risalah Ust Aman Abdurrahman terkait bom Surabaya

Duniaekspress.com. (9/6/2018). Peristiwa serangan bom bertubi-tubi di surabaya pada bulan mei 2018 kemarin, menyisakan banyak persoalan, antara pihak yang pro dan yang kontra terhadap aksi peledakan bom tersebut. dan dalam kesempatan ini sosok yang selama ini djadikan aikon tokoh idiolog pendukung ISIS/IS aman abdurrahman berbicara mengenai tentang aksi serangan bom di surabaya, dalam sebuat risalah yang ditulisnya berikut ini :

Renungkanlah Dengan Ilmu Bukan Emosi!

Orang muslim di dalam ibadah dan tindakannya itu harus selalu diikat dengan dalil dan jangan asal meniru tanpa mengetahui dasarnya, apalagi jihad. Suatu amaliyyat itu bisa dianggap sah pada suatu kondisi atau tempat dan bisa dianggap haram pada kondisi atau tempat lain, tergantung kondisi yang menyelimuti keadaan.

Membunuh orang muslim adalah hal haram yang keharamannya telah diijmakan secara qath’iy lagi ma’lum minaddin bidldlarurah (diketahui secara pasti pada dien ini) dan termasuk masalah dhahirah, dan barangsiapa menghalalkannya maka dia kafir murtad berdasarkan ijma’, kecuali bila ada dalil shahih sharih lagi muhkam yang menghalalkannya. Ini karena dalil-dalil keharaman membunuh muslim sangat banyak di Al-Qur’an dan hadits shahih. Apalagi membunuh anak sendiri yang masih kecil, bila saja anak kecil orang kafir harbiy haram dibunuh, maka lebih haram lagi membunuh anak kecil orang muslim, apalagi anak sendiri. Hewan saja instingnya menolak hal itu.

Rasulullah ﷺ berkata:

إن الفرس لترفع حافرها عن ولدها خشية أن تصيبه
“Sesungguhnya seekor kuda betina benar-benar mengangkat telapak kakinya dari anaknya karena khawatir menginjaknya (Al-Bukhariy).

Bahkan wanita kafir-pun sayang terhadap balitanya. Rasul ﷺ melihat seorang wanita kafir tawanan yang menyusui anaknya terus beliau berkata kapada para sahabat:

أترون هذه طارحة ولدها في النار
“Apakah kalian berpendapat dia itu mau melemparkan anaknya ke dalam api?”

Para sahabat menjawab: “Tidak, sedangkan dia itu mampu untuk tidak melemparkannya.”

Maka beliau berkata:

الله أرحم بعباده من هذه بولدها
“Allah itu lebih pengasih kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Al-Bukhariy)

Orang yang meledakkan dirinya dengan anak kecilnya TANPA alasan syar’iy yang diambil dari dalil shahih sharih muhkam hanyalah orang tidak waras, atau orang bejat keji lagi biadab, atau orang kafir. Pilih salah satunya, dan paling minimal adalah vonis tidak waras alias gila dimana pena taklif untuk hak Allah gugur, dan kalau dia tidak gila terus melakukannya padahal meyakini haram maka dia orang muslim yang bejat keji lagi biadab yang diancam neraka, dan bila dia menghalalkannya maka dia kafir.

Itu adalah pembunuhan orang muslim dengan sengaja karena dia menyengaja dan dengan alat atau cara yang biasanya mematikan.

Dan dikarenakan membunuh anak muslim yang kecil itu adalah haram yang qath’iy dan bahwa nyawa itu milik Allah maka tidak halal dilakukan kecuali bila ada dalil shahih sharih muhkam yang mengecualikannya, dan wajib membatasi diri dengan kondisi yang disebutkan di dalam dalil khusus itu. Dan harus dipahami bahwa membunuh muslim ma’shum itu tidak halal walaupun dalam dharurat maupun kondisi ikrah mulji’, umpamanya orang dipaksa untuk membunuh orang muslim dan bila tidak mau maka dia pasti dibunuh, maka dia tidak boleh membunuh orang muslim itu walaupun dia harus dibunuh. Ini ijma ulama.

