Duniaekspress, 23 Februari 2018. – Para dokter di Ghouta Timur sedang berjuang untuk mengimbangi gelombang masuknya pasien yang terluka oleh serangan pemerintah Suriah, yang mereka katakan menargetkan warga sipil dan rumah sakit.

Hampir 300 orang telah terbunuh dan 1.400 luka-luka sejak serangan terhadap satu-satunya daerah yang dikuasai pejuang di dekat Damaskus, yang dimulai awal pekan ini. Pada hari Rabu pagi (21/02/2018), 24 orang tewas dalam serangan yang dilakukan oleh rezim Suriah, menurut lembaga Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.

Rabu malam, Duta Besar Rusia, Vassily Nebenzia, meminta Dewan Keamanan PBB untuk bertemu pada hari Kamis untuk membahas situasi tersebut.

“Pertemuan ini sangat diperlukan mengingat kekhawatiran yang telah kami dengar hari ini untuk memastikan bahwa semua pihak dapat mempresentasikan visi dan pemahaman mereka mereka mengenai situasi terkini yang terjadi di Suriah dan merumuskan cara untuk keluar dari situasi ini,” kata Nebenzia.

Selain melakukan bombardir dan serangan udara, relawan kemanusiaan dan penduduk mengatakan kepada Middle East Eye bahwa pemerintah telah menjatuhkan bom barel di lingkungan perumahan. Klaim ini didukung oleh banyak foto yang diposkan di media sosial.

Di tengah gencarnya serangan, kini persediaan obat sudah habis, setelah pengepungan selama empat tahun. Seorang petugas medis mengatakan bahwa situasi ini tidak boleh berlanjut.

“Kami tidak memiliki cukup ambulans yang tersisa untuk mengangkut yang terluka, yang berarti banyak orang meninggal sebelum mereka sampai ke fasilitas medis,” kata Dr Malik kepada MEE. Dia dan satu dokter lain yang berbicara dengan MEE menolak memberi nama belakang mereka karena khawatir akan keselamatan mereka.

“Rumah sakit telah dibanjiri dengan darah. Kami melakukan apa yang bisa kami bantu, tapi situasinya menjadi tidak tertahankan.”

Organisasi Medicine Without Borders melaporkan pada hari Rabu bahwa 13 fasilitas yang mereka bantu di dalam Ghouta Timur telah dibom sejak Senin; Dokter untuk Hak Asasi Manusia (Physician for Human Rights), sebuah LSM medis lainnya, mengatakan bahwa delapan fasilitas yang mereka bantu juga terkena serangan. Tidak disebutkan apakah ada kesamaan antara fasilitas medis yang disebut oleh kedua organisasi tersebut.

PHR menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan perang  yang terang-terangan”, telah menjadi “kebiasaan sehari-hari” dalam perang tersebut.

Sepuluh Operasi dalam Sehari

Dr. Malik dan dokter lainnya mengatakan bahwa serangan terhadap fasilitas medis hanya menambah deretan pekerjaan yang sudah menumpuk.

“Ketika rezim tersebut menyerang tempat penampungan pengungsi, hal itu menimbulkan sangat banyak korban. Kami berhadapan dengan 15-20 orang sekaligus,” kata Dr. Malik.

“Tidak ada hubungannya apakah mereka adalah keluarga atau teman, sebagai dokter, kami harus melanjutkan pekerjaan kami untuk menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin. Menyelamatkan satu nyawa adalah pencapaian besar bagi kami.”

Seorang anak kecil yang terluka dibawa ke klinik akibat serangan udara rezim di Arbin, Timur Ghouta yang terisolasi, 20 Februari 2018

Dokter Mohammed Salem, koordinator perawatan primer di Direktorat Kesehatan Damaskus dan seorang ahli bedah setempat, mengatakan bahwa sebagian besar peralatan telah hancur, kondisi di rumah sakit yang masih terbuka sangat-sangat terbatas.

