Duniaekspress, 1 Maret 2018. –  Sudah hampir tujuh tahun Suriah berkecamuk dan berkutat dalam perang sipil yang telah menewaskan lebih dari 500.000 orang dan membuat jutaan penduduk lainnya mengungsi. Perang dan diplomasi telah menawarkan banyak hal, namun implikasi dari strategi kontraterorisme AS sangat mencolok terlihat di sana.

Suriah merupakan tempat keberhasilan strategi kontraterorisme sekaligus tempat kegagalan strategi kontraterorisme. ISIS, salah satu kelompok teroris paling kejam dan kuat yang pernah ada di dunia, muncul dari konflik Suriah. Namun Amerika Serikat dan sekutunya juga telah melemahkan kelompok tersebut dan meminimalkan ancaman terorisme mereka.

Catatan di bawah ini adalah hal-hal yang disimpulkan dari konflik Suriah, dalam hubungannya dengan strategi kontraterorisme yang diterapkan AS.

1.  Perang Sipil dan Terorisme berjalan seiringan.

Suriah menggambarkan bagaimana para jihadis berkembang pada banyak perang sipil di dunia Muslim. Meskipun banyak yang bertanya tentang mengapa seorang individu mau bergabung dengan kelompok teroris (Apakah mereka terasing dari masyarakat? Kurangnya pekerjaan? Dan seterusnya), tetapi perang telah bertindak sebagai faktor penarik.

Eropa, yang menghasilkan ribuan pejuang untuk ISIS, tidak jauh berbeda sebelum perang Suriah dimulai dari tahun 2014-15, ketika jumlah foreign fighter memuncak bersamaan dengan konflik. Perang itu sendiri telah mengundang antusiasme Muslim Eropa dan membuat banyak orang menjadi sukarelawan,di mana mereka sering melihat diri mereka sendiri sebagai calon pejuang kebebasan dan bukan sebagai teroris.

Afghanistan, Aljazair, Chechnya, Irak, Lebanon Somalia, dan Yaman adalah contoh konflik lain yang telah melahirkan kelompok pejuang baru atau menumbuhkan kelompok yang sudah ada menjadi lebih kuat. Peperangan memberi alasan untuk merekrut, dan mereka membuat anggota yang sudah ada menjadi lebih ahli dalam peperangan dengan memberi mereka pengalaman tempur yang banyak.

Perang juga memberikan peluang bagi kelompok militan untuk melakukan berbagai tindakan. ISIS, misalnya, sering menduduki wilayah di mana rezim Suriah lemah atau tidak ada, dengan menggunakan kekosongan dalam pemerintahan untuk membangun citra kelompok mereka sebagai alternatif. Tidak semua perang saudara di dunia Muslim menghasilkan gerakan jihad yang besar, namun risiko perang yang baru, memang demikian.

2.  Para Jihadis Sangat Sering Terpecah-belah

Dalam peperangan ini, Amerika Serikat dan pemerintah lainnya bukan satu-satunya yang membenci dan membunuh para jihadis. Namun, para jihadis juga saling benci dan saling membunuh, seringkali dalam jumlah besar.

ISIS berpecah dengan Jabhat al-Nusra, di mana pemimpin Jabhat al-Nusra setia kepada al-Qaidah. ISIS sendiri berperang melawan berbagai kelompok Islam lainnya di Suriah, beberapa di antaranya tumpang tindih secara ideologis dengan organisasi Abu Bakr al-Baghdadi. Pertarungan ini mengecewakan sebagian anggota dan melemahkan semua gerakan secara keseluruhan.

Bahkan saat para jihadis tidak saling membunuh, gerakan ini sangat rentan terhadap perpecahan. Jihadis sering tidak setuju satu sama lain mengenai kepemimpinan, tingkat kekerasan yang terjadi antar sesama mereka, kapan harus menyatakan berdirinya sebuah negara, dan isu-isu dasar lainnya.

3. Jihadis Sering Memanfaatkan Celah Pada Kebijakan Negara

Banyak kelompok militan di Suriah, sebagai aktor non-negara, sangat bergantung pada kebijakan negara untuk kesuksesan mereka. Rezim ingin memberikan satu label yang sama bagi semua oposisi: berhubungan dengan al-Qaidah.

Ini adalah sebuah argumen yang tidak masuk akal pada awalnya, tapi menjadi semakin masuk akal karena oposisi yang lebih moderat semakin layu dan menyebabkan jihadis tumbuh subur. Terlebih lagi, kekurangsigapan Turki untuk menjaga perbatasannya yang terbuka pada tahun-tahun pertama perang Suriah saat para pejuang menyeberang masuk dan keluar, menyebabkan ISIS dan kelompok-kelompok lain bisa merekrut puluhan ribu orang asing ke dalam barisan mereka.

