Duniaekspress, 4 Maret 2018. Imperium Amerika akan segera berakhir. Perekonomian AS sedang dikeringkan oleh perang di Timur Tengah dan ekspansi militer yang meluas di seluruh dunia. AS juga dibebani oleh defisit yangs semakin besar, seiring dengan dampak buruk dari deindustrialisasi dan kesepakatan perdagangan global.

Demokrasi telah dibunuh dan dihancurkan oleh perusahaan-perusahaan yang terus-menerus menuntut pemotongan pajak lebih banyak dan pemberlakuan deregulasi. Perusahaan-perusahaan itu juga meminta impunitas dari tuntutan untuk melakukan tindakan penipuan finansial secara besar-besaran, padahal mereka telah melakukan penjarahan triliunan dari perbendaharaan AS dalam bentuk dana talangan.

Negara AS telah kehilangan kekuatan dan rasa hormat yang dibutuhkan untuk membujuk negara-negara sekutu di Eropa, Amerika Latin, Asia dan Afrika. Tambahkan juga kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Ini adalah penurunan level pemerintahan federal dan negara bagian akibat tindakan dari kumpulan orang-orang tolol, penipu, pencuri, oportunis dan jenderal hobi perang.

Kekaisaran akan lemas, terus-menerus kehilangan pengaruh sampai dolar turun sebagai mata uang cadangan dunia, menjatuhkan Amerika Serikat ke dalam depresiasi ekonomi yang melumpuhkan dan langsung memaksa kontraksi besar-besaran pada mesin militernya.

Sekumpulan pemberontakan yang terjadi tiba-tiba dan meluas, wabah kematian yang tampak tak terbendung, yang berarti Amerika Serikat tidak akan ada lagi dalam satu dekade atau, paling banyak, dua. Kekosongan global yang ditinggalkan AS akan diisi oleh China, yang telah membangun dirinya sebagai raksasa ekonomi dan militer, atau mungkin akan ada dunia multipolar yang terbentuk antara Rusia, China, India, Brazil, Turki, Afrika Selatan dan beberapa negara lainnya.

Atau mungkin kekosongan kekuatan dunia itu akan terisi oleh “sebuah koalisi perusahaan transnasional, kekuatan militer multilateral seperti NATO, dan kepemimpinan keuangan internasional yang akan membentuk perhubungan supranasional untuk menggantikan negara atau kerajaan manapun.” Hal ini seperti yang ditulis oleh sejarawan Alfred W. McCoy dalam bukunya “In the Shadows of the American Century: The Rise and Decline of Global Power”

Dalam setiap pengukuran, mulai dari pertumbuhan keuangan dan investasi infrastruktur hingga teknologi terkini, termasuk superkomputer, persenjataan ruang angkasa dan cyberwarfare, AS dengan cepat disusul oleh Cina. “Pada bulan April 2015, Departemen Pertanian AS memperkirakan bahwa ekonomi Amerika akan tumbuh hampir 50 persen selama 15 tahun ke depan, sementara China akan mengalami pertumbuhan tiga kali lipat dan mendekati Amerika pada tahun 2030,” kata McCoy.

China menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia pada tahun 2010, tahun yang sama saat mereka juga menjadi negara manufaktur terdepan di dunia, menyingkirkan sebuah negara bernama Amerika Serikat, yang telah mendominasi industri manufaktur dunia selama satu abad. Departemen Pertahanan mengeluarkan laporan yang bijaksana berjudul “At Our Own Peril: DoD Risk Assessment in a Post-Primacy World.” Dalam laporan tersebut, ditemukan bahwa militer AS “tidak lagi menikmati posisi keunggulan di bidang militer dibandingkan dengan negara pesaing,” dan “secara otomatis tidak dapat lagi menghasilkan superioritas militer yang konsisten dan berkelanjutan.” McCoy memprediksi keruntuhan militer AS akan terjadi pada tahun 2030.

Imperium yang Sengaja Bunuh Diri 

Imperium yang sedang berada dalam ambang kehancuran ini terseret dalam sebuah upaya bunuh diri yang disengaja. Mereka dibutakan oleh keangkuhan mereka dan tidak mampu menghadapi kenyataan bahwa kekuatan mereka telah berkurang. Mereka justru beralih ke dunia fantasi di mana fakta-fakta yang sulit dan tidak menyenangkan tidak lagi akan mengganggu mereka. Mereka menggantikan diplomasi, multilateralisme dan politik dengan ancaman sepihak dan instrumen perang yang tumpul.

Ilusi tentang dirinya sendiri ini membuat Amerika Serikat melakukan kesalahan strategis terbesar dalam sejarahnya, yaitu invasi ke Afghanistan dan Irak. Arsitek perang di masa pemerintahan George W. Bush, dan sekumpulan orang idiot di media dan akademisi yang menjadi pemandu sorak untuk perang, hanya tahu sedikit tentang negara-negara yang diserang, sangat naif tentang dampak peperangan industri dan buta terhadap akibat yang ditimbulkan.

