SEJARAH ASLI KONSEP TERORISME

Duniaekspress.com. (30/5/2018). Mereka memposisikan teroris dalam kategori kejahatan psikopat, dengan menonjolkan sisi kekerasan tidak beradabnya. Mereka memposisikan teroris melakukan hal di luar batas masyarakat beradab, dan karena itu, tidak dapat dilakukan negosiasi dan perdamaian terhadap mereka. Mereka mengatakan bahwa terorisme adalah masalah yang paling berbahaya di zaman ini. Ia disebut sebagai extra ordinary crime. Siapapun, jika diberi label teroris, maka ia berhak untuk diperlakukan dengan cara apapun. Tidak ada HAM bagi teroris, begitu kata mereka.

Dengan narasi politik semacam itu, para pemilik kepentingan mendapatkan “special power” dan bisa menghabiskan anggaran dalam jumlah besar atas nama melawan ancaman teroris.

Konsep mengenai terorisme ini banyak dibicarakan, namun tidak banyak yang memahami. Ide mengenai terorisme terus menerus berubah, dibentuk, dan didistorsi  untuk mendukung agenda politik tertentu.

Hasilnya, konsep mengenai terorisme menjadi hal yang berantakan. Tidak ada definisi pasti yang bisa diterima. Beberapa rezim otoritas menggunakan istilah itu untuk menghancurkan citra lawan politiknya. Arab Saudi, Mesir dan kebanyakan negara-negara teluk menyebut partai politik yang menganjurkan perubahan demokratis yang damai sebagai ‘teroris’. Di China, istilah terorisme digunakan untuk menjustifikasi kekejaman pemerintah China terhadap warga Muslim Xinjiang. Dengan dalih terorisme, muslim Xinjiang dilarang puasa,

Pada saat yang sama, di Inggris, konsep terorisme telah diubah sedemikian rupa sehingga ia tidak hanya berlaku untuk aksi kekerasan, namun juga berlaku terhadap aktifitas lain yang tidak memenuhi kriteria untuk disebut ‘kekerasan’. Teroris didefinisikan tidak hanya untuk  orang yang melakukan kekerasan, namun juga orang-orang yang pandangannya dapat menjadi ancaman bagi negara Inggris atau nilai-nilai dan cara hidup mayoritas sejmasyarakat Inggris. Di sini, konsep terorisme telah berubah menjadi bagian dari alat penindasan oleh negara.

Para politisi di dunia hari ini menggunakan segala cara untuk mempengaruhi rakyatnya bahwa terorisme adalah perkara kriminal dalam bentuk yang unik dan spesial

Kata ‘terorisme’ pertama kali disebut setelah revolusi Prancis. Setelah jatuhnya dinasti Bourbon pada tahun 1793, pemerintah Republik Prancis jatuh ke tangan orang-orang yang radikal dan ekstrim, yang rata-rata memiliki basis politik yang dangkal. Dikepalai oleh Robespierre, mereka membentuk divisi khusus untuk mengeksekusi lawan politiknya, tanpa pengadilan. Mereka menyebut diri mereka sebagai ‘Terror’ dan kebijakan mereka disebut ‘Terorisme’.

Kata ini pada awalnya berawalan huruf T kapital, yang didefinisikan sebagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintahan yang terorganisir, bukan kelompok pemberontak. Iya, kata teror pertama kali muncul untuk melukisakan pemerintah terhadap rakyat dan lawan politiknya.

Definisi ini bahkan pernah diakomodir dalam Kamus Oxford, yang mendeskripsikan terorisme sebagai “pemerintahan intimidatif yang diarahkan dan dilaksanakan oleh partai yang memiliki kekuatan”. Jika terjemahan ini tetap bertahan, kebanyakan pemerintahan yang ada di dunia saat ini tentu dapat didefinisikan sebagai teroris.

Tapi istilah ini disalahgunakan, dan muncul kembali di pertengahan abad 19. Kali ini, istilah tersebut merupakan cara untuk menghadapi kekerasan anarkis, terutama yang dilakukan untuk melawan Rezim Tsar di Rusia. Istilah terorisme tanpa awalan huruf kapital tersebar 50 tahun sebelum Perang Dunia I sebagai efek dari serangan tingkat tinggi terhadap dinasti pemegang kekuasaan dan pejabat pemerintahan di Eropa dan terhadap Presiden Amerika, James A Garfield dan William McKinley.

