Duniaekspress.com (4/6/2018)- Militer India dan Pakistan terlibat saling tembak di perbatasan Kashmir pada hari Ahad (3/6), kejadian tersebut menewaskan dua penjaga dan mengakhiri perjanjian untuk menghormati gencatan senjata di wilayah yang disengketakan.

Dalam baku tembak yang menewaskan dua penjaga perbatasan India tersebut, dilaporkan turut melukai tujuh warga sipil di Aknoor, dekat perbatasan wilayah yang diperebutkan dengan Pakistan.

Pasukan Keamanan Perbatasan India mengklaim pasukannya hanya membalas tembakan dan menuduh penjaga perbatasan Pakistan yang mulai menembak terlebih dahulu tanpa ada provokasi.

“Para prajurit yang terluka segera dievakuasi ke rumah sakit militer di mana mereka kemudian tewas (karena luka-luka mereka),” kata juru bicara pasukan perbatasan Manoj Yadav kepada AFP dari Jammu.

Otoritas Pakistan tidak segera mengomentari atas tuduhan yang dilayangkan pihak India.

Tembakan dan mortir datang hanya empat hari setelah Pakistan dan India berjanji untuk mengakhiri gencatan senjata di Kashmir.

Baca Juga:

MILITER INDIA TABRAK SEORANG DEMONSTRAN HINGGA TEWAS

PERTEMPURAN DI YAMAN, PULUHAN PEMBERONTAK HOUTHI TEWAS

Puluhan orang tewas dalam bentrokan diperbatasan dalam beberapa bulan terakhir di sepanjang perbatasan yang membagi wilayah itu menjadi zona kontrol India dan Pakistan.

Komitmen baru untuk gencatan senjata telah mendorong ribuan warga sipil untuk kembali ke rumah mereka setelah berminggu-minggu terjadi baku tembak.

Kashmir telah terbagi sejak akhir pemerintahan kolonial Inggris pada tahun 1947 dan baik New Delhi dan Islamabad mengklaim kerajaan Himalaya sebelumnya secara penuh.

India memiliki sekitar 500.000 tentara di bagian Kashmir yang dikuasai, di mana kelompok-kelompok bersenjata berjuang untuk kemerdekaan atau bergabung dengan Pakistan.

Gejolak di sepanjang perbatasan terjadi di tengah meningkatnya kerusuhan jalanan dan kekerasan militan di lembah Kashmir yang menyaksikan demonstrasi hampir setiap hari terhadap kekuasaan India.

New Delhi menuduh Pakistan memicu pemberontakan yang telah menyebabkan puluhan ribu warga sipil tewas. Islamabad membantah hal ini, dan mengatakan itu hanya memberikan dukungan diplomatik kepada hak Kashmir untuk menentukan nasib sendiri. [Daily Sabah]