Mereka menyatakan, dan mungkin percaya, bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal, walaupun mereka tidak memiliki bukti yang sah untuk mendukung klaim ini. Mereka bersikeras bahwa demokrasi akan ditanamkan di Baghdad dan tersebar di Timur Tengah. Mereka meyakinkan publik bahwa pasukan AS akan disambut oleh warga Irak dan Afghanistan sebagai pembebas. Mereka berjanji bahwa pendapatan minyak akan menutupi biaya rekonstruksi.

Mereka bersikeras bahwa serangan militer yang berani dan cepat akan memulihkan hegemoni Amerika di wilayah Timur Tengah dan dominasi di dunia. Namun ternyata sebaliknya. Seperti yang dicatat oleh Zbigniew Brzezinski, “perang sepihak melawan Irak telah memicu meluasnya delegitimasi kebijakan luar negeri AS.”
Para ahli sejarah menyebut kegagalan upaya militer ini, adalah sebuah ciri dari semua kerajaan yang telah hancur.

Orang-orang Atena terlibat dalam perang militer mikro ketika selama Perang Peloponnesia (431-404 SM) mereka menyerang Sisilia, menderita kerugian 200 orang kapal dan ribuan tentara dan memicu pemberontakan di seluruh wilayah imperiumnya. Inggris melakukannya pada tahun 1956 ketika menyerang Mesir dalam sebuah perselisihan mengenai nasionalisasi Terusan Suez dan kemudian dengan cepat harus menarik diri dalam kehinaan.

Hal ini memberi dorongan moral bagi sejumlah pemimpin nasionalis Arab seperti Gamal Abdel Nasser dari Mesir, dan menandai lepasnya kontrol pemerintahan Inggris atas beberapa negara koloni yang tersisa. Tak satu pun dari imperium ini yang bisa pulih.

“Sebuah imperium yang sedang meningkat sering kali lebih bijaksana, bahkan rasional dalam penerapan angkatan bersenjata mereka untuk menaklukkan dan mengendalikan wilayah-wilayah di luar negeri. Sedangkan sebuah imperium yang memudar cenderung menampilkan kekuatan yang tidak masuk akal, memimpikan manuver militer yang entah bagaimana bisa menghilangkan prestise dan kekuasaan yang hilang,” tulis McCoy.

“Sering kali irasional bahkan dari sudut pandang mereka sendiri. Operasi militer ini dapat menghasilkan akibat yang berdarah-darah atau kekalahan yang memalukan yang hanya mempercepat proses kehancuran yang telah berjalan.”

Imperium ini membutuhkan lebih dari sekedar kekuatan untuk mendominasi negara lain. Mereka membutuhkan kekuatan mistik. Kekuatan mistik ini, topeng untuk menutupi penjarahan, penindasan dan eksploitasi, telah menggoda beberapa elit pribumi, yang bersedia melakukan tawar-menawar kekuatan atau setidaknya tetap menjadi pasif. Dan itu memberi legalitas semu di hadapan rakyat dan bahkan bangsawan yang digunakan untuk membenarkan perang yang telah mengorbankan banyak nyawa dan uang demi mempertahankan imperium.

Sistem pemerintahan parlementer yang dipaksakan Inggris di negara-negara koloni, dan pengenalan olahraga Inggris seperti polo, kriket dan balap kuda, bersama dengan utusan yang berseragam yang rumit dan tatanan royalti, ditopang oleh kekuatan angkatan laut dan darat membuat mereka tak terkalahkan. Inggris mampu mempertahankan kekaisarannya sejak 1815 sampai 1914 sebelum dipaksa mundur.

Retorika tentara Amerika tentang demokrasi, kebebasan dan persamaan, bersama dengan bola basket, bola basket dan Hollywood, serta pembelaan diri kita sendiri terhadap militer, telah membuat dunia terpesona sekaligus takut, setelah Perang Dunia II. Di balik layar, tentu saja, CIA menggunakan sekumpulan cara tipuan kotor untuk mengatur kudeta, menguasai pemilihan umum dan melakukan pembunuhan, kampanye propaganda hitam, penyuapan, pemerasan, intimidasi dan penyiksaan. Tapi sekarang, semua itu tidak bekerja lagi.

Hilangnya kekuatan mistik itu bisa melumpuhkan. Hal itu membuat sulit untuk menemukan pengganti yang lunak untuk mengelola kekaisaran, seperti yang telah kita lihat di Irak dan Afghanistan. Foto-foto pelecehan fisik dan penghinaan seksual yang dilakukan kepada tahanan Arab di Abu Ghraib membuat dunia Muslim meradang, dan menyuburkan al-Qaidah dan kemudian ISIS dengan anggota baru.

Pembunuhan Osama bin Laden dan sejumlah pemimpin jihad lainnya, termasuk warga AS, Anwar al-Awlaki, secara terbuka telah mengolok-olok konsep peraturan hukum. Ratusan ribu korban tewas dan jutaan pengungsi melarikan diri dari bencana di Timur Tengah, bersamaan dengan ancaman yang hampir konstan dari pesawat tak berawak (drone), telah mengekspos AS sebagai teroris bagi negara lain. Mereka telah mengujicoba di Timur Tengah kegemaran militer AS untuk memperluas kekejaman, kekerasan, kebohongan dan kesalahan perhitungan yang sembarangan, tindakan yang menyebabkan kekalahan AS di Vietnam.