Sekarang simaklah dalil khusus terbatas yang dirukhshahkan bagi muslim untuk menceburkan dirinya bersama anak kecilnya dalam kematian, di dalam hadits shahih Muslim tentang Ashhabul Ukhdud yang panjang di mana diujungnya Rasulullah ﷺ menguraikan:

… فأمر بالأخدود بأفواه السكك فخدت وأضرم فيها النيران, فقال: من لم يرجع عن دينه فأقحموه فيها! أو قال: اقتحم! ففعلوا حتى جاءت امرأة معها صبي لها فتقاعست أن تقع فيها, فقال لها الغلام: يا أماه اصبري فإنك على الحق.
“… maka si raja kafir memerintahkan agar digali parit-parit di lorong-lorong jalan terus dinyalakan api di dalamnya, kemudian dia berkata: “siapa yang tidak mau meninggalkan agamanya maka ceburkanlah ke dalamnya! Atau dia berkata: “Ceburkanlah dirimu ke dalamnya!” maka orang-orang mu’min-pun melakukannya, sampai tiba giliran seorang wanita yang membawa anak kecilnya tapi dia ragu untuk mencebur ke dalamnya, maka si anak berkata kepadanya: “Wahai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau ini di atas Al-Haq.”

Di sini penguasa kafir memaksa semua mu’minin di negerinya dengan ikrah mulji yaitu dibunuh dibakar hidup-hidup bila mereka tidak murtad dan menetap di dalam agama kafir, maka dalam kondisi seperti ini wajib menolak walau dibunuh, dan itu ajaran semua Nabi termasuk Nabi kita. Dan yang ada rukhshah di dalam ajaran Nabi kita di saat ikrah mulji itu hanyalah sekedar pengucapan kekafiran sesaat untuk menghentikan ikrah saja dan setelah itu langsung kembali dengan syarat hati tentram dengan iman, bukan menetap di dalam kekafiran. Kalau untuk menetap di dalam kekafiran maka tidak ada rukhshah, oleh sebab itu Rasulullah ﷺ berkata:

لا بشرك بالله وإن قتلت أو حرقت
“Janganlah kamu menyekutukan Allah walaupun kamu dibunuh atau dibakar.” (Shahih, Ahmad dan Abu Dawud).

Dan seperti hadits Ashhabul Ukhdud tadi, di mana wajib memilih terbunuh dibakar daripada ganti agama.

Anak kecil itu mukhawwal (tergantung siapa yang membawa), bila yang membawanya orang kafir maka dibawa kepada agama kafir dan dewasa menjadi orang kafir dan mati masuk neraka, tapi bila yang membawanya orang mu’min maka pasti dibawa kepada islam dan dewasa menjadi orang muslim dan bila mati maka ujungnya bakal masuk surga.

Di dalam kisah Ashhabul Ukhdud semua orang mu’min mati semua di parit dan bila si anak tidak dibawa mencebur oleh ibunya maka PASTI diambil orang-orang kafir dan dibawa kepada agama kafir, sedangkan penyelamatan agama itu wajib dikedepankan daripada nyawa, maka tidak ada jalan lain kecuali membawanya kepada kematian bersamanya.

Amati point-point yang ada di hadits ini sebagai batasan tindakan yang dilakukan si ibu itu:

– Si Ibu wajib memilih mati daripada kafir.

– Si Anak pasti diambil orang kafir untuk dijadikan kafir bila tidak diajak terjun ke parit.

– Tidak ada jalan lain untuk selamatkan agama si anak kecuali dengan itu.

Tiga batasan / syarat itu harus terpenuhi semuanya dan itu sangat jelas di dalam kisah itu. Camkanlah …!

Dan amati juga kisah Nabi Khidhir yang membunuh anak kecil tanpa sebab yang diketahui Nabi Musa ‘alaihissalam, maka Nabi Musa mengingkari dengan keras sebagaimana yang Allah hikayatkan di dalam Al-Qur’an:

أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡئًا نُّكۡرٗا
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih bukan karena membunuh orang lain? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang SANGAT MUNKAR.” (Al-Kahfi: 74)

Kemudian Khidhir menjelaskan sebab yang membolehkannya:

وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا
“Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya itu mu’min, dan kami khawatirkan kalau dia memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kemudian Kami menghendaki sekiranya Rabb mereka menggantinya daripada anak ini dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).” (Al-Kahfi: 80-81).

