SEIMBANG ANTARA ILMU DAN JIHAD, CIRI MUJAHID SEJATI

Duniaekspress.com. (24/6/2018). Perjuangan mengembalikan kejayaan Islam bukanlah hal yang mudah. Tidak hanya bermodal semangat membara dan menyala-nyala. Melainkan juga membutuhkan generasi yang siap dan mumpuni untuk memanggul beban perjuangan di pundak mereka.

Rasulullah telah berhasil membangun tatanan masyarakat Islam hingga menguasai Jazirah Arab dan akhirnya mendunia saat ini. Hal itu bermula dari keberhasilan Rasulullah menempa para sahabat menjadi Qaidah Shalabah(Barisan inti) . Berlanjut generasi-generasi setelahnya dan Islam mengalami pasang surut kejayaan.

Islam pernah mencapai puncak keemasan pada zamannya. Namun, saat ini kaum muslimin kehilangan kedigdayaan karena nihilnya generasi dan pemimpin yang mampu mengangkat kembali kejayaan Islam. Kita mengenal tokoh-tokoh yang mampu membuat Islam kembali berjaya misalnya Sulthan Yusuf bin Ayyub bin Syadiy At-Tikritiy AL-Kurdiy atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau terlahir bukan dari ruang kosong dan muncul secara tiba-tiba. Shalahuddin muncul karena memang dipersiapkan untuk perjuangan pada saat itu.

Seorang pemimpin yang muncul di tengah umat tidak dapat dipisahkan dari dinamika di tengah umat itu sendiri. Kemunculan Shalahuddin tidak mungkin tanpa didahului oleh suatu proses di tengah umat yang menciptakan tuntutan adanya pemimpin yang sesuai dengan keadaan riil yang diperlukan umat.

Belajar dari lahirnya tokoh Shalahuddin Al-Ayyubi

Dr Abdullah Nashih Ulwan dalam karyanya “Shalah Ad-Din Al-Ayyubi;Bathal Hiththin wa Muharrir Al-Quds Min Ash-Shalibiyyin (532-589 H) menuliskan dengan apik tentang perjuangan sang sultan membebaskan Al-Quds. Juga tentang pendidikan Shalahuddin sebelum menjelma menjadi pemimpin yang tangguh dan ditakuti musuh-musuh Allah.

Sejak kecil Shalahuddin hidup dalam lingkungan keilmuan. Ia selalu mendatangi tempat kajian belajar, menulis dan menghafal Al-Quran. Selain itu, ia juga belajar kaidah bahasa dan dasar-dasar ilmu Nahwu. Memang saat itu Damaskus menjadi pusat ilmu karena reformasi pendidikan yang dilakukan oleh Nuruddin Mahmud Zanki.

Nuruddin membuka lebar-lebar masuknya para ulama dan menyediakan madrasah-madrasah bagi para pewaris Nabi ini. Sehingga bibit-bibit muda memang hidup dalam nuansa keilmuan yang kental. Tak lupa, Nuruddin melanjutkan apa yang dilakukan ayahnya, yaitu melengkapi akademi militer dengan mata kuliah Nidhom Al-Askariyah Al-Islamiyah. Jadi, akademi militer tak hanya mengajarkan strategi peperangan semata, melainkan juga mendidik mujahid dengan pengerahan irodah yang benar dalam melaksanakan tugas dan mendisiplinkan dalam penertiban ibadah. Secara tidak langsung, anak-anak muda Islam ditempa dengan kemiliteran dan perbaikan ruhani.

Buah dari kerja keras ini pun bisa kita lihat sendiri. Kembalinya Al-Quds ke pangkuan kaum muslimin dan supremasi muslim benar-benar nyata saat itu.

Bagaimana dengan Saat Ini?

Seorang mujahid yang dikenal sebagai analis jihad modern, Umar Abdul Hakim atau Abu Mus’ab As-Suriy menyebutkan beberapa kelemahan para mujahid yang dididik setelah era 1985. Pandangannya ini ia tulis dalam karyanya yang berisi refleksi perjalanan gerakan jihad (1930-2002). Dalam pandangannya, gerakan jihad saat itu gagal mewujudkan kejayaan Islam dengan tegaknya supremasi hukum Allah di atas daulah Islamiyah.

Secara khusus dalam karyanya Da’wah Al-Muqowamah Al-Islamiyah Al-Alamiyyah, ia menyebutkan bahwa terjadi penurunan kualitas kader jihad yang dididik dan dibesarkan pada era 1965-1985 dengan yang dibesarkan setelah 1985. Pandangan ini ia peroleh dari pengalamannya selama terjun di dunia jihad dan bergaul dengan para mujahid senior seperti syaikh Abdullah Azzam, syaikh Usamah bin Ladin rahimahumallah dan lainnya.

Abu Mus’ab As-Suriy menyoroti bahwa ada ketimpangan pendidikan yang diajarkan kepada para mujahid. Mujahidin tidak mendapatkan ilmu yang proporsional dan menyeluruh. Sehingga ilmu yang diajarkan lebih didominasi dengan materi kemiliteran dan kursus latihan perang. Pemahaman diniyah didominasi dalam masalah aqidah, manhaj Salafy, masalah hakimiyah dan Al-Wala’ Al-Bara’.

Hal itu sangat berpengaruh pada karakter mujahidin yang berwatak keras, tidak ramah, kehilangan keteladanan ibadah, pengorbanan, akhlakul karimah, kemurahan hati dan persatuan. Hingga tak aneh jika terjadi percekcokan di intenal mujahidin yang justru menguntungkan musuh Allah.

