Duniaekspress, 21 Maret 2018. – Pada tanggal 14 Maret 2018, Al-Malahem, media outlet Al-Qaidah di Jazirah Arab (AQAP), meluncurkan sebuah buletin baru bernama Madad. Edisi pertama buletin ini didedikasikan untuk Ahmad Nasr Jarrar, seorang pejuang Hamas yang membunuh seorang Rabbi Israel pada Januari 2018. Ia lalu gugur sebagai syahid di tangan tentara Israel pada awal Februari.

Buletin tersebut memanggilnya “pewaris syahid” dan “ikon pejuang jihad,” untuk memuliakannya, dan memujinya sebagai panutan bagi orang-orang Palestina yang memerangi Israel.

Perlu dicatat bahwa Al-Qaidah melihat jihad demi membebaskan Palestina sebagai tujuan yang sangat penting, dan memandang lengan militer Hamas (berlawanan dengan aparat politiknya) sebagai sebuah organisasi jihad yang sah, walaupun pemimpin Al-Qaidah sering  mengkritik keras aparat politik Hamas itu sendiri.

Dalam hal ini, Al-Qaidah berbeda dengan Negara Islam (Islamic State, IS) yang melihat semua bagian Hamas sebagai pelaku bidah, dan tidak memprioritaskan jihad di Palestina atas jihad di arena lain. Namun, meski dianggap penting bagi Palestina, dan meskipun memiliki cabang di banyak arena di Timur Tengah, sampai saat ini organisasi tersebut tidak memiliki cabang yang berjuang secara terbuka di Palestina.

Edisi pertama buletin tersebut didedikasikan kepada Jarrar yang secara luas diakui oleh masyarakat Palestina. Selain itu juga  berisi pengakuan atas kemuliaan perang di Palestina, dan penekanan kembali atas komitmen Al-Qaidah terhadap perang ini, yang merupakan bagian dari usaha Al-Qaidah untuk mengkompensasi kelemahannya di wilayah tersebut.

Pada saat yang sama, buletin tersebut juga menekankan arahan Al-Qaidah pusat, yaitu bahwa agar Palestina dapat dibebaskan, jihad pertama-tama harus dilancarkan melawan Amerika, yang merupakan “kepala ular”.

Berikut adalah kutipan dari buletin Madad tentang Jarrar.

“Selama 60 tahun terakhir, Yerusalem yang terluka terjerat di bawah kaki orang Yahudi yang menginjak-injaknya dengan bantuan dari negara-negara salib Salib [yaitu, Barat], dan kolaborasi terbuka dari para pengekor mereka dari penguasa Arab, yang menjaga perbatasan Yahudi dan mempersulit umat Islam. Namun, setelah semua ini, [mereka memiliki keberanian untuk] mengklaim sebagai bagian dari umat Islam!

“Meskipun ada konspirasi untuk melawan [Palestina], konvergensi dari semua tentara, dan pengepungan mencekik selama beberapa dekade terakhir, tetapi [Palestina] masih berdiri dengan kepala terangkat tinggi. [Palestina] mengejutkan kita setiap hari dengan salah satu spirit  kemuliaan pejuang jihad Muslim Palestina yang dalam kondisi kekurangan sebagian besar aspek-aspek materi.  [Tapi] dia mampu meneror penjajah Yahudi dan menyebabkannya—meski memiliki kemampuan yang sangat besar—setiap hari dalam bencana, dan selalu mengantisipasi setiap hari sebuah bencana yang lebih buruk daripada bencana yang terjadi sebelumnya. Pejuang jihad Palestina melanjutkan rencananya dan bekerja dengan tekun untuk mencapai hal yang tidak mungkin.

“Selama Palestina memiliki orang-orang seperti Ahmad Jarrar, maka ia akan berada di ambang menuju jalan keluar dan kemenangan yang besar. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan. Apakah di sana, di manapun di dunia ini, [orang-orang yang] berkorban seperti saudara-saudara kita di Palestina? Anda menemukan mereka dengan bersemangat memulai jihad, meskipun mereka tahu apa konsekuensinya, dan tahu bahwa orang-orang Yahudi akan menggunakan setiap cara tercela untuk memukul gagasan jihad fi sabillah di negeri ini.

