Duniaekspress.com. (29/5/2018). Bagaimana hukum puasa Ramadhan bagi para muallaf yang baru masuk Islam? Umat Muslim biasanya menyambut Ramadhan dengan suka cita. Tetapi menjalani puasa Ramadhan bagi seorang mualaf (baru masuk Islam) tak semudah umat Muslim yang setiap tahunnya berpuasa Ramadhan.

Dari kalangan kaum Muslimin saja masih banyak yang tidak berpuasa dengan alasan takut kurus, mulut bau, laper, bahkan ada yang beralasan takut kalau gak kuat di saat bekerja. Apalagi bagi mereka para muallaf yang baru masuk Islam yang belum terbiasa berpuasa bahkan belum pernah berpuasa.

Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta). Dan Allah Ta’ala sebagai pencipta syariat tidak menghendaki kesulitan tapi menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

 يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”(Al-Baqarah : 185)

Abu Ja’far ath-Thobari menjelaskan dalam tafsirnya maksud dari ayat di atas adalah rukhsah tidak puasa saat bersafar. Abdullah bin Sa’id berkata, “Apa-apa yang menurut kamu mudah maka lakukanlah”. (Abu Ja’far ath-Thobari, Jami’ul Bayan fi Takwilil Qur’an, cet.1, jilid 3, hal. 469)

Puasa Orang Yang Masuk Islam di Pertengahan Ramadhan

Jika ada seseorang muallaf (masuk Islam) yang baru  masuk Islam di pertengahan bulan Ramadhan. Maka secara hukum dia telah terbebani dengan kewajiban berpuasa Ramadhan. Namun, yang menjadi pertanyaannya, apakah ada kewajiban qodho, fidyah atau bagaimana ?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pernah ditanya, bagaimana hukum seorang laki-laki muallaf yang baru masuk Islam setelah beberapa hari di bulan Ramadhan. Apakah dia dituntut untuk berpuasa pada hari sebelum dia masuk Islam ?

Beliau menjawab, “Dia (laki-laki Muallaf) tidak dituntut untuk berpuasa pada hari sebelumnya. Karena dia masih dalam kekafiran pada hari-hari tersebut. Dan orang kafir tidak dituntut untuk mengqodho atau mengganti amal sholeh yang dia tinggalkan (termasuk puasa). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu”. (QS. Al Anfal: 38)

Dan para Sahabat Rasulullah Saw tidak diperintahkan untuk mengqodho ibadah puasa, shalat dan zakat yang dulu mereka tinggalkan (di waktu kafir).

Islam Itu Mudah

Shaikh Utsaimin ditanya kembali, lalu bagaimana seandainya dia masuk Islam di pertengahan hari? apakah wajib baginya menahan diri (dari hal yang membatalkan puasa) dan qodho’ ? Atau menahan diri saja tanpa meng-qodho’ ? Atau tidak diwajibkan baginya menahan diri dan tidak juga qodho’ ?

Beliau menjawab, ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Namun pendapat yang rajih (paling kuat) adalah wajib menahan diri tanpa meng-qodho.

Kenapa diwajibkan baginya menahan diri ? Karena dia menjadi mukallaf (terbebani) kewajiban syariat Islam. Kemudian, kenapa dia tidak wajib meng-qodho? Karena sebelum dia masuk Islam dia bukanlah orang yang terbebani kewajiban syari’at.

Keadaan orang ini seperti anak yang baru baligh (Mukallaf) di tengah hari (bulan Ramadhan). Maka wajib baginya untuk menahan diri dan tidak wajib meng-qodho’puasanya berdasarkan pendapat yang paling kuat dalam permasalahan ini. Berbeda dengan perempuan yang haid, dan orang sakit. Mereka tidak wajib berpuasa namun baginya qodho’”. (Syaikh Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rosail, jilid 19, hal. 97-98)

Demikianlah hukum seputar bulan Ramadhan bagi para muallaf yang baru masuk Islam. Islam itu memang indah dan mudah bagi pemeluknya. Namun, bilamana ada pemahaman yang mengatakan agama Islam adalah agama yang tertutup, tidak bisa bebas, banyak aturan dan lain sebagainya. Dikarenakan ketidaktahuan mereka akan keindahan dan kemudahan Islam secara benar. Serta kurangnya ilmu dan pemahaman yang benar akan Al Qur’an dan As-Sunnah serta qoulus salaf (perkataan para salaf). Wallahu ‘alam.  

Penulis: Ibnu Jihad

sumber : majalah an-najah.

 

Baca juga, PUASANYA SI PENCURI