duniaekspress.com, 18 Juni 2018. Pasukan Pertahanan Suriah (SDF) yang didukung AS dilaporkan membunuh eksekutor (algojo)  Negara ISIS, Talip Akkurt, yang dikenal dengan nama gerilya: Abu Talha al Turki, yang pernah membakar dua tentara Turki hidup-hidup di Suriah pada tahun 2016. Al Turki dilaporkan tewas pada 7 Juni saat serangan SDF di kota Hajin Deir Ezzor.
Sejak Februari 2018, al Turki berada dalam Daftar DPO buronan polisi Turki dengan hadiah 1,5 juta lira Turki ($ 320.000) untuk kepalanya. Kegagalan pemerintah Turki untuk melacak Al Turki, dan keberhasilan langkah SDF dalam melenyapkannya, bisa menjadi hal yang memalukan bagi Ankara. Turki menganggap SDF, yang didominasi oleh Unit Perlindungan Rakyat (YPG) sebuah afiliasi Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang, sebagai entitas teroris.
Al Turki, dan dua temannya yang merupakan orang Turki yang masih DPO dengan nilai uang di kepala mereka – yaitu Hasan Aydin dan Muhittin Buyukyangoz – adalah anggota dari “Yasar Group,” sebuah tim eksekusi Negara ISIS yang terdiri dari orang-orang Turki. Mereka bertanggung jawab, seperti yang ditunjukkan dalam video Daulah ISIS dirilis pada 22 Desember 2016, karena membakar wamil (wajib militer) Turki Sefter Tas, dan Fethi Sahin, seorang agen intelijen gendarmerie Turki yang dilaporkan telah menyusup ke Negara ISIS.

Aksi pembakaran tas oleh ISIS

Tas ditawanan oleh Negara ISIS pada malam 1 September 2015, dekat Pos Perbatasan Sehit Mehmet di provinsi Kilis di perbatasan Suriah. Tas dan dua prajurit lainnya sedang bertugas melakukan patroli yang menyeberang ke sisi Suriah dalam mengejar penyelundup akhirnya disergap oleh militan Negara ISIS yang juga membunuh kopral infantri Yusuf Beylem dan melukai serta menculik Tas. Sebuah tim Daulah ISIS yang terdiri dari empat anggota dilaporkan melakukan serangan berdasarkan perintah pemimpin mereka Abu Bakr al Baghdadi dengan tujuan untuk menghentikan serangan udara Turki yang diluncurkan terhadap sasaran Negara ISIS di Suriah empat hari sebelumnya pada 28 Agustus, dan misi membebaskan militan Negara ISIS di Penjara Turki. Tas, yang memiliki luka tembak di kakinya, dilaporkan menerima perawatan pertama di Al Bab dan kemudian di Raqqa, di mana dia kemudian dipenjara oleh Negara ISIS.
Upaya intelijen Turki untuk melacak Tas dimulai segera setelah dia menghilang. Pada 7 September 2015, laporan pertama dari kontak Badan Intelejen Nasional Turki (MIT) dengan Negara ISIS melalui aplikasi perpesanan WhatsApp menegaskan bahwa Tas masih hidup dan tertawan. Pada 14 September, MIT meminta tuntutan Negara ISIS, dan menerima foto Tas dari penjara. Dalam kontak ketiga, yang dilaporkan pada 10 Oktober, Negara ISIS menuntut pembebasan 200 militannya di penjara Turki. Pada 11 November, MIT dilaporkan menolak permintaan Negara ISIS untuk membebaskan 200 militan, yang mengarah ke ancaman Negara Islam untuk merilis video Tas dalam sebuah kostum oranye.
Awalnya, pemerintah Turki tidak secara terbuka mengakui penculikan Tas. Karena Tas adalah wajib militer dari latar belakang Kurdi, Partai Demokrasi Rakyat (HDP) Turki yang pro-Kurdi mengikuti kasus ini secara dekat, dan seorang anggota parlemen HDP yang mewakili kampung halaman Tas, Igdir mengajukan pertanyaan pada parlemen pada 1 Desember 2015, meskipun Menteri Pertahanan Turki telah gagal untuk memberikan tanggapan selama lebih dari dua tahun. Bahkan ketika video Tas dan Sahin menjadi viral pada Desember 2016, sebuah wakil pro-pemerintah mengklaim bahwa video itu palsu sementara wakil perdana menteri Turki mengancam media untuk tidak mempublikasikannya. Hampir setahun kemudian, ketika ayah Tas mengajukan gugatan dalam upaya untuk putranya agar dinyatakan mati secara hukum, militer Turki akhirnya mengakui Tas sebagai almarhum pada 9 Oktober 2017, dan setuju untuk menawarkan kompensasi kepada keluarganya.

ISIS pernah juga membakar seorang tawanan pilot Yordania di tengah negosiasi pertukaran tawanan.

Hukum membakar tawanan

Pro ISIS selalu membela diri untuk membenarkan membakar tawanan, diantara alasannya adalah qishos,  misalkan dalam kasus pilot yordania dianggap qishos dari membom wilayah mereka, namun pada wamil Sefter Tas, dia tidak terlibat dalam pemboman.

Abu Hurairah RA ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam suatu urusan, maka ia bersabda: Jika kamu bertemu fulan dan fulan, dua orang lelaki, maka bakarlah keduanya. Kemudian beliau berkata saat kami hendak beranjak pergi: Sesungguhnya aku memerintahkan kalian membakar fulan dan fulan, sesungguhnya tidak ada yang mengadzab dengan api kecuali Allah, jika kamu bertemu keduanya, maka bunuhlah.” (HR. Bukhari di dalam kitabul jihad dan sair, Bab Tidak Mengadzab dengan Adzab Allah (3016), Ahmad 3/124, Abu Dawud 2673, Tirmidzi 1619)
Hadits dari Abu Hurairah ini adalah menunjukkan larangan membakar dengan api.

(AZ)

SAAT MERAYAKAN IED BOM MOBIL ISIS MELEDAK DI AFGHANISTAN