Di sini Nabi Khidhir menjelaskan kebolehan membunuh yang tidak berdosa ini berdasarkan wahyu Allah yang tidak diketahui Nabi Musa bahwa si anak ini akan dewasa sebagai orang kafir dan akan menyeret ibu bapaknya juga menjadi kafir. Sedangan dien itu harus dikedepankan daripada nyawa. Namun cara mengetahui semacam ini dari wahyu adalah tidak bisa zaman kita ini karena tidak seorangpun yang menerima wahyu, bahkan Rasulullah ﷺ yang menerima wahyu-pun diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan dhahir.

Tapi inti pembolehan pembunuhan anak di dalam kisah Khidhir dengan Ashhabul Ukhdud adalah sama, yaitu pastinya si anak menjadi kafir bila dibiarkan hidup. Camkan …!

Kalau kondisi si anak pada kisah Ashhabul Ukhdud terpenuhi di tempat dan kondisi tertentu dengan syarat-syaratnya tadi maka bisa dilakukan.

Saya tidak mengetahui kondisi Daulah Khilafah sekarang, tapi paling tidak saya mengetahui bahwa ia sudah banyak kehilangan wilayah-wilayah yang dikuasainya dan dikepung dari segala penjuru oleh musuh-musuh gabungan dengan segala persenjataan canggihnya, semua ingin melenyapkan Khilafah dan memusnahkan bala tentaranya dan semua muhajirin, kondisi-kondisi tertentu darinya membuat muslimat juga wajib ikut terjun perang karena diserang juga oleh musuh, tidak ada yang melindungi mereka setelah Allah Ta’ala selain senjata. Kondisi kaum pria lebih dari itu, dan nasib anak-anak bila kondisi seperti itu berada di ujung tanduk, andai Daulah kalah atau tersingkir dan para ibu bapak mereka terbunuh dan musuh mengambil anak-anak itu –semoga tidak terjadi– tentu anak-anak itu dibawa kepada agama musuh yang kafir itu, sebagai balasan mereka terhadap Daulah yang mengambil anak-anak Yazidiyyah di saat taklukkan Sinjar dan mengislamkan anak-anak itu dan mendidik mereka dengan ajaran islam. Dan musuh bisa melakukan hal kebalikannya kepada anak-anak mujahidin yang diambil. Sehingga bila di Daulah sekarang ada anak kecil yang dibawa ayah atau ibunya dalam amaliyyat istisyhadiyyah, maka harus dibawa kepada tuntutan kondisi tadi yang mirip dengan kisah Ashhabul Ukhdud, dan haram dicontoh pada kondisi yang berbeda. Itu andai hal itu dilakukan di Daulah, tapi saya tidak mengetahui dunia luar sekarang ini.

Oleh sebab itu kejadian di Surabaya si ayah yang meledakkan diri dengan membonceng anak kecilnya, qadarullah si anak selamat masih hidup, dan si ibu yang tuntun anak kecilnya terus meledakkan dirinya di parkiran gereja karena dihalangi satpam dan mati berikut anaknya adalah kejadian yang tidak memenuhi satupun dari 3 syarat yang ada pada kisah Ashhabul Ukhdud dan sangat jauh dengan kondisi Daulah yang digambarkan tadi. Dan dalam urusan darah yang keharamannya qath’iy lagi dhahir tidak boleh ijtihad dan takwil. Al-Imam Asy-Syafi’iy setelah menjelaskan hal-hal yang dhahirah, baik hal-hal wajib maupun hal-hal haram yang di antaranya membunuh, beliau berkata:

وهذا العلم الذي لا يمكن الغلط فيه والتأويل ولا يجوز فيه التنازع
“Dan ilmu ini yang tidak mungkin keliru dan takwil di dalamnya dan tidak boleh berselisih di dalamnya.” (Ar Risalah: 357)

Hukum ini orang bodoh-pun mengetahuinya, tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin, keharamannya ijma qath’iy ats-tsubut dan dilalah, dan setatus orang menghalalkan atau membolehkannya adalah kafir murtad berdasarkan ijma. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

والإنسان متى حلل الحرام المجمع عليه أو حرم الحلال المجمع عليه أو بدل الشرع المجمع عليه كان كافرا باتفاق الفقهاء
“Dan seseorang itu dikala menghalalkan hal haram yang diijmakan atau mengharamkan hal halal yang diijmakan atau mengganti hukum yang diijmakan, maka dia itu murtad kafir berdasarkan kesepakatan fuqaha.” (Majmu’ Al-Fatawa: 3/267)

