Duniaekspress, 26 Februari 2018. – Di tengah perselisihan internal di kalangan Jihadis di Syam (Suriah), Al-Qaidah melalui buletinnya, An-Nafir, kembali menyerukan agar menyikapi perbedaan perndapat dengan wara’ dan adil (inshaf). Pada edisinya 23 tersebut, Al-Qaidah menghimbau (para ulama) agar ketika melemparkan suatu persoalan dilengkapi dengan argumentasi-argumentasi dan metodologi-metodologinya (qawa’iduha).

Dalam buletin yang dirilis 19 Februari tersebut, Al-Qaidah juga menyeru kepada para ulama yang jujur untuk membentuk majlis-majlis (diskusi) dan lembaga-lembaga kajian (haiah) untuk meneliti dan mempelajari persoalan-persoalan baru yang dihadapi kaum Muslimin secara umum, terkhusus persoalan-persoalan yang sedang dihadapi para aktivis yang menolong agama ini dengan jihad dan dakwah.

Supaya mereka semua dapat menghasilkan suatu out put berupa arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk yang bisa memberi pencerahakan dalam berbagai kemelut fitnah yang sedang menghantam dunia Islam. Selain juga seruan untuk menghargai para ulama, memuliakan mereka, dan menghormati mereka.

 

Berikut terjemahan lengkapnya:

 

“Dan Katakanlah Kepada Hamba-Hamba-Ku, ‘Hendaklah Mereka Mengucapkan Perkataan yang Lebih Baik”

Orang yang mengamati  tabiat manusia akan dapat melihat bahwa terjadinya perbedaan pendapat yang disebabkan perbedaan pemahaman dan tingkatan pengetahuan serta kesadaran (seseorang) adalah suatu yang lumrah. Jika kita ingin menunjukkan salah satu sisi perbedaan yang positif pada salah satu ilmu syar’i-islami mana pun, maka kita dapat melihat bahwa perbedaan tersebut telah berhasil memperkaya perbendaharaan perpustakaan Islam dengan kekayaan intelektual yang besar dan memberikan manfaat yang juga besar, terkhusus tatkala perbedaan itu dilatarbelakangi oleh tujuan yang benar, yaitu dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya, dengan berkomitmen terhadap nash, pemahaman terhadapnya, dan mengetahui maqashid (tujuan pensyariatan) dan konsekuensi-konsekuensinya.

Ibnul Qayyim—rahimahullah—menulis, “Apabila perbedaan pendapat tidak mengantarkan pada pertikaian yang meruncing dan fanatisme kelompok, sementara tujuan masing-masing dari mereka yang berbeda pandangan tersebut adalah dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya, maka perbedaan pendapat itu tidak dilarang. Perbedaan tersebut pasti terjadi dalam perkembangan manusia. Ini karena manakala dasar pijakannya satu, tujuan yang diinginkan satu, dan metode yang ditempuh juga satu, maka hampir tidak terjadi perbedaan pendapat. Jika pun perbedaan pendapat itu terjadi, maka itu suatu yang tidak dilarang, sebagaimana perbedaan yang terjadi di kalangan sahabat.”

“Terjadinya perbedaan pendapat di antara manusia merupakan suatu keniscayaan yang pasti terjadi, yang disebabkan perbedaan tingkatan pemahaman, kekuatan ilmu, dan tujuan-tujuan mereka. Namun, yang tercela yaitu ketika sebagian mereka zalim kepada sebagian yang lain serta memusuhinya” lanjutnya.

Perbedaan pendapat yang sesuai dengan koridor syariat bukan lah suatu dosa dan kesalahan, selama kedua belah pihak tetap berkomitmen pada ketentuan-ketentuan dan etika-etika berbeda pendapat yang mendapat perhatian yang besar dalam syariat Islam. (Ketentuan dan etika) tersebut termasuk bagian dari akhlak-akhlak yang mulia. Syariat Islam justru hadir untuk menanamkan, menguatkan, dan merealisasikan akhlak-akhlak tersebut pada tingkat personal dan komunal sehingga manfaat dan maslahat yang terwujud bisa kembali pada masyarakat Muslim yang memiliki kekhasan dengan hidayah dan akhlak yang mereka miliki.

Adapun perbedaan pendapat yang tercela, di mana salah satu pihak—atau kedua belah pihak—memvonis bid’ah, fasik, mengumpat dan mencela orang yang berbeda pendapat dengannya, maka hal ini justru menyebarkan benih pertikaian, permusuhan, dan lenyapnya kekuatan (umat Islam). Allah ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Anfal: 46].

Dalam hadits Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling memarahi, saling mendengki, dan saling membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari” []HR. Muslim].

