Duniaekspress.com. (1/6/2018). – Malang – Universitas Brawijaya (UB) di Kota Malang menjadi salah satu perguruan tinggi negeri yang dikabarkan masuk dalam pengawasan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT). Paham radikalisme dan terorisme disinyalir tumbuh subur di kampus tersebut. Benarkah demikian?

Rektor Universitas Brawijaya M Bisri menyatakan, tidak memungkiri adanya fenomena tersebut. Pihaknya sudah maksimal dalam melakukan pencegahan.

Universitas Brawijaya Masuk dalam Pengawasan Paham Radikalisme
“Sebenarnya kalau dipetakan, dan dihitung, tidak begitu banyak jumlahnya,” kata Bisri kepada wartawan di Universitas Brawijaya Jalan Veteran, Malang, Jumat (1/6/2018).

Proteksi, kata dia, sudah begitu masif di lingkungan kampus, monitoring masjid serta mata kuliah sebagai langkah pencegahan.

Namun di sisi lain, lanjut Bisri, mereka yang terindikasi larut dalam paham radikalisme dikenal licin menghindari pengawasan. “Kalau ada indikasi cepat kita mencegah, tapi iya itu, mereka seperti licin dan sulit terdeteksi. Meskipun ada jumlahnya sedikit, dan kita kesulitan mengungkapnya karena jumlah mahasiswa kita ribuan,” bebernya.

Karena itu, Universitas Brawijaya melibatkan personel keamanan, yang memiliki kemampuan dan tugas mendeteksi pergerakan para mahasiswa tersebut. Paham radikalisme disebarkan untuk tidak mempercayai Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI, seruan lahirnya khilafah sebagai pengganti dilalukan dengan menyasar mahasiswa baru.

“Maka harus ada bantual intel, dalam mendeteksi gerak mereka. Karena bisa dikatakan non organisasi yang tak terekspos. Beda dengan organisasi mahasiswa yang telah ada. Dalam perekrutannya terbuka, yang ini sulit terdeteksi,” tegasnya.

Jejak radikalisme hingga mengarah terorisme bisa dikatakan tumbuh subur di wilayah Malang. Terbukti dengan penangkapan Densus 88 Antiteror terhadap para terduga sejak 2016 hingga bulan lalu.

Beberapa waktu yang lalu BNPT (badan Nasional Penanggulangan Teror) merilis beberapa perguruan tinggi terkenal yang terindikasi telah disusupi paham radikalisme terorisme, data tersebut didasarkan pada data-data penangkapan tersangka teroris.

(RR).

 

Sumber : detiknews.

 

Baca juga, TAK TERBUKTI BERSALAH, ALFIAN TANJUNG DIVONIS BEBAS