Itu prihal orang yang menghalalkannya, bagaimana dengan yang menilainya sebagai ibadah jihad dan prestasi Anshar Khilafah yang layak dilaporkan kepada Daulah? Dan malah mengkafirkan orang yang mengingkarinya dengan keras. Mana dalil shahih sharih muhkam yang membolehkan meledakkan anak sendiri dengan tujuan sekedar jihad bukan karena kondisi yang dijelaskan pada kisah Ashhabul Ukhdud? Dua kasus di Surabaya itu jelas jauh dengan kondisi di Daulah sekarang sejauh langit dengan bumi, apalagi dengan kisah Ashhabul Ukhdud.

Orang muslim harus mengedepankan pembelaan kesucian syari’at daripada pembelaan orang yang salah walau mengaku mujahid atau niat jihad, karena status mujahid itu bukan jaminan dan begitu juga niat jihad tidak menjadikan hal haram jadi mubah tanpa dalil. Simak hadits-hadits di dalam shahih Al-Bukhariy:

Ali –radliyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah ﷺ mengirim pasukan dan mengangkat seorang Anshariy sebagai komandannya. Terus si komandan itu marah kepada pasukannya dan berkata: “Bukankah Rasulullah telah memerintahkan kalian agar mentaatiku? Mereka menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Kumpulkan kayu bakar!” mereka-pun mengumpulkannya.

Dia berkata: “Nyalakan api di dalamnya!” maka mereka-pun menyalakannya. Dia berkata: “Masuklah kalian ke dalamnya!” maka mereka hamper mau masuk, namun sebagian mereka menahan sebagian yang lain dan berkata: kita datang kepada Rasulullah ﷺ itu lari dari api (neraka),” sampai api itu padam dan kemarahan si komandan itu reda.

Dan kejadian itu sampai ke telinga Rasulullah ﷺ, maka beliau berkata:

لو دخلوها ما خرجوا منها إلى يوم القيامة
“Andai mereka masuk ke dalam api itu tentu mereka tidak akan keluar darinya sampai hari kiamat.”

Terus beliau berkata:

الطاعة في المعروف
“Ketaatan itu hanya dalam hal ma’ruf.”

Perhatikan, mereka mujahidin sahabat di fase kenabian, andai membunuh diri mereka dengan masuk dalam kobaran karena ijtihad atau takwil taat kepada amir yang ditunjuk Rasulullah ﷺ maka tidak akan keluar dari api itu sampai hari kiamat. Ini karena keharaman membunuh atau bunuh diri itu adalah hal yang qath’iy lagi dhahir dan keharaman ini tidak bisa hilang dengan sekedar ijtihad atau takwil. Camkan!

Dalam shahih Al-Bukhariy juga dari Sahl Ibnu Sa’ad –radliyallahu ‘anhu- dalam perang Khaibar ada di barisan para sahabat orang yang paling banyak membunuh musuh, tapi Rasulullah ﷺ mengatakan: “Sesungguhnya dia itu calon penghuni neraka,” sampai para sahabat kaget, terus ada orang yang membuntuti orang itu dalam pertempuran dan memperhatikannya dan setelah banyak bertempur dia mengalami banyak luka parah dan tidak sabar kemudian dia bunuh diri dengan pedangnya sendiri, dan terus hal itu dilaporkan kepada Nabi, dan beliau berkata:

إن الرجل ليعمل بعمل أهل الجنة فيما يبدو للناس وهو من أهل النار وإن الرجل ليعمل بعمل أهل النار فيما يبدو للناس وهو من أهل الجنة
“Sesungguhnya seseorang dia benar-benar beramal dengan amalan ahli surga di pandangan manusia padahal dia itu calon penghuni neraka, dan sesungguhnya seseorang dia benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka di pandangan manusia padahal dia itu calon penghuni surga.”

Terus beliau menyuruh Bilal mengumumkan:

لا يدخل الجنة إلا مؤمن وإن الله ليؤيد الدين بالرجل الفاجر
“Tidak akan masuk surga kecuali orang mu’min dan sesungguhnya Allah benar-benar akan mengokohkan dien ini dengan orang fajir.”