Novel Joseph Conrad, The Secret Agent, menyebut kelompok teroris tersebut sebagaimana definisi di atas, dan Fyodor Dostoyevsky dalam novelnya Devils menggunakan istilah terorisme dalam konteks Rusia. Istilah tersebut meliputi banyak variasi pelaku kekerasan, mulai dari pembunuhan rahasia atas inisiatif pribadi, maupun gerakan teroganisir yang memiliki tujuan politik, seperti Irish Fenians.

Patut dicatat bahwa banyak gerakan teroris pada saat itu—terutama di Rusia—diinfiltrasi dan bahkan disponsori oleh pemerintah.

Setelah itu, istilah terorisme hilang kembali dari publik. Hilangnya istilah tersebut memiliki arti yang besar. Perang dunia dan totalitarianisme mengubah perspektif. Pertumpahan darah dan kebrutalan yang terjadi pada tahun 1914 sampai tahun 1945 sangat mengerikan, yang  membuat pembunuhan dan kekerasan lain yang dilakukan oleh kelompok anarkis dan nasionalis di Barat sebelum 1914—atau bahkan teroris yang dituduhkan terhadap kelompok Islam setelah tahun 2001—seolah tidak ada apa-apanya.

Ada hal menarik yang patut diperhatikan. Makna awal terorisme yang berarti—penggunaan kekerasan oleh pemerintah demi tujuan politik untuk melawan musuh-musuh internalnya—menerangkan dengan jelas apa yang terjadi setelah 1914 secara akurat. Pembantaian terhadap rakyat Rusia oleh Stalin, kekejaman partai komunis Mao, serangan tentara Hitler terhadap rakyat sipil Eropa, semuanya cocok dengan definisi asli terorisme dalam kamus Oxford.

Namun pemerintah-pemerintah tersebut jarang sekali disebut sebagai teroris.

George Orwell, seorang mahasiswa bahasa politik, pernah berkunjung ke Spanyol pada akhir 1930an dan mendeskripsikan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Franco dan partai komunis oposisinya pada Perang sipil Spanyol. Ia sama sekali tidak menggunakan istilah ‘terorisme’.

Padahal banyak hal dalam laporannya yang hari ini bisa dianggap sebagai terorisme. Memang, Orwell sendiri bisa diklasifikasikan sebagai teroris menurut hukum Inggiris sebagai konsekuensi keikutsertaannya dalam peperangan melawan milisi anarkis dalam perang sipil.

Segera setelah Perang Dunia II, Inggris menghadapi perlawanan bersenjata di Kenya, Aden, Malaysia, Palestina dan beberapa tempat lainnya. Perlawanan tersebut hari ini pasti akan disebut sebagai pergerakan teroris.

Namun, Inggris jarang menggunakan istilah ini—hal ini dikarenakan perlawanan-perlawanan tersebut terjadi di koloni yang jauh yang memang akan ditinggalkan. Bahkan, terdapat persebaran simpati di tingkat internasional, terutama di AS, untuk pergerakan anti kolonialisme melawan Inggris.

Kekuatan imperial lain, seperti Prancis di Algeria, lebih teguh untuk tetap memegang apa yang dimilikinya dan menganggap koloni itu sebagai bagian dari negaranya. Mereka mencitrakan lawannya sebagai teroris dan seringkali menggunakan metode teroris (dalam arti orisinilnya) terhadap mereka. Terhadap Aljazair, Prancis menjalankan terorisme dalam definisi originalnya, yaitu terorisme yang dilakukan oleh negara.

Hari ini, definisi terorisme sudah menyimpang jauh dari definisi awalnya, saat ia pertama kali muncul dalam kamus peradaban manusia. Kekerasan yang dilakukan oleh negara tidak lagi disebut terorisme. Kata tersebut kini dijadikan sebagai label untuk mengkriminalisasi kelompok non-negara, dan anehnya, pelabelan tersebut justru memberikan justifikasi kepada negara untuk melakukan apapun atas nama memerangi terorisme, bahkan dengan tindakan yang sejatinya bisa dikategorikan sebagai terorisme sesuai definisi aslinya. (RR).

Sumber : seraamedia

 

Baca juga, PASCA LEDAKAN BOM AKHIRNYA UU TERORISME DI SAHKAN