Duniaekspress.com. (25/6/2018). Amerika Serikat telah menghabiskan dana dalam jumlah besar  untuk program kontraterorisme sejak serangan 9/11. Namun, tidak ada yang bisa melacak dengan akurat seberapa banyak jumlah dana tersebut, sampai sekarang.

Sekelompok ahli keamanan nasional dan anggaran negara yang dikumpulkan oleh Stimson Centermemperkirakan dalam laporan pada 16 Mei lalu, bahwa setelah penghitungan kumulatif setidaknya ditemukan nilai $ 2,8 triliun, dan bahwa tingkat pengeluaran tahunan  masih berjumlah sekitar 15 persen dari anggaran diskresi negara.

poto : perang amerika dalam memerangi terorisme

Laju penambahan anggaran telah melambat sejak 2008, ketika pengeluaran kontraterorisme oleh Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, Keamanan Dalam Negeri dan departemen federal lainnya mencapai sekitar $ 260 miliar, atau sebesar 277 persen lebih dari jumlah pada tahun 2002, kata laporan itu. Pada 2017, tingkat pengeluaran tahunan itu mencapai sekitar $ 175 miliar.

Namun masih ada banyak ketidakpastian seputar penghitungan ini, sebagian karena tidak ada orang di pemerintahan yang ditugaskan untuk membuat perhitungan resmi dari semua pengeluaran tersebut. Dan jelas bahwa apa yang dapat diambil dari dokumen publik tentang kegiatan kontraterorisme AS tidak termasuk pengeluaran rahasia, dan juga bahwa sebagian militer, intelijen, dan pengeluaran keamanan domestik berada di zona abu-abu dengan berbagai tujuan.

Luke Hartig, salah satu penulis laporan dan mantan direktur senior untuk kontraterorisme di Dewan Keamanan Nasional di bawah Pemerintahan Obama, menyarankan pada diskusi panel di Stimson Center bahwa tidak adanya transparansi dalam penggunaan dana untuk kontraterorisme adalah hal yang disengaja.

“Transparansi akan memaksa pertanyaan-pertanyaan sulit tentang alokasi dana tersebut” kata Hartig. Sementara jumlah serangan dan korban yang relatif rendah tidak setara dengan ancaman kecil, Hartig mengatakan, “masih layak untuk dipertanyakan apakah $ 2,8 triliun adalah jumlah optimal sumber daya yang dibutuhkan untuk mengurangi ancaman terorisme.”

Para penulis laporan mengangkat masalah ini dalam laporan tersebut, mencatat bahwa sejak 9/11, hanya 100 orang telah dibunuh oleh ekstremis atau jihadis Muslim di dalam Amerika Serikat, sementara lebih dari 20.000 kematian terkait fentanyl (opioid) terjadi pada tahun 2016 saja.

“Beberapa analis menyimpulkan bahwa menghabiskan $ 2,8 triliun untuk melawan ancaman terorisme yang telah menghasilkan relatif sedikit korban jiwa adalah pemborosan sumber daya pemerintah, yang lebih baik dihabiskan untuk kepentingan lain,” kata laporan tersebut. “Orang lain mungkin berpendapat bahwa dampak terorisme lebih bersifat psikologis daripada fisik, atau bahwa jumlah kematian yang rendah dihitung dari aksi terorisme dan tidak adanya serangan sebesar 9/11” telah menunjukkan bahwa uang tersebut dibelanjakan dengan baik.

“Meskipun kelompok studi Stimson tidak mengambil posisi dalam perdebatan ini, namun kesimpulannya adalah bahwa berpendapat tentang keberhasilan pendanaan kontraterorisme, yaitu menentukan apakah pengeluaran CT [kontra-terorisme] telah menghasilkan cukup manfaat sesuai dana yang dikeluarkan, adalah hal yang sulit tanpa informasi yang akurat tentang dana yang dihabiskan CT, “tambah laporan tersebut.

Kelompok tersebut merekomendasikan agar kantor pembuat anggaran Gedung Putih diberi tugas untuk mengembangkan penghitungan pengeluaran kontraterorisme secara komprehensif, menggunakan istilah dan definisi yang jelas untuk menggambarkan apa yang memenuhi syarat dan apa yang tidak. “Mengambil tindakan ini akan membantu memastikan bahwa pengeluaran CT ditargetkan untuk program yang paling efektif dalam menghadapi ancaman teroris,” kata mereka.

Selain Hartig, anggota lain dari kelompok itu adalah Amy Belasco, mantan spesialis kebijakan pertahanan di Kantor Anggaran Kongres; Mackenzie Eaglen, seorang spesialis pertahanan di American Enterprise Institute; Tina Jonas, seorang mantan pengawas Departemen Pertahanan; Mike McCord, mantan pengawas keuangan Departemen Pertahanan; dan John Mueller, seorang peneliti senior di Cato Institute.

Sumber:  publicintegrity

 

Baca juga, VOTING SENAT AMERIKA BLOKIR PENJUALAN JET TEMPUR SILUMAN F35 KE TURKI