BEBERAPA HOAKS DALAM KASUS MAKO DAN TEROR DI SURABAYA DAN MAPOLDA RIAU

Duniaekspress.com, 22 Mei 2018

Kasus perlawanan napiter JAD di rutan mako brimob kelapa dua dan bersambung dengan pemboman terhadap tiga gereja, ledakan di rusunawa Sidoarjo,  lalu pemboman di pintu masuk Polwiltabes Surabaya,  kemudian dilanjutkan dengan aksi penyerangan di Polda Riau menyisakan banyak pertanyaan dan misteri di kalangan masyarakat. Hal ini menciptakan masuknya berbagai teori dan kesimpulan bahkan hoaks yang dapat menjurus pada masalah politik nasional yang berseliweran di dunia medsos.   Untuk itu kami berkewajiban meluruskan beberapa informasi masalah kejadian  di atas yang bersifat hoaks.

1. Bahwa pemberontakan napiter dipicu oleh pelemparan alqur’an yang dilakukan petugas.

Ini adalah pemicu kerusuhan pertama,  bukan kerusuhan yang menyebabkan tewasnya beberapa polisi baru-baru ini.

Menurut sumber-sumber kami di dalam rutan mako yang berafiliasi pada non ISIS,  kejadian pelemparan alqur’an itu tidak ada,  yang terjadi adalah beberapa hape napiter JAD tertangkap oleh petugas dan orang-orang yang memiliki hape tersebut tidak terima dan memprovokasi teman-temannya dengan alasan pelemparan qur’an.

2. Kerusuhan dipicu karena makanan yang tidak layak.

Menurut informasi yang kami peroleh dari eksnapiter bahwa makanan yang diperuntukkan untuk napiter kualitasnya di atas makanan yang diperuntukkan napi umum lainnya. Termasuk pengakuan dari eksnapiter Sufyan Tasuri,

3. Kerusuhan dipicu karena istri-istri napiter yang mau membesuk dilecehkan dengan diperiksa dengan cara dibuka pakaiannya dan digrepe-grepe.

Hal ini juga disampaikan oleh TPM (Tim Pembela Muslim)  Ahmad michdan seperti yang dikutip dalam eramuslim:

https://www.eramuslim.com/berita/nasional/pemicu-rusuh-di-mako-brimob-versi-tim-pengacara-muslim.htm#.WvVFJKSFPDc

“Seperti istri para narapidana yang ingin membesuk harus digeledah untuk diperiksa. Nah istrinya mengadu (ditelanjangin) dan suaminya yang memiliki pemahaman Islam seperti itu, kan ini ranah privat,” ungkap Michdan.

Sebenarnya setelah kasus ketangkapnya beberapa hape pemeriksaan terhadap pembesuk semakin ketat, termasuk terhadap istri-istri yang membesuk,  tentunya untuk akhwat pemeriksaan dilakukan oleh polwan,  bukan polisi laki-laki. Apalagi jika hape-hape yang kegep tersebut ketahuan dipakai untuk melakukan koordinasi dengan JAD yang ada di luar.

Menurut narasumber kami yang dulu pernah ditahan di mako bahwa untuk memiliki hape sebenarnya bisa membelinya melalui petugas densus yang menjaga tahanan,  namun dengan syarat hanya peruntukan untuk menghubungi keluarga saja dan tidak dipakai untuk hal-hal lain apalagi amaliyat. Jika saja anak-anak JAD tersebut bersedia melakukan seperti ini kejadian ketangkapnya hape dan pengawasan yang ketat tidak terjadi. Namun kita tahu bahwa tahanan JAD tidak mau melakukan hal tersebut dikarenakan dianggap bagian dari mudahanah (berlaku lembut pada musuh).

4. Bahwa pelaku peledakan gereja di Surabaya (Dita dan keluarganya)  adalah deportan yang pulang dari Suriah. Hal ini diungkapkan oleh kapolri.

Faktanya bahwa keluarga ini belum pernah ke luar negeri. Hal ini dibocorkan oleh wartawan asing yang mewawancarai para tetangga pelaku:

Pada akhirnya kapolri menarik pernyataannya.

5. Pelaku teror gereja di Surabaya sebenarnya orang biasa yang diperalat oleh orang lain untuk kepentingan politik.

Di medsos tersebar informasi sebagai berikut :

“… pelaku ini dijebak diminta mengantarkan paket ke 3 gereja disurabaya, supaya lebih cepat sampai ke 3 lokasi karena akan dipakai oleh para jemaat gereja yg akan beribadah di hari minggu itu, maka anaknya si ibu ini jga ikut mengantar ke lokasi yg berbeda, tpi ternyata dari belakang ada algojo yg sudah siap memencet remot kontrol utk meledakkan bom di lokasi2 tersebut, begitu pula Bom yg meledak di Mapolres Surabaya, yg membawa Bom adalah seorang tukan ojek yg diminta membawa paket ke Mapolres tersebut dengan upah 100rbu. Sungguh cara yang BIADAB hanya demi Hausnya kekuasaan, Muslim yg menjadi kambing hitam… ”

Jelas bahwa informasi di atas adalah hoaks,  bagaimana mungkin seseorang disuruh membawa paket dan dia tidak meneliti isi paket tersebut, karena zaman sekarang baik narkoba atau barang delik lainnya sudah banyak kasus.  Kalau kita simak video cctv peledakan gereja terlihat jelas sang ibu dan dua anak perempuannya bahkan berlari menghindari kejaran satpam di parkiran motor.  Dan bagaimana pelaku yang membawa motor terburu-buru menuju halaman gereja dan bahkan menghindari orang yang ada di pintu parkiran.

6. Pelaku yang menyerang polda Riau setelah diperiksa mayatnya ternyata belum di sunat.

Hoaks yang tidak disertai bukti ini ingin mengarahkan audiens bahwa teror di polda Riau adalah rekayasa atas nama Islam. Informasi ini tidak berdasar dan pantas untuk dibuang mentah-mentah.

Demikianlah beberapa hoaks yang bisa kami sampaikan semoga kita tidak mudah percaya setiap informasi yang kita dapat dan bahkan menshare nya.

 

(ABU AKMAL)

Baca juga,  https://duniaekspress.com/2018/05/20/tanggapan-ustadz-abb-terhadap-aksi-bom-surabaya/

https://duniaekspress.com/2018/05/18/teror-bom-surabaya-dalam-timbangan-fiqih/