Duniaekspress 14 Mei 2018. – Teheran – Pemerintah Iran membantah tudingan Israel yang menyebutnya meluncurkan serangan roket ke Dataran Tinggi Golan yang diduduki pada Kamis (10/5) lalu. Menurut Teheran tudingan tersebut palsu dan tak berdasar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasem mengatakan serangan Israel terhadap Suriah dengan dalih pembalasan atas serangan roket ke Dataran Tinggi Golan tak dapat ditoleransi.

“Serangan rezim Zionis terhadap Suriah di bawah alasan yang dibuat dan tak berdasar adalah pelanggaran kedaulatan nasional dan integritas teritorial Suriah serta bertentangan dengan semua hukum dan peraturan internasional,” kata Qasem pada Jumat (11/5), dikutip laman Aljazirah.

Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut. “Iran sangat mengutuk serangan (Israel) terhadap Suriah. Keheningan komunitas internasional mendorong agresi Israel. Suriah memiliki hak untuk membela diri,” ujar Qasem.

Kendati demikian, Israel tetap teguh pada alasannya melancarkan serangan ke Suriah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menilai kehadiran militer Iran di Suriah memang menjadi ancaman serius bagi Israel. “Iran telah melewati garis merah. Respons kami tepat,” kata Netanyahu menanggapi serangan Israel ke Suriah.

Netanyahu pun memperingatkan akan mengambil tindakan militer lebih lanjut di Suriah. Ia menegaskan Israel tak segan menyerang setiap negara yang mengancam keamanannya.

“Tentara Israel melakukan serangan besar, serangan yang sangat luas terhadap sasaran-sasaran Iran di Suriah. Saya mengirim pesan yang jelas kepada rezim Bashar al-Assad bahwa tindakan kami ditujukan pada sasaran-sasaran Iran di dalam Suriah. Namun jika tentara Suriah akan bertindak melawan kami, kami akan bertindak melawannya,” ujar Netanyahu.

Ketika ketegangan antara Israel dan Iran terus meningkat, PBB, Rusia, Prancis, Jerman dan Inggris mendesak kedua negara untuk menghindari eskalasi lebih lanjut. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak kedua negara segera menghentikan semua tindakan konfrontatif yang dapat memicu peperangan baru di Timur Tengah.

Israel sebenarnya telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk serangan Iran ke Dataran Tinggi Golan. Namun karena pandangan dan sikap yang terpecah di Dewan Keamanan terkait Suriah, tak memungkin diterbitkannya pernyataan. Hingga Jumat pagi, tak satu pun anggota Dewan Keamanan meminta digelarnya sebuah pertemuan untuk membahas serangan tersebut.

Pada Kamis dini hari lalu, puluhan roket menghantam basis Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Dataran Tinggi Golan. Serangan tersebut tak menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Israel menuduh Jenderal Qassem Soleimani selaku tokoh yang bertanggung jawab atas cabang operasi eksternal Korps Pengawal Revolusi Iran sebagai dalang serangan itu.

“Serangan (ke Dataran Tinggi Golan) diperintahkan dan dikomandoi oleh Qassem Soleimani dan itu belum mencapai tujuannya,” kata juru bicara IDF Letnan Kolonel Jonathan Conricus, dikutip the Guardian.

Conricus memandang serangan Iran ini sangat parah. Tak tunggu lama, menjelang pagi, Israel melancarkan serangan udara ke Suriah yang menargetkan objek-objek dan fasilitas militer Iran di negara tersebut. Israel mengklaim berhasil menghancurkan puluhan objek militer Iran serta lima instalasi anti-peswat Suriah.

Israel mengaku sebelum serangan dilakukan, mereka telah memberitahu Rusia yang diketahui merupakan sekutu utama Suriah. Selain itu, Israel pun memerintahkan Damaskus agar tak ikut campur atau mengintervensi serangannya yang mengincar fasilitas militer Iran di sana.

Kendati telah diperingatkan, media pemerintah Suriah melaporkan bahwa pertahanan udara Suriah tetap mencegat sebagian besar roket yang ditembakan ke Damaskus. Media itu juga menyebut bahwa stasiun radar dan tempat penyimpanan senjata Suriah turut menjadi sasaran serangan Israel. (AB)

sumber: republika