Duniaekspress.com (14/5/2018)- Gerakan perlawanan Islam Hamas mengecam penyerbuan pemukim yahudi ke Masjid Al-Aqsha dengan mengibarkan bendera Israel di pelataranya menjelang peringatan hari Nakbah (penjajahan Zionis ke Palestina) yang bersamaan dengan pemindahan kedubes Amerika Serikat ke Al-Quds.

Juru bicara gerakan Hamas, Abdul Latif Qanu mengatakan, penyerbuan tersebut merupakan aksi bodoh yang dilindungi Amerika.

“Aksi tersebut merupakan bentuk dari pelecahan dan tantangan terhadap perasaan ummat Islam dan Arab seluruhnya, disamping merupakan penodaan terhadap tempat suci ummat,” Tegasnya.

Hamas menegaskan, penyerbuan tersebut butuh sikap Arab dan Islam di semua kalangan. Disamping dukungan terhadap bangsa Palestina tentunya.

Qanu menyerukan bangsa Palestina yang tinggal di Tepi Barat dan Al-Quds terjajah untuk bersikap tegas terhadap segala bentuk penodaan dan pelecehan terhadap simbol kesucian ummat. Semua elemen bangsa seharusnya bersatu padu dalam melawan semua agresi Zionis diantaranya mendukung aksi Kepulangan dan meningkatkan Intifadhah Al-Quds dan melawan semua serangan para pemukim Zionis.

Sebelumnya dikabarkan dari dalam Al-Aqsha kepada pusat informasi Palestina yang menjelaskan, kondisi di sana dalam keadaan sangat sulit, menyusul ratusan pemukim radikal Al-Aqsha selama kurang lebih satu jam. Situasi sangat tegang ditengah seruan untuk melindungi Al-Aqsha semakin gencar.

Ia menjelaskan, aksi penyerbuan yang dilakukan para pemukim radikal Zionis akan terus berlangsung sepanjang pagi. Mereka bahkan bertekad untuk memasukan ratusan ekstrimis Zionis ke Al-Aqsha selama hari Ahad ini, berkenaan dengan hari raya “Penyatuan Al-Quds” menurut pemahaman mereka.

Aksi ini akan dihadiri sejumlah besar dari kalangan rahib dan agamawan yahudi radikal bersama para pemimpin dari kelompok yahudi radikal.

Dalam kesempatan ini, tentara Zionis malah menyerang para penjaga Masjid Al-Aqsha, hingga terjadi baku hantam antara mereka.

Kejadian ini terjadi, paska penolakan dari penjaga Palestina dan melarang pagelaran ritual yahudi secara terang-terangan di pelataran Al-Aqsha. Sumber pejabat dan urusan wakaf Palestina di Al-Quds, Faras Dabbah mengatakan, kondisi tambah sulit, sejak dibukanya gerbang Al-Mugaribah oleh polisi Zionis dan masuknya ratusan pemukim Israel secara masiv.

Sebelumnya, organisasi Haikal telah mengumumkan kepada anggotanya khususnya dan kaum yahudi secara untuk ikut bersama-sama kelompoknya melakukan penyerbuan ke Al-Aqsha semakin masiv lagi, bersamaan dengan peringatan penjajahan Al-Quds oleh Israel pada 13 Mei ini.

Sementara itu, para pemukim di dalam pamplet yang mereka sebarkan mengajak seluruh ummat yahudi untuk merealisasikan standarisasi kunjungan pemukim Zionis ke Al-Aqsha tahun ini. Tahun ini, para pemukim Zionis akan merayakan 51 tahun penjajahan Al-Quds timur oleh polisi Zionis sebelum perang 5 Juni 1967 yang mereka sebut dengan hari pengambil alihan Juni. Mereka menggelar acara-cara seronok, nyanyian dan bendera penjajahan yang tentunya memancing-mancing perasaan kaum muslimin.

Yang disebut dengan hari “Penyatuan Al-Quds” oleh bangsa yahudi adalah hari pembagian Al-Aqsha, dimana di bagian barat Al-Quds berada dalam kekuasaan Israel dan bagian timurnya dikuasai oleh Yordania. Sementara mereka meyakini bahwa hari itu adalah hari penyatuan Ak-Quds sebagai ibu kota abadi bagi Israel.

Israel menjajah bagian barat Al-Quds pada 1948 yang merupakan wilayah terbesar sekitar 84,1 % saja. Sementara bagian timur hanya 11,5 % dari wilayah keseluruhan Al-Quds yang dikuasakan kepada Kerajaan Yordania pada tahun 1967. Adapun sisanya yaitu 4,4 % adalah wilayah pelucutan senjata, dijaga dan diawasi tentara Palestina. [fan]