Duniaekspress, 8 Maret 2018. – Damaskus – Militer Suriah dan sekutunya, Rabu (07/03), kembali mengintensifkan serangan ke Ghouta Timur, pedesaan Damaskus. Tak hanya dari udara, rezim juga bergerak dari darat. Tujuan serangan kali ini untuk memecah Ghouta Timur menjadi dua bagian.

Foto: Ket. Panah Merah: titik pergerakan militer Suriah. Warna Orange: wilayah direbut militer Suriah

Lembaga pengawas HAM Suriah, SOHR, melaporkan bahwa militer rezim sedikit lagi memegang kendali daerah yang memisahkan antara Ghoutah Timur bagian utara dan selatan. Daerah itu menjadi sasaran mesin perang rezim dan tidak lama lagi diprediksi akan jatuh.

TV pemerintah Suriah menayangkan pertempuran sengit di pinggiran Kota Misraba. Asap pertempuran membumbung tinggi ke langit, menunjukkan tengah terjadi pertempuran sengit. Suara ledakan berkali-kali terdengar.

Kota Misraba memisahkan antara Kota Duma, kota terbesar di Ghouta Timur yang terletak di utara, dan kota-kota kecil lainnya di wilayah selatan. Jika kota ini jatuh, Ghouta Timur terbagi dua.

Warga yang tinggal dekat front pertempuran melarikan diri menuju Duma. Mereka berlindung di lantai-lantai paling dasar gedung bertingkat. Mereka bergabung dengan warga lainnya yang lebih dahulu berlindung.

Petugas kemanusiaan mengatakan bahwa warga di kota Duma memanfaatkan ruang bawah tanah untuk berlindung dari serangan udara. Banyak dari mereka anak-anak dan wanita. Kepada petugas kemanusiaan, anak-anak mengatakan bahwa mereka tidak melihat matahari sejak 20 hari lalu.

Warga Duma, Andad (30), mengungkapkan dalam sambungan telepon dengan Reuters bahwa “kondisi di tempat perlindungan sangat memprihatinkan namun itu lebih baik daripada terkena serangan gempuran”. Adnan berlindung bersama istri, anak perempuannya yang baru berusia 2,5 tahun dan 10 kerabatnnya.

SOHR menyebutkan, total korban di Ghouta Timur sejak agresi terakhir rezim Suriah sudah mencapai 850 orang. Gempuran masih terus berlanjut dan warga dalam kondisi memprihatinkan akibat kekurangan makanan dan obat-obatan.

Militer Suriah kembali mengirim pasukan tambahan untuk merebut Ghouta Timur di pedesaan Damaskus dari tangan pejuang oposisi. Dilaporkan sebanyak 700 anggota milisi pendukung rezim diturunkan pada Rabu (07/03).

Lembaga pengawas HAM Suriah, SOHR, menunjukkan ratusan militan itu berasa dari dalam dan luar Suriah. Milisi dari luar Suriah berasal dari Afghanistan dan Palestina. Mereka dilatih dan disenjatai oleh Iran.

Direktur SOHR, Rami Abdurrahman, mengatakan bahwa milisi-milisi itu masuk ke Ghouta Timur sejak Selasa malam. Mereka disebar di front-front baru di daerah Rayhan, timur laut Ghouta Timur, hingga kota Harasta, yang terletak di barat. Rezim nampaknya ingin menyasar kota Duma, kota terbesar di Ghouta Timur yang dikendalikan Jaisyul Islam.

Lembaga yang bermarkas di Inggris itu menjelaskan bahwa tujuan penambahan pasukan ini untuk memecah wilayah Ghouta Timur menjadi dua bagian, utara dan selatan. Jika ini berhasil, kota Duma yang berada di utara teriosalis penuh.

SOHR menunjukkan, militer rezim terus meraih kemajuan di lapangan. Bahkan, lembaga tersebut memprediksi rencana militer Suriah itu berhasil. Hal itu terlihat semakin terdesaknya pasukan oposisi yang berupaya mengagalkan strategi musuhnya itu.

Sementara itu, juru bicara Jaisyul Islam, Hamzah, mengatakan bahwa pejuangnya akan terus mempertahankan Ghoutah Timur. Dia mengaku tidak akan menerima segala kesepakatan yang memaksa pejuangnya keluar dari Ghoutah.

Foto: Proses evakuasi korban serangan rezim di Ghouta Timur

“Tidak ada negosiasi apapun terkait hal ini. Faksi-faksi di Ghouta, pejuang dan warganya, akan terus bertahan,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Rusia telah menawarkan warga dan pejuang di Ghouta Timur dengan selamat, dengan syarat Ghouta diserahkan kepada rezim.

Gempuran dan pertempuran sampai saat ini masih berkecamuk di Ghouta Timur. Sebanyak 400 ribu warga terjebak dalam pertempuran. Segala upaya gencatan senjata tak berlaku akibat kebrutalan rezim Assad.

Ghouta Timur sendiri mayoritas dikendalikan oleh dua faksi, Jaisyul Islam dan Faylaq Ar-Rahman. Kendati kedua faksi ini rajin ikut dalam negosiasi internasional, hal itu tak membuat bantuan militer dari negara-negara PBB datang.

Sumber: mc-doualiya.com dan  Reuters

 

Baca juga, KORBAN PESAWAT KARGO RUSIA YANG JATUH DI SURIYAH SELURUHNYA TENTARA AKTIF