“Salah satu contohnya, setetes air dalam lautan pengorbanan dan pewaris para syuhada, yaitu Ahmad Jarrar, putra seorang  yang juga syahid dan anak dari ibu yang salehah. Kedua orang tuanya telah  mengangkatnya menjadi ikon bagi para jihadi dan bagi mereka yang berjaga mempertahankan Palestina. Dia berhasil, terlepas dari keterbatasan sarana yang ada padanya, untuk menempatkan orang-orang Yahudi di mata badai [dan menunjukkan] kebenaran tentang ketidakberdayaan Mossad dan kebohongannya atas berbagai kemampuannya yang sering didengung-dengungkannya.

“Hal itu [tampak] setelah keberhasilannya  membunuh salah satu pemimpin besar mereka, Rabbi Raziel Shevach, dan kemudian menghalangi kemampuan mereka untuk mengendus [posisi]nya . Jika bukan karena agen Yahudi di dalam pasukan intelijen [Mahmoud] Abbas, mereka tidak akan pernah berhasil membunuhnya, Insya Allah.

Orang-orang Yahudi baru berhasil menemukannya setelah tiga minggu mengejar dan mengikutinya dengan operasi berskala besar. Mereka mengepung tempat persembunyiannya, namun dia menolak untuk menyerah dan bertempur sampai dia terbunuh, semoga Allah merahmatinya. Hal terakhir yang ditemukan di tempat persembunyian martir adalah hadiah dari ibunya, sebuah Quran, dan sedikit makanan.

Dari ini, kami harus menyinggung salah satu rahasia besar si pahlawan, Ahmad Jarrar. Bagaimana ia tumbuh? Dan bagaimana ia hidup [dibesarkan] sehingga menjadi salah satu pahlawan umat Islam dan [menjadi] seorang jihadi, serta mengikuti jejak langkah ayahandanya. Rahasia ini terjawab dari penuturan ibundanya, Khattam Jarrar. Tatkala ia wawancarai tentang rahasia tersebut, ia menjawab, “Saya mendidiknya dengan pendidikan terbaik (tarbiyyah shalihah). Kemudian ia sendirilah yang memilih jalan [jihad].

Kemudian saat host mengejar pertanyaan tentang ‘apa pendidikan terbaik itu?’ Ibunya lantas menjawab, “Tentu dengan Al-Quran, dan [menanamkan] takut kepada Rabb kami [Allah].”

“Orang ini, Ahmad Nasr Jarrar, memenuhi kewajibannya terhadap problematika ummat, [yaitu membebaskan] Palestina dan Masjid Al-Aqsa. Hal ini dibebankan kepada seluruh ummat Muslim pada umumnya, dan kepada orang-orang di Palestina pada khususnya, untuk memikul tanggung jawab dan menyelesaikan jalan [membebaskan Palestina]

Mereka harus berdiri satu barisan laksana bangunan yang solid lalu terjun dalam peperangan ummah di berbagai arena dan di banyak bidang. Mereka harus menjauhkan diri semua dosa, konflik dan perselisihan yang dapat menunda kemenangan. Membebaskan Palestina adalah kewajiban bagi kita semua. Setiap pejuang jihad Muslim harus bekerja siang dan malam untuk memperjuangkan [pembebasan Palestina].

[Tapi] kita tidak boleh melupakan peran yang dimainkan oleh kepala ular, Amerika, dalam membela orang Yahudi. Manifestasi terbaru dari ini adalah desakan orang-orang Amerika untuk mengubah Yerusalem menjadi ibu kota penjajah Yahudi. Sebagai Syahidul Umah, Osama bin Laden, mengatakan, “Amerika dan Israel adalah dua sisi dari mata uang yang sama.” Dia juga mengatakan, “Jangan berkonsultasi dengan siapa pun [dalam] membunuh orang Amerika.”

Dan kami [Al-Qaidah] pada kesempatan ini mengatakan kepada orang Yahudi bahwa umat [Islam] tidak akan pernah meninggalkan kewajibannya untuk membebaskan negeri yang diberkahi [Palestina]. [Aksi] yang dilakukan martyr kami, Ahmad Jarrar, hanya salah satu episode dari episode-episode pertempuran. Umat Muhmmad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—akan menempuh jalan yang sama guna merealisasikan kabar gembira yang pernah disampaikannya, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umat Islam memerangi Yahudi, lalu umat Islam membunuh mereka hingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Pohon dan batu pun berkata, ‘Wahai Muslim! Wahai Hamba Allah! Ini orang Yahudi di belakangku. Kemarilah! Bunuhlah dia’. Kecuali pohon Gharqad. Ia adalah pohon Yahudi.” [HR. Muslim]

Sumber:   jns azelin.files

Baca juga, TAKTIK JITU AL-QAIDAH YAMAN AMANKAN PROSPEKNYA