Duniaekspress.com. (18/6/2018). Puasa enam hari di bulan Syawal seperti berpuasa setahun penuh. Puasa Syawal ‎merupakan bagian dari beberapa puasa sunnah yang ada dalam ajaran Islam yang dilaksanakan ‎pada bulan Syawal selama 6 hari. ‎

Puasa 6 hari di bulan Syawal merupakan bagian dari meneruskan puasa Ramadhan yang telah ‎dilaksanakan selama satu bulan penuh. Yang mana fadilah dan keutamaanya sangatlah besar, ‎sebagaimana sabdanya Rasulullah Saw, yang berbunyi:‎

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

‎“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan ‎‎‎(puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti ‎puasa ‎setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)‎

Menggenai praktek pelaksanaannya apakah harus berurutan enam hari sekaligus atau boleh ‎memisahnya selama masih dalam bulan Syawal?‎

Dalam persoalan ini syaikh Utsaimin berpendapat puasa enam hari di bulan Syawal yang paling ‎utama adalah langsung berpuasa sehari setelah hari raya Iedul Fitri, tanpa memisah-misahnya ‎‎(enam hari sekaligus). sebagaimana yang tercantum dalam hadits di atas dengan lafatdz ‘‎ثم أتبعه‎’ ‎kemudian mengikutinya. (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Fatawa Arkanul Islam, cet I, jilid ‎‎1, hal. 489)‎

Namun mayoritas ulama membolehkan memisah puasa enam hari di bulan Syawal selama masih ‎dalam bulan Syawal. TIdak harus berpuasa berturut-turut sampai jumlahnya 6 hari. Sebagaimana ‎pendapatnya Hisamuddin bin Musa dalam buku fatwanya Fatawa Yasalunaka. ‎

Beliau menuturkan; “Tidak diharuskan berpuasa berturut-turut dalam pelaksanaan puasa enam hari di bulan Syawal. Namun diperbolehkan memisahkannya selama masih ‎dalam bulan Syawal. ‎(Hisamuddin bin Musa, Fatawa Yasalunaka, cet I, jilid ‎‏1‏‎, hal. ‎‏80‏‎ )‎

Begitu juga pendapatnya Mayoritas madzhab Hanafi membolehkan memisah puasa enam hari di bulan Syawal ‎selama masih dalam bulan Syawal. (Nidhomuddin al-Balakhi, Fatawa Hindi, ‎cet II, jilid 1, hal. 201) Wallahu ‘alam ‎

Penulis : Ibnu Jihad‎

 

Baca juga, SIAPAKAH YANG TIDAK WAJIB PUASA DI BULAN RAMADHAN ?