Duniaekspress, 5 Maret 2018. – Ouagadougou – Kelompok jihadis afiliasi Al-Qaidah menyatakan bertanggung jawab atas dua serangan terkoordinasi yang menargetkan kedutaan Perancis di ibukota Burkina Faso, Ouagadoudou, dan markas besar militer negara itu. Merespon insiden tersebut, Perdana Menteri Paul Kaba Thieba hanya bisa marah dan mengecam, dan mengatakan serangan itu sebagai tindakan pengecut.

Foto: Kedutaan Besar Perancis yang dibom oleh JNIM

Jumlah korban menurut versi pemerintah setempat mengatakan delapan personil militer mereka tewas setelah bertempur menghadapi penyerang pada hari Jumat (02/03/2018) pagi itu, sementara sumber keamanan Perancis menyebut lebih dari 12 orang mengalami luka-luka serius akibat serangan.

Sejumlah pejabat pemerintah mengklaim delapan penyerang ikut tewas, sebanyak 80 orang termasuk warga sipil luka-luka. Sumber pemerintah juga mengatakan, serangan yang terjadi di markas militer itu menggunakan sebuah bom mobil. Di lokasi inilah forum regional anti-terorisme sering digelar dan diduga menjadi target serangan.

Saat meninjau lokasi pasca serangan, PM Burkina Faso, Thieba, mengatakan bahwa ia melihat pemandangan “di mana-mana hancur” dan ia mengutuk keras serangan tersebut yang sekali lagi, menurutnya, dengan cara pengecut menebar kematian dan kehancuran yang tidak perlu.

Melalui pesan yang dilansir media lokal Al-Akhbar, kelompok JNIM (Jamaah Nusrah al-Islam wal Muslimin) mengumumkan telah melancarkan serangan kembar yang mematikan di ibukota Ouagadoudou pada hari Jumat. JNIM dipimpin oleh Syeikh Iyad Ag Ghaly yang berasal dari Mali. Kelompok jihadis afiliasi al-Qaidah ini juga berada di balik berbagai serangan sebelumnya di daratan Sahel yang luas di Afrika barat & utara.

Dalam pesannya, JNIM mengatakan serangan di Ouagadoudou merupakan reaksi balasan atas gugurnya sejumlah pemimpin mereka saat terjadi penggerebekan oleh militer Perancis di Mali bagian utara dua pekan yang lalu.

Pada hari Sabtu, otoritas setempat mulai melakukan penyelidikan termasuk mengumpulkan sejumlah barang bukti di kedua lokasi serangan. Efek ledakan bom mobil menyebabkan sebuah kawah/lubang besar di jalan yang berada persis di samping markas besar militer, termasuk sebuah lubang di sisi bangunan. Jendela-jendela terhempas jauh dan pada dinding bangunan terlihat banyak sekali bekas lubang dari timah panas.

Menteri Komunikasi Remis Fulgance Dandjinou ikut berkomentar bahwa serangan ini terkait dengan sebuah gerakan “teroris” dan kelompok-kelompok lainnya di wilayah Sahel yang ingin mendestabilisasi atau menghambat kemajuan demokrasi kita.

Seorang saksi mata bernama Sayouba Ouedraogo (36 tahun) yang bekerja sebagai sopir mengatakan, “Situasi hari itu (Jumat) sangat panik. Di kota, orang-orang terlihat berhamburan ingin pulang ke rumah masing-masing. Toko-toko tutup, demikian juga sekolah-sekolah juga tutup”.

Di hari Jumat jam 9 pagi mulai terjadi kontak senjata sengit di pusat ibukota Burkina Faso. Sejumlah saksi mata mengatakan 5 orang dengan bersenjata Kalashnikov keluar dari sebuah mobil lalu menembaki orang-orang sebelum kemudian mereka mengarah ke gedung kedutaan Perancis.

Mereka menggunakan kostum warga sipil dengan wajah tertutup. Sementara pihak keamanan mengatakan seorang penyerang yang menyerbu markas militer mengenakan kostum seragam tentara nasional. Di saat bersamaan, sebuah bom meledak di dekat markas besar militer Burkina Faso yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi serangan pertama.

Para pejabat berwenang dari negara-negara seperti Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania, dan Niger telah mengadakan pertemuan di markas besar militer tersebut dalam forum G5 Sahel. Kelompok G5 ini berencana akan melatih hingga 5.000 tentara dan ditargetkan akan mulai beroperasi penuh di akhir Maret ini.

“Setelah soft targets seperti hotel dan restaurant, serangan ini lalu menyasar ke hard targets berupa simbol (kedutaan),” kata Paul Koalaga. Koalaga merupakan seorang konsultan keamanan di Burkina Faso yang menganggap bahwa ada masalah di tingkat intelijen.

Seorang anggota satpam bank, Alassane Sawadogo, pada hari Sabtu mengkritik pemerintah terkait situasi keamanan yang semakin buruk. “Pemerintah hanya perlu bernegosiasi dengan para jihadis, (hal itu) apabila pemerintah tidak mampu memerangi mereka. Kami sudah bosan dan capek”, kata Sawadogo mengakhiri pernyatannya.(Syaf)

Sumber: Yahoo.com

Baca juga, AL-QAIDAH MENGUTUK PEMBANTAIAN MUSLIM DI GHOUTA