Manakala perbedan pendapat merupakan suatu realita dan tidak mungkin dihindari, maka paling tidak, kita tidak boleh menzalimi orang lain dengan bersikap wara’ dan adil (inshaf). Bagi yang mengamati sikap salafus shaleh, ia akan mendapati bahwa hal itu (bersikap wara’ dan adil) merupakan tanda paling mencolok yang membedakan persoalan-persoalan perbedaan pendapat di antara mereka. Inilah keyakinan dan petunjuk mereka. Tetapi, tatkala  orang yang tidak mengerti kedudukan para ulama yang telah mengorbankan kehidupan mereka untuk menolong agama ini turut melakukan intervensi dalam perbedaan pendapat tersebut, maka kita akan menyaksikan bahwa atmosfer perselisihan dan pertikaian akan semakin melebar. Sekiranya perbedaan pendapat itu terjadi hanya di kalangan mereka yang mengerti kedudukan ulama, niscaya perbedaan pendapat itu akan hilang dan lenyap. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh ulama kita terdahulu, “Seandainya orang yang tidak mengerti (duduk persoalan) berdiam diri, niscaya lenyap lah perbedaan pendapat tersebut.”

Kita sangat butuh memiliki pemahaman tentang kedudukan para ulama yang mulia. Mereka lah bebintang yang menerangi jalan umat kita ini. Mereka rela mengorbankan dirinya lantaran khawatir umat terperosok ke dalam lembah kehancuran. Mereka lah panutan dan tokoh kita, meski kami berbeda pandangan dalam beberapa persoalan dengan mereka. Perbedaan pandangan tidak boleh memutuskan ikatan kecintaan dan kasing sayang (kepada mereka).

Ibnu Taimiyah—rahimahullah—menuturkan, “Para sahabat bersepakat dalam beberapa persoalan dan berbeda pendapat dalam beberapa persoalan ilmu akidah, seperti (dalam persoalan): mendengar tidaknya orang yang sudah mati suara orang masih hidup, diazab tidaknya orang yang sudah mati disebabkan ratapan keluarganya,  dan Muhammad SAW melihat Rabbnya atau tidak sebelum beliau wafat. Namun mereka tetap bersatu dan saling mengasihi. Dalam persoalan-persoalan itu, pasti salah satu di antara dua pendapat tersebut merupakan pendapat yang keliru.”

Sebagai penutup, kami mengajak (para ulama) agar ketika melemparkan suatu persoalan dilengkapi dengan argumentasi-argumentasi dan metodologi-metodologinya (qawa’iduha), serta menyikapi hal itu dengan etika-etika berbeda pendapat. Selama kita mengetahui bahwa sikap para ulama senantiasa berdasarkan pijakan-pijakan yang jelas, pernyataan mereka tentang suatu hukum atau pendapatnya selalu berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah dan kaidah-kaidah ijtihad, meskti terkadang (hukum dan pendapat) itu lemah (marjuh), maka pertikaian tidak seharusnya terjadi. Perbedaan pendapat dalam persoalan yang masih dalam ranah ijtihad merupakan suatu yang masih bisa diterima.

Kami juga menyeru kepada para ulama yang jujur untuk membentuk majlis-majlis (diskusi) dan lembaga-lembaga kajian (haiah) untuk meneliti dan mempelajari persoalan-persoalan baru yang dihadapi kaum Muslimin secara umum, terkhusus persoalan-persoalan yang sedang dihadapi para aktivis yang menolong agama ini dengan jihad dan dakwah. Saling tumpang tindihnya suatu persoalan menyebabkan untuk mendudukkannya dibutuhkan kerja sama di antara: para ulama yang jujur, para ahli yang berpengalaman, para jihadis yang langsung terjun di lapangan, serta para ahli halli wal aqdi dari umat ini. Supaya mereka semua dapat menghasilkan suatu out put berupa arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk yang bisa memberi pencerahakan dalam berbagai kemelut fitnah yang sedang menghantam dunia Islam.

Selain itu, kamu juga mengajak untuk menghargai para ulama, memuliakan mereka, dan menghormati mereka. Terkhusus para ulama yang bersikap jujur; yang sikap tersebut harus mereka bayar dengan darah, pemenjaraan, dan penangkapan mereka; yang sekiranya mereka menghendaki dunia, niscaya mereka akan mendapatkannya. Namun mereka lebih memilih apa yang ada di sisi Allah. Menyerang para ulama dan mencari-cari kekurangan mereka merupakan penyakit berbahaya yang menggerogoti para penuntut ilmu dan kalangan awam. Kita harus menutup pintu-pintu dan makar-makar setan yang menargetkan persaudaraan kita dan kejernihan hati kita.

Allah ta’ala berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sunnguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” [QS. Al-Isra`: 53].

 

 

Sumber: http://jihadology.net