KAFIR TAKYIN POLISI DAN TENTARA DENGAN DALIL KISAH DITAWANNYA AL-ABBAS PADA PERANG BADAR,  SAHKAH?

Duniaekspress.com, 30 Mei 2018.

Kisah tertawannya paman Rasululloh SAW Abbas bin Abdulmuthollib pada saat perang Badar sering sekali menjadi dalil akan kafir takyinnya tentara dan polisi di negeri-negeri kaum muslimin. Landasan kisah ini juga menjadi dalil oleh Ustadz Aman Abdurrahman,  mufti tertinggi anshar daulah di Indonesia. Berikut ini kutipannya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits yang globalnya ada dalam Shahih Al Bukhari memperlakukan Al ‘Abbas yang berada di barisan anshar thaghut Quraisy sebagaimana perlakuan terhadap orang kafir, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menawannya dan menyuruhnya untuk menebus dirinya, padahal dia itu mengaku muslim dan mengaku dipaksa ikut perang Badr, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh kepada pengakuan dan klaimnya itu dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Dhahir kamu di barisan kaum musyrikin memerangi kami, adapun rahasia bathin kamu maka urusan itu atas Allah, tebus diri kamu dan dua keponakanmu!” (Fathul Bariy).

Di sini jelas takfir mu’ayyan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada individu anshar thaghut walaupun dia mengaku dipaksa, beliau shallallahu‘alaihi wa sallam menghukumi dia kafir secara dhahir, dan batinnya diserahkan kepada Allah ta’ala dengan sebab pengakuan dipaksanya itu.

Maka bagaimana gerangan dengan tentara, polisi, intelejen dan anshar thaghut hukum lainnya (sipir penjara) yang tidak dipaksa dan mereka bersaing saat mendaftar, bangga dengan korpsnya dan seragamnya, merasa pada posisi kuat dengan menjadi penyembah thaghut itu…?!!

==Sekian kutipan==

Mari kita bahas secara ilmiyah,  apakah landasan tersebut bisa digunakan untuk memvonis aparat kepolisian dan tentara sebagai kafir secara takyin. Kami mengutip dari tafsir Ibnu Katsir tentang tafsir surat Al-anfaal ayat 70, mengingat kisah ini ada pada tafsir surat tersebut:

 

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Abbas ibnu Abdullah ibnu Mugaffal. dari sebagian keluarganya, dari Abdullah ibnu Abbas r.a.. bahwa Rasulullah Saw. bersabda dalam Perang Badar:

Sesungguhnya aku telah mengetahui sejumlah orang dari kalangan Bani Hasyim dan lain-lainnya, mereka berangkat ke medan perang karena dipaksa, padahal tidak ada urusan bagi mereka untuk memerangi kita. Maka barang siapa di antara kalian menjumpai seseorang dari mereka – yakni dari kalangan Bani Hasyim—, janganlah ia membunuhnya. Dan barang siapa yang menjumpai Abul Buhturi ibnu Hisyam, janganlah ia membunuhnya. Dan barang siapa yang menjumpai Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib, janganlah ia membunuhnya, karena sesungguhnya dia berangkat ke medan perang karena dipaksa.

Maka Abu Huzaifah ibnu ‘Utbah berkata.”Apakah kami membunuh bapak-bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami, dan famili kami, lalu kami biarkan Al-Abbas? Demi Allah, jika aku bersua dengannya, niscaya aku benar-benar akan membunuhnya dengan pedang.” Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Umar ibnul Khattab, “Hai Abu Hafs.” Umar mengata­kan, “Demi Allah, sesungguhnya hari itu merupakan hari pertama bagiku menerima julukan Abu Hafs dari beliau Saw.” Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah wajah paman Rasulullah Saw pantas dipukul dengan pedang?” Umar berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah saya untuk memenggal lehernya. Demi Allah, dia telah munafik.” Abu Huzaifah setelah peristiwa itu mengatakan, “Demi Allah, saya tidak merasa aman karena ucapan yang telah saya katakan itu; dan saya masih terus-menerus dicekam oleh rasa takut, kecuali jika Allah menghapusnya dengan menganugerahiku mati syahid.” Akhirnya Abu Huzaifah mati syahid dalam Perang Yamamah, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada dia.