Hadits di atas sangat jelas bahwa statusnya sebagai mujahid di barisan Nabi dan statusnya telah banyak membunuh musuh tidaklah menghalangi vonis Rasulullah ﷺ sebagai ahli neraka karena bunuh diri akibat kesakitan.

Di shahih Al-Bukhariy juga dalam perang Huruqat, Usamah Ibnu Zaid –radliyallahu ‘anhu- membunuh orang yang mengucapkan La ilaha illallah saat telah dikepung, Usamah menganggap pengucapan syahadat itu karena takut dibunuh saja bukan sungguhan, maka ia dimarahi habis-habisan oleh Rasulullah ﷺ saat tiba di Madinah. Maka bagaimana kalau yang dibunuh itu jelas muslim sejak sebelumnya, dan bagaimana kalau anak sendiri, dan bagaimana kalau masih kecil, tanpa alasan dalil shahih sharih muhkam?

Pikirkanlah …! Jangan andalkan semangat tanpa ilmu …

Sampai-sampai Usamah berkata karena dahsyatnya kemarahan Rasulullah ﷺ: “Sampai aku berangan-angan bahwa aku itu belum muslim sebelum hari itu.”

Di dalam shahih Al-Bukhariy juga di saat Rasulullah mengutus Khalid Ibnul Walid dengan pasukan ke Banu Jadzimah dan mengajak mereka masuk islam, tapi mereka tidak cakap mengatakan أسلمنا (kami masuk islam) namun mengucapkannya صبأنا yang mereka anggap itu ungkapan masuk islam dan Khalid tidak mengiranya sebagai ungkapan masuk islam, maka mereka dibunuhi Khalid … dan saat sampai kepada Rasulullah ﷺ beritanya maka beliau mengangkat tangannya ke langit seraya berkata:

اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد … مرتين
“Ya Allah sesungguhnya saya berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan Khalid … dua kali.”

Dan di dalam riwayat ulama hadits lain beliau mengutus ‘Ali dengan membawa banyak harta kepada Bani Jadzimah untuk membayarkan diyat-diyat korban pembunuhan Khalid.

Itu padahal Khalid mengira mereka itu kafir, jadi ada unsur tidak sengaja membunuh muslim. Sedangkan yang di Surabaya itu, mengetahui benar anak itu muslim karena anak sendiri, terus diledakkan bersama secara sengaja dan diniatkan TANPA dalil syar’iy shahih sharih muhkam yang menghalalkannya, dan bahkan meniatkan jihad dengannya … subhanallah …

Bila tidak tahu dalil maka minimal pakai akal sehat sebelum berbuat.

Ketika perang Uhud, kaum muslimin membunuh Al Yaman ayah Hudzaifah Ibnu Al Yaman yang mereka kira orang musyrik karena Al Yaman datang ke arena Uhud belakangan tidak bersama pasukan kaum muslimin. Maka karena membunuhnya tidak menyengaja sebagai orang muslim maka diwajibkan bayar diyat, namun Hudzaifah merelakan diyat untuk tidak dibayar sebagai shodaqah kaum muslimin.

Jadi urusan darah muslim itu bukan urusan sembarangan sebagaimana yang disepelekan oleh sebagian orang.

Jadi di dalam kisah Ashhabul Ukhdud itu, si Ibu berada hanya pada dua pilihan: menjadi kafir atau mati, maka harus pilih mati. Dan si anak-pun berada hanya pada dua pilihan: diambil untuk menjadi orang kafir atau dibawa mati oleh ibunya, maka wajib bagi si ibu untuk membawanya pada kematian. Tapi kalau ada pilihan ketiga maka wajib ambil pilihan ketiga, dan tidak halal memilih dua hal petama. Renungilah hal ini baik-baik …!

Ingatlah bahwa ikrah itu ada dua:

Ikrah Mulji: yaitu suatu yang menghilangkan keridloan dan melenyapkan pilihan, seperti ancaman dibunuh, dan pemotongan anggota badan, serta penyiksaan yang dikhawatirkan melenyapkan nyawa atau anggota badan.

Ikrah Ghairu Mulji: Yaitu suatu yang menghilangkan keridloan tapi tidak meniadakan pilihan, seperti pemenjaraan dan pemukulan yang tidak dikhawatirkan melenyapkan nyawa atau anggota badan.

