Duniaekpress.com (14/5/2018)- Pemimpin Al-Qaeda Syaikh Ayman azh-Zhawahiri pada Ahad (13/5/2018) mengatakan bahwa keputusan Amerika untuk memindahkan kedutaan Israel ke Yerusalem adalah bukti bahwa negosiasi telah menggagalkan rakyat Palestina, dan dia mendesak umat Islam untuk melakukan jihad melawan Amerika Serikat.

Dalam video berdurasi lima menit yang berjudul “Tel Aviv Juga Tanah Muslim,” dokter asal Mesir yang mengambil alih kepemimpinan Al-Qaeda setelah pendirinya Syaikh Osama bin Laden terbunuh pada 2011, menyerukan pengikutnya untuk mengangkat senjata.

“Presiden AS Donald Trump telah jelas dan eksplisit, dan ia mengungkapkan wajah sebenarnya dari Perang Salib modern, di mana negosiasi dan jalan damai tidak mempan kepada mereka, tetapi hanya perlawanan melalui seruan dan jihad,” kata Syaikh Ayman, menurut sebuah transkrip yang diterima oleh agen pemantauan SITE.

Dia juga mengungkapkan, bahwa Syaikh Osama Bin Laden telah menyatakan bahwa AS adalah “musuh utama kaum Muslim, dan dia bersumpah AS tidak akan memimpikan keamanan sampai ia hidup dalam kenyataan di Palestina, dan sampai semua tentara-tentara kafir itu meninggalkan tanah Nabi Muhammad.”

Dia mengatakan bahwa negara-negara Muslim telah gagal dalam membela kepentingan umat Islam dengan masuk ke PBB, yang mengakui Israel, dan tunduk pada resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB yang bukan syariah (hukum Islam).

Orang-orang Israel bergembira dalam kebanggaan nasional dan semangat pro-Amerika pada hari Ahad ketika puluhan ribu orang berbaris di Yerusalem, sehari sebelum kedutaan AS dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

ISRAEL TEMBAK MATI 28 WARGA PALESTINA DI GAZA

MENTERI PALESTINA SERUKAN DUNIA ISLAM BELA AL-AQSHA

HAMAS KECAM SERBUAN PEMUKIM YAHUDI KE AL AQSHA

Sementara itu, rakyat Palestina melakukan aksi protes pada Senin atas pemidahan kedutaan AS, termasuk juga demonstrasi massa yang masih berlangsung di Jalur Gaza, dekat perbatasan dengan Israel.

Pemindahan kedutaan AS akan berlangsung pada ulang tahun ke-70 Nakba, memperingati lebih dari 700.000 orang Palestina yang terusir dari kampung halamannya dalam perang 1948 saat “pembentukan negara Israel”. [Arrahmah.com]