Disebutkan pula dari Ibnu Abbas bahwa pada petang hari Perang Badar semua tawanan orang musyrik telah diikat, dan Rasulullah Saw. tidak dapat tidur pada permulaan malam harinya. Maka para sahabat berkata.””Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak tidur?” Saat itu Al-Abbas dalam keadaan ditawan oleh seorang lelaki dari kalangan Anshar. Maka Rasulullah Saw. bersabda.”’Aku mendengar rintihan pamanku —Al-Abbas— dalam ikatannya, maka lepaskanlah dia.” Beliau diam, lalu tidur.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, tawanan Perang Badar yang paling banyak tebusannya ialah tebusan Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib; karena dia adalah seorang hartawan, maka dia menebus dirinya dengan seratus auqiyah emas.

Di dalam Sahih Bukhari disebutkan melalui hadis Musa ibnu Uqbah. Ibnu Syihab mengatakan, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik, bahwa sejumlah lelaki dari kalangan Ansar mengatakan, “Wahai Rasulullah, izinkanlah bagi kami menggantikan Abbas dengan anak saudara perempuan kami sebagai tebusannya.” Rasulullah Saw. menjawab, “Jangan, demi Allah, kalian jangan mengeluarkan satu dirham pun untuknya.”

Yunus ibnu Bukair telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Yazid ibnu Ruman dari Urwah dari Az-Zuhri dari sejumlah orang yang dia sebutkan nama-namanya; mereka telah menceritakan bahwa orang-orang Quraisy mengirimkan tebusannya untuk menebus tawanan mereka yang ada di tangan kaum muslim, maka tiap-tiap kaum menebus orangnya masing-masing sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Al-Abbas berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang muslim sejak dahulu.” Rasulullah Saw. bersabda, “Allah lebih mengetahui keislamanmu. Jika keadaannya memang seperti yang engkau katakan, sesungguhnya Allah akan membalasmu. Tetapi dari lahiriahmu engkau melawan kami, maka tebuslah dirimu dan kedua keponakanmu, yaitu Naufal ibnul Haris ibnu Abdul Muttalib dan Uqail ibnu Abu Talib ibnu Abdul Muttalib. serta teman sepaktamu (yaitu Atabah ibnu Amr, saudara lelaki Banil Haris ibnu Fihr.

Al-Abbas berkata. ”Saya tidak memiliki sejumlah itu, wahai Rasulullah.” Nabi Saw. bertanya.”Maka di manakah harta benda yang engkau simpan bersama Ummul Fadl (istrinya), lalu engkau katakan kepadanya, ‘Jika aku beroleh keuntungan dalam perjalanan niagaku ini, maka hasilnya harus di simpan untuk anak-anak kita,” yaitu Al-Fadl, Abdullah dan Qasam?”

Al-Abbas berkata.”Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sekarang benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah. Sesungguhnya hal tersebut merupakan suatu rahasia yang tidak ada seorang pun mengetahuinya selain aku sendiri dan Ummul Fadl. Maka masukkanlah ke dalam hitungan tebusanku apa yang telah engkau rampas dariku yang semuanya berjumlah dua puluh auqiyah emas.” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak, itu adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah kepadaku darimu.” Lalu Ibnu Abbas menebus dirinya, dua keponakannya, dan teman sepaktanya. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, “Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kalian, dan Dia akan mengampuni kalian.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Anfal: 70)

Al-Abbas mengatakan, “Maka Allah memberikan ganti dua puluh auqiyah emas itu dengan dua puluh budak dalam masa Islamku; masing-masing dari budak itu membawa harta yang berlipat ganda, selain dari ampunan Allah Swt. kepadaku.”

