Duniaekspress.com (16/5/2018)- Mantan kepala biro politik Hamas Khaled Misy’al menegaskan bahwa faksi-faksi perlawanan tidak berada di belakang aksi unjukrasa yang terjadi di perbatasan Gaza, akan tetapi lanjut Misyal mereka adalah orang-orang tidak bersenjata (sipil, red) yang berusaha mengirimkan tiga pesan ke dunia.

“Pesan-pesan ini adalah: Aku ingin kembali ke tanah airku dan negeriku yang aku diusir dari sana. Sekarang waktunya blokade berakhir dan al-Quds adalah kota Arab dan Islam, kami tidak terima sikap Amerika,” Jelas Misy’al dalam wawancaranya dengan TV Aljazeera, Selasa (15/5/2018).

“Bahwa semua melihat pemandangan di Gaza adalah gerakan rakyat dan bukan faksi, murni gerakan rakyat,” tambahnya.

Misy’al menyerukan agar model perlawanan rakyat yang terjadi di Jalur Gaza ditransfer ke Tepi Barat melalui konsensus nasional. Dia menegaskan bahwa hal itu akan menjadi kesulitan besar bagi penjajah Zionis.

LIGA ARAB: SERET ISRAEL KE PENGADILAN INTERNASIONAL

ERDOGAN: HAMAS BUKAN ORGANISASI TERORIS

Mengenai permintaan internasional untuk menyelidiki pembantaian yang dilakukan penjajah Zionis di Gaza, Misy’al mengatakan, “Kami sudah berpengalaman dengan penyelidikan, suatu cara untuk menunda kasus.” Dia mengingatkan bahwa siapa yang ingin menang di arena internasional harus mengutuk kejahatan Israel.

Dia menambahkan bahwa siapa pun yang ingin mengakhiri tragedi kemanusiaan harus segera membebaskan blokade Gaza. Dia menjelaskan bahwa kekuatan-kekuatan internasional memiliki kemampuan, bahwa jalur penyelidikan bukanlah yang terbaik, tetapi mengecam penjajah Zionis adalah yang harus dilakukan. [fan]