Duniaekspress, 27 Februari 2018. – Palestina – Warga Palestina bereaksi keras dengan penuh kemarahan atas dipindahkannya kantor kedutaan Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem dalam beberapa bulan ke depan. Warga Palestina mengatakan bahwa tindakan Amerika Serikat tersebut dapat menggagalkan prospek solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina.

Bentrokan terjadi di Gaza dan Tepi Barat pada hari Jum’at lalu, dalam sebuah demonstrasi untuk melawan sikap Presiden Donald Trump di Yerusalem, yang juga membuat marah para pemimpin politik dan agama di seluruh wilayah Arab, dan membuat negara-negara Eropa merasa cemas.

Warga Palestina mengatakan bahwa Yerusalem Timur, yang dijajah oleh Israel sejak tahun 1967 dan kemudian dianeksasi, sebagai ibukota Israel masa depan.

Saeb Erekat, juru runding utama Palestina dalam perundingan damai yang telah menemui jalan buntu sejak tahun 2014, mengatakan bahwa langkah AS tersebut menunjukkan “tekad untuk melanggar hukum internasional, menghancurkan solusi dua negara dan memprovokasi perasaan rakyat Palestina dan juga semua orang Arab, Muslim dan Kristen di seluruh dunia”.

Erekat, yang juga sekretaris jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organisation/PLO), mengatakan, “Trump dan timnya telah mendiskualifikasi AS dari menjadi bagian dalam solusi antara Israel dan Palestina; Sebaliknya, dunia sekarang melihat bahwa mereka adalah bagian dari masalah.”

Trump mengumumkan pada bulan Desember lalu bahwa Amerika Serikat akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, memindahkan kedutaan besar AS dan melanggar kebijakan selama puluhan tahun oleh masyarakat internasional.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat diharapkan bisa membuka kedutaan besarnya di Yerusalem pada bulan Mei mendatang, bertepatan setelah ulang tahun ke-70 Israel.

“Ini adalah langkah yang tidak dapat diterima. Setiap langkah yang dilakukan secara sepihak tidak akan bisa memberikan legitimasi kepada siapapun dan akan menjadi hambatan bagi upaya menciptakan perdamaian di kawasan ini,” kata Nabil Abu Rdainah, juru bicara presiden Palestina, Mahmoud Abbas.

Abbas telah menolak upaya perdamaian Timur Tengah yang dipimpin AS, dan menganggapnya sebagai hal yang “tidak mungkin”, sejak keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

Abu Rdainah mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian, keamanan dan stabilitas adalah proposal Abbas, yang diungkapkan dalam sebuah pidato ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, bahwa sebuah konferensi internasional harus diadakan untuk memulai proses perdamaian, termasuk “mekanisme multilateral” untuk mengasinya.

Abbas masih di Amerika Serikat setelah menjalani pemeriksaan kesehatan di Baltimore pada hari Kamis namun akan kembali ke Palestina pada hari Sabtu, kata Abu Rdaineh.

Di Gaza, seorang pejabat Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan, “Memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem adalah sebuah deklarasi perang melawan negara-negara Arab dan negara-negara berpenduduk Muslim, dan pemerintahan AS harus mempertimbangkan hal itu kembali.”

Dua puluh lima orang Palestina terluka oleh tembakan tentara Israel selama bentrokan di sepanjang pagar dengan Israel di Gaza pada hari Jumat, kata seorang juru bicara kementerian kesehatan Gaza. Para pemrotes melemparkan batu ke pasukan Israel.

Pejabat kesehatan Palestina mengatakan setidaknya 20 warga Palestina, kebanyakan di Gaza, telah tewas dalam demonstrasi menentang keputusan Trump sejak pengumuman yang dilakukan oleh Trump pada 6 Desember lalu.

 

Sumber: reuters.com

 

Baca Juga, SATU KEBENARAN YANG TERUNGKAP DARI MULUT DONALD TRUMP