Mereka yang Mencoba Mengubah

Apa yang digambarkan Abu Mus’ab As-Suriy bukanlah upaya untuk men-judge mujahid secara kesuluruhan. Apa yang ia tulis hanyalah upaya keprihatinannya melihat fakta sebagian mujahid yang seperti itu. Analis jihad modern asal Suriah ini mengatakan bahwa kita harus jujur dengan kekurangan agar kekurangan itu dapat diperbaiki dengan sebaik-baiknya.

“Terapi atas penyakit dilakukan dengan tiga langkah utama, setelah bertawakal kepada Allah serta meminta kesehatan dan kesembuhan.

Mengakui kondisinya sedang sakit dan berniat untuk mengobatinya.
Merujuk kepada dokter yang dapat dipercaya, amanah dan beriman serta memeriksakan penyakit cacat dan kekurangan padanya tanpa ada rasa takut maupun malu, meskipun harus membuka aurat.
Meminum obat yang diberikan walaupun rasanya pahit dengan penh antusias, ketulusan dan keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh.” Tulis Abu Mushab di dalam karyanya.

Maka, kita harus jujur dengan kekurangan (penyakit) kita agar mampu ditangani secara profesional. Agar menjadi pribadi yang sehat dan ideal untuk meraih tujuan yang diharapkan.

Tentu ada sebuah upaya yang dilakukan mujahid masa kini ketika melihat kekurangan-kekurangan yang ada. Semua yang telah terjadi di masa lampau akan menjadi pelajaran berharga yang tak ternilai harganya.

Hal itu tersirat dari surat-menyurat antara syaikh Nashir Al-Wuhaisy rahimahullah, pimpinan AQAP (al-qaidah cabang Yaman) saat itu dengan syaikh Abu Mush’ab Abdul Wadud, amir AQIM (al-qaidah cabang al-maghribi). Dalam surat yang terungkap di media itu dapat dijadikan indikator lahirnya generasi jihad yang fokus pada tujuan, mencapai target secara bertahap tanpa kehilangan arah, peka terhadap perubahan sekeliling dan mampu memanfaatkan perubahan itu untuk mencapai target, lembut kepada umat tanpa mengabaikan tarbiyah.

Surat ini ditemukan dan diterjemahkan oleh the Associated Press setelah markas AQIM di Mali Utara berhasil direbut oleh pasukan Prancis pada awal 2013 silam. Dalam surat itu syaikh Nashir memberikan nasehat untuk lebih memperhatikan umat dan menyejahterakannya. Hal itu dilakukan agar memenangkan hati umat dan senantiasa mendapatkan dukungan dari mereka. Apa gunanya jika kita berjihad secara totalitas tetapi umat menolak karena sikap kita yang buruk? Tentu kesalahan masa lalu tidak boleh terulangi lagi. Umat Islam tidak boleh jatuh di dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Dalam hal pelaksanaan syariat Islam, syaikh Nashir (Insyaaallah Syahid) mengatakan

“Anda harus mengambil pendekatan bertahap pada mereka dalam hal praktik keagamaan. Anda tidak bias memukul orang yang minum alkohol jika mereka saja tidak tahu bagaimana cara shalat. Pertama, kita harus menghentikan dulu dosa-dosa besar, kemudian secara bertahap bergeser ke dosa-dosa yang lebih kecil. Saat Anda mendapati seseorang melakukan sebuah dosa kita harus menyelesaikan masalah tersebut dengan membuat panggilan yang benar, dengan pertama kali memberikan nasihat yang lembut, kemudian teguran keras, dan kemudian dengan kekuatan. Pertama kali kita harus membuat mereka bertauhid, memerangi kemusyrikan dan perdukunan, kemudian setelah itu memberikan hukuman pada dosa-dosa besar”

Syaikh Nashir juga memberikan nasehat bahwa sebenarnya musuh-musuh Islam berusaha keras mencegah para mujahidin memenangkan hati umat sehingga para tentara Allah ini mudah dikalahkan.

Kemudian yang paling penting adalah saran dari pimpinan AQAP ini untuk tidak tergesa-gesa mendeklarasikan sebuah negara dengan pertimbangan

Ketidakmampuan mujahidin memenuhi kebutuhan rakyat karena kondisi masih sulit
Khawatir akan kegagalan dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga akan membuat anggapan bahwa jihad itu sia-sia. Terlebih umat yang selama ini mengharapkan tegaknya Islam, jika ketergesa-gesaan itu terjadi ditakutkan rakyat akan putus asa dengan jihad.
Dari pemaparan yang singkat di atas kita bisa melihat ternyata para mujahid mulai menata diri dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Mereka lebih mengedepankan tujuan bersama daripada ambisi pribadi dan memastikan langkah untuk menuju kejayaan. Walaupun masih ada koreksi di sana-sini, setidaknya sudah terketuk hati umat Islam untuk berbenah, menyusun strategi, tidak serampangan, menyeimbangkan antara kebutuhan ruhani dan jasmani demi terwujudnya izzatul Islam wa muslimin.

Sekarang, kembali kepada kita pribadi. Apakah merasa cukup dengan apa yang kita punya saat ini baik dari segi tempaan ilmu dan raga atau tidak? Jika tidak, mari berbenah agar mencetak mujahid sejati dan menjadi generasi yang siap serta mampu membawa Islam menuju kejayaan. (RR)

 

Sumber : Perjalanan Gerakan Jihad (1930-2002),Abu Mush’ab As-Suriy, Solo:Jazera.
Bundel Majalah An-Najah Volume 8 dan 9
SYAMINA Edisi IV/Agustus 2013
Shalah Ad-Din Al-Ayyubi;Bathal Hiththin wa Muharrir Al-Quds Min Ash-Shalibiyyin (532-589 H), Dr Abdullah Nashih Ulwan.

 

Baca juga, KRITIK SYAIKH USAMAH TERHADAP AMALIYAT DI NEGERI KAUM MUSLIMIN