Dan ulama sepakat bahwa orang muslim yang mengalami ikrah Mulji tidak boleh dia membunuh orang muslim, umpamanya dia diberi dua pilihan oleh pihak yang berkuasa terhadap dirinya: Dibunuh atau membunuh temannya, maka dia haram membunuh temannya walau dia harus dibunuh oleh pihak yang memaksa.

Apalagi kalau ikrah-nya ghairu mulji maka lebih tidak halal lagi, oleh sebab itu rasa takut ditawan atau dipenjara tidaklah menghalalkan dia untuk bunuh diri atau membunuh orang muslim. Andai orang umpamanya hendak amaliyyat namun silahnya macet atau keburu ketahuan sebelum sampai tujuan, terus karena takut ditawan atau dipenjara dia bunuh diri atau meledakkan dirinya tanpa sasaran maka itu tidak halal, karena rasa khawatir ditawan itu bukan hal yang melegalkan bunuh diri atau bunuh orang muslim.

Banyak dalil di dalam hadits-hadits kisah 70 sahabat Rasulullah ﷺ yang dikirim berdakwah dan tengah perjalanan dikhianati orang-orang kafir di mana mereka dikepung dan dibunuhi dan Khubaib Ibnu ‘Adiy –radliyallahu ‘anhu- memilih menyerah dan ditawan dan dijual kepada Quraisy dan dipenjara di Makkah dan terus dieksekusi oleh Quraisy.

Banyak sahabat yang dipenjara Quraisy, masyhur dalam siroh.

Ada utusan Rasulullah yang ditawan Musailamah Al-Kadzdzab ‘Abdullah Ibnu Hudzaifah As Sahmiy.

Risalah terpotong sampai disini, lembaran yang diterima tidak lengkap. Allahul musta’an.

Ada 1 judul lagi risalah Ust Aman yang juga lembarannya tidak lengkap, namun ada bagian yang in-syaa Allah dapat melengkapi risalah sebelumnya:

Tambahan

Sudah saya sebutkan hadits Ash-habul Ukhdud dan alasan hukum didalamnya, dan penempatannya pada kondisi Daulah sekarang andai cara itu dilakukan disana.

Dan saya tuntut kepada orang-orang yang menghalalkan cara meledakkan diri dengan anak sendiri di dua tempat di Surabaya itu, bahkan menamakannya sebagai ibadah jihad, mana dalil syar’iy-nya? Mana kesesuaiannya dengan hadits Ash-habul Ukhdud dan mana kecocokkannya dengan suasana Daulah yang sedang genting sekarang?

Jangan menerka-nerka karena ini kaitan penghalalan hal haram yang qath’iy, lihat ucapan Ibnu Taimiyyah diatas.

Kalau ada dalil shahih lagi sharih maka wajib bagi saya untuk ikut, tapi bila tidak ada maka ingat kesepakatan fuqaha yang dinukil Ibnu Taimiyyah tadi.

Silahkan para Ustadz Anshar Khilafah yang hidup di negeri ini lagi mengetahui realita negeri ini yang menghalalkan dan memberkati dua kejadian di Surabaya itu untuk menjelaskan dalil-dalil shahih sharih lagi muhkam In-syaa Allah.

Saya menulis masalah ilmu selalu memakai nama saya yang dikenal umum supaya bila ada kesalahan bisa dikoreksi oleh orang yang mengoreksi kepada saya juga, bukan orang yang pengecut yang suka menyembunyikan identitas.

Saat sebelum diambil densus di Pasir Putih NK saya sudah menulis dua risalah: Takfir PNS dan Takfir Pencoblos Pemilu Demokrasi, tapi diambil pihak yang menangkap dan diserahkan ke jaksa dan dijadikan bahan jeratan kepada saya di sidang sehingga tidak sampai ke umat.

Begitu juga di tempat tahanan sekarang, saya menulis beberapa risalah dan harus lewat densus untuk bisa ke luarnya, jadi yang bisa sampai keluar Alhamdulillah mereka yang menyebarkannya, dan yang tidak sampai keluar juga dan ditahan mereka juga Alhamdulillah berarti sudah dibaca mereka dan saya sudah menegakkan hujjah. (RR)

penulis : Aman Abdurrahman.

 

Baca juga, PERNYATAAN AMAN ABDURRAHMAN TENTANG BOM SAMARINDA DAN SURABAYA MENUAI KISRUH