Ketika Turki mulai menutup perbatasannya pada tahun 2015 dan melakukan operasi militer ke daerah terdekat yang diduduki ISIS, semakin sulit bagi orang asing untuk memasuki wilayah konflik di Suriah.

4.  Strategi Counterterrorism Seringkali Hanya Secara Taktis Perang, Tidak Komprehensif

Meskipun sebagian besar pihak tidak mau mengakuinya, tetapi Iran, Hizbullah, dan berbagai kelompok Syiah Irak semuanya berada di sisi yang sama dengan Amerika Serikat, Arab Saudi, Turki, dan Israel saat menghadapi ISIS. Namun, keadaan ini tidak menghasilkan hubungan yang lebih baik di antara mereka, karena Amerika Serikat mencari tujuan akhir yang berbeda dari banyak mitranya dalam kontraterorisme.

Turki khawatir berdirinya negara Kurdi, Iran berusaha untuk memperkuat pengaruhnya di Suriah dan memperkuat rezim Assad, sementara Israel khawatir akan terjadi kekerasan yang meluas ke wilayahnya.

Kontra terorisme bukanlah perekat yang merekatkan segala sesuatunya dan ironisnya, keberhasilannya membuat ketidaksepakatan mengenai isu-isu lain lebih jelas.

5. Negara-negara Sekutu Butuh Koordinasi

Kebutuhan untuk mengkoordinasikan sekutu kini lebih jelas dari sebelumnya. Kerja sama kontraterorisme membaik dalam beberapa tahun terakhir. Serangan Paris pada tahun 2015 secara khusus membuktikan sebuah panggilan untuk sekutu-sekutu AS di Eropa, dan pembagian informasi tentang tersangka teroris menjadi jauh lebih baik. Namun, di bawah Presiden Obama, Amerika Serikat pada awalnya mengabaikan konflik Suriah namun kemudian mencoba untuk membangun sebuah koalisi yang luas melawan ISIS tanpa merancang kebijakan yang lebih luas mengenai konflik Suriah secara keseluruhan.

Pemerintahan Trump telah memperbesar kebingungan ini, dengan sekutu-sekutu seperti Turki dan Israel meningkatkan keterlibatan mereka di Suriah. Sementara itu, AS hanya melakukan sedikit usaha untuk mengelola dan mengkoordinasikan berbagai hal. Departemen Luar Negeri, militer, dan Gedung Putih sepertinya memberi sinyal yang berbeda kepada Turki saat menyerang wilayah di Suriah yang dikuasai oleh orang-orang Kurdi yang juga sekutu ASdi sana. Sekutu dapat memperbesar kekuatan AS, namun jika Amerika Serikat tidak mencoba mengkoordinasikan mereka, mereka dapat membuat kekacauan semakin buruk.

6.  Jangan Mengandalkan Program Pelatihan

Akhirnya, Amerika Serikat terlihat buruk dalam satu tugas pokok pada strategi kontraterorisme: membangun sekutu lokal. Meskipun bertahun-tahun melatih dan mengucurkan dana miliaran dolar, pasukan Irak melarikan diri saat bertempur dengan militan ISIS yang jauh lebih kecil dan bersenjata ringan saat para militan ISIS tersebut merebut bagian barat Irak pada tahun 2014.

Upaya AS untuk membangun pasukan oposisi moderat Suriah juga telah menemui kegagalan. Akibatnya, Amerika Serikat mengandalkan Kurdi dan juga mendukung kekuatan oposisi yang bisa bertarung tapi tidak bisa memerintah, karena tidak mendapat dukungan rakyat yang luas. Pelatihan semacam itu bersifat politis dan juga tugas teknis, namun Amerika Serikat sering menggunakannya sambil menghindari keputusan politik yang sulit.

Suriah bukan Irak, Irak bukan Afghanistan, dan konflik berikutnya yang melibatkan kelompok jihadis global akan berbeda satu sama lain. Tetapi jika Amerika Serikat dapat mempelajari pelajaran di atas, mungkin akan lebih baik di lain waktu – atau setidaknya menghindari tindakan yang jauh lebih buruk.

 

Sumber: lawfareblog.com

 

Baca juga, SYAIKH AIMAN AZ-ZHAWAHIRI : JIHAD SURIYAH, PERTEMPURAN DI JANTUNG DUNIA ARAB-ISLAM