan besar. Hanya orang bodoh yang berpikir bahwa ketekunan belaka akan membalikkan keadaan.

Apakah sebagai presiden, Trump bersandar pada fatalisme atau pragmatisme? Masing-masing pilihan membutuhkan konsistensi perspektif yang belum ia tunjukkan. Patut untuk terus diperhatikan.

Dalam kisah karangan Hans Christian Andersen yang terkenal, berjudul “Pakaian Baru Kaisar,” seorang anak muda menyatakan dengan jelas: Kerajaan kita ini transparan. Sekarang, kaisar kita sendiri yang menyatakan sebuah titik yang sangat jelas: perang yang kita lakukan tidak berjalan dengan baik.

Namun secara tidak disengaja, Trump memberi hadiah istimewa kepada orang Amerika, sebuah pernyataan yang menjadi jawabab atas kritik yang telah disampaikan oleh rakyat selama bertahun-tahun, tanpa hasil. Pernyataan ini menunjukkan bahwa peperangan pasca-9/11 telah menghasilkan kesia-siaan atas harta dan nyawa yang telah dikorbankan, dan sungguh, pernyataan ini merupakan pencapaian terbesar dari pemerintahan Trump yang masih sangat baru.

Kita cenderung berpikir bahwa cerita tentang pemerintahan Trump sejauh ini dilingkupi oleh cerita penuh kebodohan yang dikombinasikan dengan skandal yang terus-menerus. Namun, skandal yang sebenarnya, akan terjadi jika orang-orang Amerika dan perwakilan mereka yang terpilih di Kongres gagal untuk menindaklanjuti keputusan Trump mengenai perang Afghanistan baru-baru ini.

Terima kasih, Presiden Trump, atas keterusteranganmu. Kami berhutang satu kebaikan padamu.

 

Sumber: bostonglobe.com

 

Baca juga, RESPON JIHADIS GLOBAL ATAS PERNYATAAN DONALD TRUMP YANG MENCAPLOK AL-QUDS