Duniaekspress, 6 Maret 2018. – Saat Donald Trump telah terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, masalah dan ketidakamanan telah berlipat ganda di wilayah Afghanistan, dan seluruh dunia pada umumnya. Meningkatnya masalah ini menunjukkan bahwa Amerika bersama dengan seluruh kekuatan yang dimiliki telah sepenuhnya gagal dalam perang yang ilegal dan terus berlanjut ini. Perang Afghanistan telah membawa Trump dan pemerintahannya pada kecaman keras oleh beberapa anggota Kongres Amerika.

Selama invasi brutal ke Afghanistan, para pembuat kebijakan Amerika berpikir bahwa mereka akan menjadikan Afghanistan sebagai wilayah jajahan permanen mereka, dalam hitungan beberapa hari dan malam. Mereka bermimpi akan meraup keuntungan dari posisi geografis yang strategis Afghanistan untuk menakut-nakuti negara-negara tetangga.

Amerika menganggap pendudukan di Afghanistan akan berlangsung mudah, cepat dan sangat ringan, sama mudahnya dengan mencuri permen dari bayi. Mereka hanya mengerahkan 1.300 tentara pada tahun 2001 di awal invasi, namun menghadapi perlawanan historis oleh rakyat Afghanistan. Mereka bahkan meminta bantuan politik dan militer dari lima puluh negara termasuk NATO dan pada puncaknya mereka mengerahkan seratus ribu tentara di tahun 2010, namun tetap gagal mencapai misinya.

Saat ini Amerika dan sekutunya masih memiliki puluhan ribu tentara di Afghanistan dan pesawat pembom mereka masih beroperasi di sebagian besar wilayah udara Afghanistan. Tanpa ampun mereka menyerang orang-orang Afghanistan yang tak berdaya, mengorbankan nyawa puluhan anak-anak, wanita dan warga sipil, namun pada akhirnya mereka akan menghadapi kekalahan terburuk di medan perang, tanpa memperoleh prestasi strategis.

Di sisi lain – karena kehadiran militer Amerika – kehidupan rakyat Afghanistan menjadi tidak aman, pelecehan dan korupsi telah mencapai puncaknya. Para pejabat rezim boneka tenggelam dalam korupsi dan manipulasi. Panglima perang feodal kembali lagi saat mendapat hasutan dari rezim boneka, yang secara umum merupakan bukti terbesar ketidak mampuan Amerika.

Lebih jauh lagi, menurut media internasional, 70 persen wilayah Afghanistan dikendalikan atau dipengaruhi oleh Taliban (Imarah Islam) sedangkan rezim yang berdiri atas dukungan militer, ekonomi dan politik Amerika, hanya menguasai kurang lebih 30% wilayah. Sangat masuk akal bahwa dalam waktu dekat otoritas rezim yang sekarang 30% akan menurun drastis dan lebih banyak wilayah akan berada di bawah kendali Emirat Islam dan Mujahidin.

Dengan kondisi seperti itu, satu-satunya solusi yang masuk akal untuk dilema Afghanistan adalah memberikan jawaban positif atas surat terakhir Taliban sehingga Amerika dapat sadar dari bahaya kampanye pemboman brutal dan bisa memahami kenyataan (bahwa mereka telah gagal). Dan kemudian mulai mempercayai pentingnya dialog, untuk mengakui status Imarah Islam Afghanistan sebagai perwakilan rakyat Afghanistan yang merdeka.

Hal penting yang harus disadari AS adalah  jika Amerika terus memperpanjang perang selama bertahun-tahun di Afghanistan, mereka akan menghadapi konsekuensi kehancuran seperti yang pernah dihadapi Uni Soviet sebelumnya. Amerika harus bertindak bijaksana, belajar dari pengalaman Soviet dan mulai berpikir untuk menarik pasukan dari Afghanistan bukan mengintensifkan dan memperluas perang dengan harapan menunda kekalahan mereka.

 

 

Sumber:   alemarah-english

 

Baca juga, THALIBAN : SEJAK AWAL KAMI MENGINGINKAN PERDAMAIAN BUKAN PERANG