BENANG KUSUT TERORISME

Aksi-aksi terorisme menyisakan stigma kepada umat Islam. Aksi kutuk mengutuk tidak menyelesaikan persoalan.

Duniaekspress.com (17/5/2018)– Kasus “pemberontakan’ Napi teroris di Mako Brimob, Depok, bom bunuh diri di gereja dan Mapolresta Surabaya, membuat keprihatinan yang mendalam. Diantara bentuk keprihatinan adalah dengan cara menggelar diskusi guna melihat lebih dalam kasus tersebut.

“Mengurai benang kusut Terorisme,” begitulah tema diskusi yang digelar oleh LPPDI Thoriquna yang digelar di Larazeta Restaurant & Gallery di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa(15/5) siang.

Ada tiga pembicara dalam diskusi tersebut, Ustadz Yusuf Muhammad Martak (Ketua GNPF-Ulama), Ustadz Haris Amir Falah (Pembina Jamaah Thoriquna), dan Dudy Sya’bani Takdir (Ketua Umum Forjim).

Darimana mulainya? Adalah ustadz Haris Amir Falah yang menginformasikan bahwa kelompok ini adalah kelompok takfiri, mereka yang bukan kelompoknya divonis kafir. “Mereka tidak mau dengar nasihat ustadz yang berasal dari luar kelompoknya,” tutur Haris yang sudah puluhan tahun mengabdikan dirinya di jalur dakwah dan gerakan, ini.

Sementara itu, Ustadz Yusuf Muhammad Martak menghimbau, agar umat Islam tetap bijak dalam mensikapi kondisi yang ada. “Jangan sampai kasus Surabaya membuat ukhuwah jadi pecah,” tuturnya. Menurut Yusuf, banyak hal yang mesti dibenahi dalam bernegara dan bermasyarakat ini.

Yusuf menunjuk tentang RUU Anti Teror yang sudah dua tahun nggak kelar-kelar. “Ini mesti jelas duduk soalnya, dimana kendalanya,” tuturnya. “Kita disuguhi pernyataan yang saling menyalahkan, antara DPR dengan pemerintah,” ucapnya.

Ia juga menghimbau, agar para pejabat tertata dan terukur dalam memberikan pernyataannya, agar masyarakat mendapat informasi yang akurat dan bisa menentramkan.

Sementara itu, Dudy Sya’bani Takdir, mengemukakan bahwa kasus -kasus terorisme belakangan ini membuat pemberitaan jadi terbelah. “Media arus utama cenderung tidak berimbang dan tendensius dalam pemberitaannya,” katanya.

Kasus bom di Mako Brimob dan bom bunuh diri di Surabaya memang telah menimbulkan fitnah baru. Antara lain, adanya kebencian kepada mereka yang bercadar. Begitu mudahnya mereka dituduh sebagai teroris, dan karena itu mesti dikucilkan. Ini terlihat adanya penumpang Bus yang diturunkan, ada penumpang angkot yang diolok-olok oleh penumpang lainnya, hanya karena ia memaka cadar. Ironinya, mereka yang mengolok-ngolok itu juga dari kalangan yang mengaku dan ber-KTP Muslim.

Oleh sebab itu, di awal Ramadhan kali ini, umat Islam mesti meningkatkan kualitas dan kuantitas dakwahnya, menjelaskan bahwa berjilbab dengan memakai cadar itu adalah tuntunan syar’i, sedangkan aksi-aksi bom bunuh diri itu hal lain, yang tidak diajarkan oleh ajaran Islam.

H. Mohammad