Kebrutalan di luar negeri seimbang dengan kebrutalan yang tumbuh di dalam negeri. Polisi yang dipersenjatai seperti militer, sistem penjara yang menampung 25 persen tahanan dunia meskipun hanya berpenduduk sekitar 5 persen populasi global. Banyak kota yang mengalami kekacauan. Sistem transportasi umum yang berantakan, sistem pendidikan yang mengalami penurunan tajam dan diprivatisasi. Kecanduan opioid, bunuh diri, penembakan massal, depresi dan obesitas morbid membuat wabah populasi yang telah jatuh dalam keputusasaan mendalam.

Kekecewaan mendalam dan kemarahan yang menyebabkan terpilihnya Donald Trump adalah reaksi terhadap kudeta korporat dan kemiskinan yang menimpa setidaknya setengah dari negara tersebut, telah menghancurkan mitos tentang demokrasi. Tweets dan retorika presiden mengungkapkan kebencian, rasisme dan kefanatikan dan mengejek yang lemah dan yang rentan. Perwakilan presiden di depan PBB mengancam akan melenyapkan bangsa lain dalam tindakan genosida. AS adalah objek ejekan dan kebencian di seluruh dunia.

“Kematian Amerika Serikat sebagai kekuatan global yang unggul bisa datang jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan orang,” tulis McCoy. “Meskipun aura kerajaan kemahakuasaan sering diproyeksikan, sebagian besar sangat rapuh, tidak memiliki kekuatan inheren bahkan negara-bangsa yang sederhana sekalipun. Memang, sekilas sejarah mereka harus mengingatkan kita bahwa yang terbesar dari mereka rentan tersingkir dari beragam penyebabnya, dengan tekanan fiskal biasanya merupakan faktor utama. Ketika pendapatan menyusut atau ambruk, McCoy menunjukkan, “kerajaan menjadi rapuh.”

Keamanan dan kemakmuran tanah air telah menjadi tujuan utama bagi negara-negara yang stabil, membuat petualangan asing atau imperium ini merupakan pilihan yang dapat dibuang, biasanya mengalokasikan tidak lebih dari 5 persen dari anggaran domestik.

Tanpa pembiayaan yang muncul hampir secara organik di dalam sebuah negara yang berdaulat, imperium terkenal sebagai predator dalam perburuan tanpa henti untuk mendapatkan jarahan atau keuntungan perdagangan budak Atlantik, “Begitu sensitifnya ekologi kekuasaan mereka, ketika segala sesuatunya mulai menjadi benar-benar salah, imperium secara teratur akan terurai: hanya setahun untuk Portugal, dua tahun untuk Uni Soviet, delapan tahun di Prancis, sebelas tahun untuk Ottoman, tujuh belas tahun untuk Inggris, dan, kemungkinan besar, hanya dua puluh tujuh tahun untuk Amerika Serikat, terhitung sejak tahun 2003 penting [ketika AS menyerang Irak], “tulisnya.

Banyak dari perkiraan 69 imperium yang telah ada sepanjang sejarah tidak memiliki kepemimpinan yang kompeten dalam kemunduran mereka, telah menyerahkan kekuasaan pada monstrositas seperti kaisar Romawi Caligula dan Nero. Di Amerika Serikat, kendali otoritas mungkin berada dalam genggaman demagog yang rusak.

“Bagi mayoritas orang Amerika, tahun 2020 kemungkinan akan dikenang sebagai dekade demoralisasi dari kenaikan harga, upah yang stagnan, dan daya saing internasional yang memudar,” ujar McCoy. Hilangnya dolar karena mata uang cadangan global akan memperlihatkan bahwa AS tidak mampu membayar defisit yang sangat besar dengan menjual obligasi Treasury, yang akan secara drastis mendevaluasi pada saat itu. Akan terjadi kenaikan biaya impor yang besar. Pengangguran akan meledak. Bentrokan dalam negeri mengenai apa yang oleh McCoy disebut “masalah yang tidak substansial” akan memicu hypernationalism berbahaya yang bisa berubah menjadi fasisme Amerika.

Seseorang yang didiskreditkan, curiga dan bahkan paranoid dalam kemampuan yang makin turun, akan membuat seperti melihat musuh di mana-mana. Deretan instrumen yang diciptakan untuk pengawasan perampasan kebebasan sipil, teknik penyiksaan yang canggih, polisi yang dimiliterisasi, sistem penjara besar-besaran, ribuan pesawat tak berawak dan satelit – akan dipekerjakan di tanah air. Kekaisaran akan runtuh dan bangsa akan mengkonsumsi dirinya sendiri dalam masa hidup kita jika kita tidak merebut kekuasaan dari orang-orang yang memerintah negara korporat.

 

Sumber:  truthdig

 

Baca juga, SYAIKH AIMAN AZ-ZHAWAHIRI : JIHAD SURIYAH, PERTEMPURAN DI JANTUNG DUNIA ARAB-ISLAM