MUSLIM YAMAN YANG TAK MERASA AMAN

Duniaekspress.com. (2/6/2018). – Taiz – Hisham Mohamed Saleh berniat untuk menghidangkan anak-anaknya berbagai makanan manis setelah berbuka puasa. Namun niatnya tampaknya tidak akan berjalan maksimal, di bawah meningkatnya kemiskinan dan inflasi di negeri selatan Arab Saudi itu.

Selama lebih dari tiga tahun, pemberontak Syiah Hutsi telah mengepung kota terbesar kedua di Yaman, Taiz. Ini membuat nestapa lebih dari 200.000 warga sipil, termasuk keluarga Saleh. Sebagian besar kota telah dilanda kemiskinan. Banyak laporan kekurangan air dan makanan dan air, selain minimnya fasilitas rumah sakit untuk perawatan medis.

“Meskipun pengepungan dan situasi yang sulit, Ramadhan selalu merupakan momen bahagia,” kata Saleh, ayah tiga anak itu kepada Al-Jazeera. “Kami menikmati bulan itu dan begitu juga anak-anak kami, meski ada rudal-rudal yang mendarat di jalan-jalan kami.”

Di seluruh dunia, umat Islam menjalani bulan suci Ramadhan dengan sukacita dan kekhusyukan beribadah. Makanan khusus dan kudapan lezat kerap disiapkan saat matahari terbenam, waktu berbuka puasa.

Tetapi itu tidak berlaku bagi lebih dari 75 persen warga Yaman (sekitar 22 juta orang) yang membutuhkan bantuan dan tujuh juta orang yang menghadapi kelaparan. Saleh berharap Ramadhan tahun ini akan mengantarkan pada gencatan senjata sementara dan menyelamatkan ribuan orang dari kematian.

Foto: Suasana kota Taiz, Yaman.

Pengepungan Selama Ramadhan

Biasanya, warga Yaman berbelanja makanan atau menu takjil selama Ramadhan. Namun sulitnya ekonomi dan melemahnya nilai tukar mata uang menurunkan daya beli. Sekitar 1,2 juta pegawai negeri belum menerima gaji mereka selama 14 bulan terakhir.

“Perang dan pengepungan telah menaikkan harga barang-barang pokok, dan orang-orang masih belum menerima gaji mereka,” kata seorang warga.

Sejak Maret 2015, koalisi yang dipimpin Saudi telah berperang di Yaman, mencoba mengusir pemberontak Hutsi yang secara luas diyakini mendapat dukungan Iran. Sejak itu, lebih dari 10.000 orang telah tewas dan setidaknya 40.000 orang terluka.

Dengan banyak orang yang berjuang untuk mendapatkan kebutuhan dasar mereka, pembeli yang tertarik ke pasar selama Ramadhan telah menghilang.

“Harga sedang naik, dan itu beban besar bagi kami,” kata seorang pemilik toko. “Aku dulu membeli barang dengan harga murah sekarang itu tidak mungkin.” (RR).

Sumber: Al-Jazeera.

 

Baca juga, MILITER YAMAN KLAIM KEMENANGAN DI SAADA