Duniaekspress.com. (3/6/2018).  Apakah benar puasa Ramadhan diwajibkan bagi seluruh orang yang beriman ? Benar puasa Ramadhan adalah suatu ibadah yang hukumnya wajib bagi seluruh pemeluk agama Islam. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya, al-Baqoroh: 183 yang tidak asing lagi di telinga kita. Yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (Q.S: Al-Baqoroh: 183)

Namun di sini ada pengecualian bagi beberapa kategori menurut Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz yang dijelaskan dalam buku fatwanya. Yaitu, orang gila, orang tua yang pikun, anak kecil yang belum baligh. Ketiganya menurut beliau tidak ada kewajiban baginya berpuasa (tidak meng-qodho’ atau membayar fidyah)

Sedangkan perempuan yang haid, atau nifas mereka masih terkena beban berpuasa Ramadhan, dengan meng-qodho’-nya di lain waktu. Lalu bagaimana perempuan yang hamil dan yang menyusui? Maka, dibolehkan bagi mereka tidak berpuasa. Namun masih mempunyai kewajiban untuk meng-qodho’ puasa yang ditinggalkannya, di lain kesempatan.

Adapun orang yang sakit dan musafir (orang yang bepergian) diperbolehkan memilih antara berpuasa atau tidak dengan ketentuan-ketentuan di dalamnya. Namun lebih utama berpuasa dari pada tidak berpuasa.

Sebagaimana Firmanya Allah Ta’ala:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“…dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (Q.S Al-Baqoroh: 185)

Tetapi, bila ada orang sakit yang mana sakitnya itu membahayakan dirinya bila berpuasa, maka tidak diwajibkan baginya berpuasa atau meng-qodho’ puasanya. Hanya saja puasanya di ganti dengan membayar fidyah, memberi makan orang miskin setiap harinya sebanyak puasa yang ditinggalkannya.

Adapun fidyahnya adalah setengah sha’ makanan pokok (menyesuaikan daerah). Bila dikilogramkan 1.5 kg (satu kg setengah).

Lalu bagaimana pelaksanaanya? Menurut beliau ada dua cara.

Pertama, dengan memberi makan orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkannya di awal Ramadhan atau di akhir Ramadhan.

Kedua, boleh memberi makan orang miskin setiap harinya sesuai hari yang ditinggalkannya.

Demikianlah penjelasan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz mengenai siapa sajakah yang tidak wajib baginya berpuasa di bulan Ramadhan dalam bukunya “Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Mutanawwi’ah, Kitab Shiyam, jilid 15, hal. 175-176. Wallau ‘alam. (RR).

Penulis: Ibnu Jihad.

 

Baca juga, SAHKAH SHOLAT DENGAN PAKAIAN YANG MENUTUP MATA KAKI?