“Kami seperti beroperasi di bawah tanah. Kami tidak memiliki peralatan atau listrik,” katanya.

Dokter Rida, yang juga merawat pasien di daerah tersebut, mengatakan kepada MEE bahwa tim medis telah bekerja dengan “kapasitas penuh”.

“Pada hari Selasa, saya melakukan 10 operasi. Salah satu kasus mengharuskan saya untuk mengamputasi kaki seseorang,” kata Rida.

“Target utama dari apa yang kita lihat adalah warga sipil. Pemboman ini adalah taktik yang digunakan untuk membungkam revolusi.”

Kegilaan Ini Harus Dihentikan

Beberapa badan PBB mengecam peningkatan kekerasan pada hari Selasa lalu, karena pemerintah Suriah terus menyerang daerah kantong pemberontak tersebut.

Rusia, yang telah masuk ke Suriah untuk mendukung pemerintahan Assad sejak tahun 2015, mengklaim bahwa pemberontak telah melukai empat orang pada hari Rabu dengan bom mortir, dan enam orang terbunuh pada hari Selasa.

“Hari ini, daerah pemukiman, perhotenan di Damaskus, serta Pusat Rekonsiliasi untuk Rakyat Suriah, mendapat pemboman besar-besaran oleh kelompok bersenjata ilegal dari Ghouta timur,” kata kementerian pertahanan Rusia pada hari Selasa.

Juru bicara Rusia, Dmitry Peskov, pada hari Rabu menggambarkan tuduhan “tidak beralasan” bahwa Rusia harus bertanggung jawab atas beberapa kesalahan karena kematian warga sipil di Ghouta Timur.

Sekitar 400.000 orang masih hidup terkepung di daerah kantong-kantong pemberontak, termasuk ratusan orang yang memerlukan perawatan medis ke luar daerah.

Valerie Szybala, direktur eksekutif  sebuah lembaga pengamat Suriah yang berbasis di Washington, mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya bom barrel digunakan sedemikian rupa di Ghouta Timur.

“Salah satu alasan utama mengapa pemerintah rezim tidak menggunakan bom barrel di Ghouta karena pemberontak mampu menurunkan helikopter,” kata Szybala kepada MEE.

“Tapi sekarang, berkat pengepungan yang berkepanjangan, semua orang di Ghouta telah “habis” baik secara fisik maupun kemampuan tempur.”

Kelompok-kelompok pemberi bantuan mengatakan bahwa bantuan mereka tidak dapat lagi menjangkau mereka yang membutuhkan, di Ghouta, karena pemboman dalam jumlah besar, dan telah memperingatkan adanya bencana yang sedang terjadi.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada hari Rabu menyerukan akses kemanusiaan ke Ghouta, terutama untuk menjangkau orang-orang yang terluka yang memerlukan perawatan darurat.

“Pertarungan tampaknya akan menyebabkan lebih banyak penderitaan pada hari-hari ini dan minggu depan,” kata Marianne Gasser, kepala delegasi ICRC di Suriah. “Ini adalah kegilaan dan harus dihentikan.”

Ini Adalah Pemboman Awal

Seorang komandan perang yang bekerja untuk pemerintah Assad mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pemboman tersebut bertujuan untuk mencegah pemberontak menargetkan wilayah timur Damaskus dengan menggunakan bom mortir.

“Serangannya belum dimulai, ini adalah pemboman awal,” kata komandan tersebut.

Komandan lain, Suheil al-Hassan, dalam sebuah video mengatakan: “Saya berjanji, saya akan memberikan mereka sebuah pelajaran, tentang pertempuran dan pengeboman.

“Anda tidak akan mendapatkan penyelamat dan jika Anda mendapatkannya, Anda akan diselamatkan dengan kondisi yang kesakitan. Anda akan diselamatkan dalam kondisi berdarah-darah.”

 

Sumber: www.middleeasteye.net

 

Baca juga, UNICEF : GHOUTA TIMUR BENCANA KEMANUSIAAN