==Sekian kutipan dari tafsir ibnu katsir. ==

Dari kisah di atas dapat kita ambil poin-poin sebagai berikut:

1. Kisah ini berbicara tentang suasana hasil perang, yaitu antara pasukan kekafiran dan pasukan Islam,  di medan badar,  bukan kondisi lain seperti keadaan di rumah mereka di Mekah. Jika kita hubungkan kondisi ini sama dengan perang afghan,  perang Irak,  perang Ambon dan sebagainya. Bukan dalam kondisi di pospol,  atau kantor.

2. Perang ini memiliki bendera yang jelas bagi umat Islam,  yaitu antara bendera kafir musyrik dengan bendera Islam. Bukan antara bendera-bendera syubhat di masyarakat, seperti bendera kebangsaan melawan bendera kelompok teroris. Bendera yang jelas bagi umat islam semisal bendera amerika ketika memerangi mujahidin.

3. Perkataan baginda Rasul SAW : “Sesungguhnya aku telah mengetahui sejumlah orang dari kalangan Bani Hasyim dan lain-lainnya, mereka berangkat ke medan perang karena dipaksa, padahal tidak ada urusan bagi mereka untuk memerangi kita. Maka barang siapa di antara kalian menjumpai seseorang dari mereka – yakni dari kalangan Bani Hasyim—, janganlah ia membunuhnya. Dan barang siapa yang menjumpai Abul Buhturi ibnu Hisyam, janganlah ia membunuhnya. Dan barang siapa yang menjumpai Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib, janganlah ia membunuhnya, karena sesungguhnya dia berangkat ke medan perang karena dipaksa.

Perkataan beliau ini,  bila memang ditafsirkan bahwa paman beliau Abbas telah berislam sebelum perang badar (yang ternyata masih ada perselisihan tentang waktu keislaman beliau) maka ini membantah paham bahwa beliau mengkafirkan Abbas karena ikut perang. Dimana kita tahu bahwa hukum bagi murtad apalagi memerangi Islam adalah halal dibunuh.

4. Perkataan Abu Huzaifah ibnu ‘Utbah yang berkata.”Apakah kami membunuh bapak-bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami, dan famili kami, lalu kami biarkan Al-Abbas? Demi Allah, jika aku bersua dengannya, niscaya aku benar-benar akan membunuhnya dengan pedang.” maksudnya beliau ini adalah sanak saudara mereka yang kafir,  karena kita tahu bahwa ayah Hudzaifah adalah tokoh kafir Quraisy, Utbah bin rabi’ah, demikian juga saudara beliau adalah musyrik. Dan beliau menyesali perkataannya ini.

5. Bentuk hukuman dibebaskan dengan harta tidak selalu menunjukkan suatu pengkafiran (karena perlakuannya disamakan dengan kafir lainnya), bahkan jika halal dibunuh saat perang pun tidak menunjukkan pengkafiran secara takyin, karena ini semua adalah hukum saat “perang”, sebagai kelompok yang mumtani’ bis syaukah.

6. Perkataan beliau di atas: ” Allah lebih mengetahui keislamanmu” , justru menunjukkan bahwa baginda tidak mengkafirkan secara takyin tawanan,  karena jika vonis murtad dengan amal perang ini maka tiada ada kesempatan dibangkitkan dalam keadaan Islam.

Dari poin-poin dan fakta itu semua maka kami simpulkan bahwa dalil pengkafiran takyin “anshar thaghut” yang mana disematkan pada tentara dan polisi indonesia secara khusus dengan sandaran pada kisah al-Abbas adalah bathil.

Wallohua’lam bis showaab….

(Abu Usamah)

PIMPINAN BIRO POLITIK HTS MENYANGKAL TENTANG RUMOR YANG BEREDAR

ISIS DIBERSIHKAN DARI IDLIB