Duniaekspress.com. (21/5/2018). Mantan Pimpinan Jaringan Anshorut Tauhid (JAT), UstadzAbu Bakar Ba’asyir mengatakan serangkaian serangan bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo adalah hal yang tidak benar.

“Opo kuwi? Ora bener. (Apa-apaan itu? Enggak bener),” kata UStadza Ba’asyir seperti yang disampaikan oleh putra kandung Abu Bakar Ba’asyir, Abdul Rochim Ba’asyir kepada media.

Meski tidak mengerti banyak, mengenai detail penyerangan, Ba’asyir, lanjut Abdul mengecam keras tindakan yang justru akan merugikan Islam tersebut.

Apapun alasan yang dipakai oleh pelaku, tidak dapat dibenarkan.

Di semua ajaran agama, tidak ada satupun yang menghalalkan tindakan tersebut.

Mantan pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan JAT juga mengatakan bahwa negara saat ini tidak dalam kondisi berperang dengan penjajah.

Islam juga tidak dalam kondisi terdesak, sehingga perbuatan yang membunuh diri sendiri dan orang lain, bukanlah hal yang benar.

“Beliau sama sekali tidak membenarkan penyerangan ini,” tukasnya.

Namun begitu, dirinya dan keluarga tetap meyakini bahwa mereka yang melakukan aksi pengeboman merupakan perintah dari oknum dari intelejen dalam negeri dan asing.

Pasalnya, serangan tersebut berlangsung secara sporadis dan tidak jelas tujuannya.

“Ini sangat sporadis. Tidak jelas apa maunya. Kami beranggapan, ini kerjaan oknum intelejen dan intelejen asing,” jelas Abdul Rochim.

Ustadz Abu Bakar Baasyir usai menjalani cek kesehatan di RSCM Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). (Tribunnews.com/ Rizal Bomatama)

Ustadz Abu Bakar Baasyir usai menjalani cek kesehatan di RSCM Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018)

 

Dirinya juga menceritakan, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai narapidana teroris yang saat ini mendekam di Lapas Gunung Sindur, Bogor, sempat dijaga ketat atas penyerangan bom yang terjadi di Surabaya.

Dia menilai, sosok Ustadz Abu Bakar  Ba’asyir sempat dihubung-hubungkan dengan Aman Abdurrahman tahanan teroris yang diduga menjadi pimpinan Jamaah Anshorut Daulah.

“Ya kami sih memahami saja. Toh, mereka juga kerja. Tidak apa-apa,” lanjutnya.

 

Kompleks Pesantren Ngruki yang berada di Solo, Jawa Tengah, kini juga jadi sasaran pengintaian.

Ustadz Abdul rochim juga menjelaskan bahwa, banyak orang asing yang tidak dikenal masuk dan menyambangi pesantren.

Sebagian dari mereka beralasan ingin belajar agama di tempat tersebut.

Sebagian lainnya, berada di luar pagar untuk beberapa saat dan kemudian diganti dengan orang lain.

Tidak banyak kekhawatiran yang dialami oleh para santri dan pengurus.

Mereka menganggap hal itu wajar dilakukan oleh aparat, apabila benar.

Yang penting jangan sampai proses belajar di pesantren terganggu dengan kehadiran orang-orang berbadan tegap.

“Ya kami juga paham kalau kami sedang diintai. Tapi, kalau mereka bilang mau belajar di sini, ya silakan saja. Tidak ada yang melarang untuk belajar agama. Asal tidak mengganggu kami di sini,” ungkapnya. (AB)

 

Baca juga, GHULUW FIE DIEN AKAR TERORISME