Kecurangan Ilmiah Dalam Masalah Takfir ( Tulisan Ke 2)

Baca sebelumnya, KECURANGAN – KECURANGAN DALAM TAKFIR

Duniaekspress.com. (30/6/2018). Keenam, mereka diingatkan akan hal itu supaya pada hari kiamat mereka tidak mengatakan ‘Sesungguhnya kami lalai akan hal ini’. Sudah diketahui bersama bahwa mereka lalai dari peristiwa pengeluaran mereka semua dari sulbi Adam dan pengambilan kesaksian mereka semua pada waktu tersebut. Tidak seorang pun di antara mereka yang mengingatnya (saat terlahir ke dunia, pent).

Ketujuh, firman Allah ‘atau supaya kalian (tidak) mengatakan: “yang berbuat syirik itu bapak-bapak kami dahulu, sedangkan kami adalah keturunan setelah mereka’. Allah menyebutkan dua hikmah dari pengenalan dan pengambilan kesaksian ini. Pertama, agar mereka tidak mengklaim kelalaian, dan kedua, agar mereka tidak mengklaim taklid. Orang yang lalai tidaklah merasa, sedangkan orang yang bertaklid hanyalah mengikuti orang lain.

Kedelapan, firman Allah ‘maka apakah Engkau membinasakan kami dengan sebab apa yang dilakukan orang-orang sesat itu?’ Seandainya Allah mengazab mereka karena pengingkaran dan kesyirikan mereka semata, tentulah mereka akan mengatakan argument ini. Namun Allah hanya membinasakan mereka dikarenakan mereka menyelisihi dan mendustakan para rasul-Nya. Seandainya Allah membinasakan mereka ‘hanya’ karena mereka taklid dalam perbuatan syirik kepada orang-orang tua mereka tanpa Allah menegakkan hujah kepada mereka dengan mengutus para rasul, niscaya Allah telah membinasakan mereka ‘dengan sebab apa yang dilakukan orang-orang sesat itu’ atau Allah membinasakan mereka dengan sebab kelalaian mereka dari mengetahui kebatilan perbuatan (syirik) mereka. Padahal Allah SWT telah memberitahukan bahwa Allah tidak membinasakan negeri-negeri secara zalim sementara penduduknya adalah orang-orang yang lalai. Namun Allah hanya membinasakan mereka setelah pemberian udzur (dakwah rasul, pent) dan peringatan.

Kesembilan, Allah menjadikan setiap orang saksi atas dirinya sendiri bahwa Allah adalah Rabb dan Penciptanya. Allah menjadikan kesaksian ini sebagai argumen untuk membantah (alasan) mereka dalam banyak ayat, di antaranya firman-Nya: “Sekiranya engkau bertanya kepada mereka tentang siapakah pencipta mereka, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’. Maka bagaimanakah mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Az-Zukhruf (43): 87) “Sekiranya engkau bertanya kepada mereka tentang siapakah pencipta langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ (QS. Luqman ((31): 25)

Bagaimana mereka bisa dipalingkan dari tauhid setelah mereka mengikrarkan bahwa Allah adalah Rabb dan pencipta mereka? Ayat seperti ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Inilah hujah yang Allah menjadikan mereka sebagai saksi terhadap diri mereka sendiri akan kandungan kesaksian tersebut dan para rasul-Nya memperigatkan mereka akan kandungannya.

Sebagaimana firman Allah: “Apakah tentang diri Allah ada keraguan? Padahal Dia adalah Pencipta langit dan bumi…” (QS. Ibrahim (14): 10) Allah memperingatkan mereka melalui lisan para rasul-Nya akan iqrar dan pengetahuan ini, dan Allah sama sekali tidak memperingatkan mereka akan ikrar yang mendahului penciptaan mereka dan Allah juga tidak menegakkan ikrar (yang mendahului penciptaan mereka) tersebut sebagai hujah (tersendiri).” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Kitab Ar-Ruh, hlm. 225-227, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 1: 1402 H/1982 M, tahqiq: Muhammad Iskandar Yalda)

[2] Contoh kedua kutipan dari imam Al-Baidhawi. Pengarang al-jawab al-mufid fi hukmi jahilit tauhid hanya mencantumkan paragrap-paragrap tulisan imam Al-Baidhawi yang mengesankan dukungan kepada pendapatnya; dan membuang paragraph-paragrap lanjutan tulisan imam Al-Baidhawi yang menunjukkan pemahaman yang berbeda dengan apa yang dianut oleh pengarang al-jawab al-mufid fi hukmi jahilit tauhid. Teks lengkap perkataan imam Al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya adalah sebagai berikut:
Makna firman Allah ‘Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu mengambil dari anak-anak Adam’ adalah ketika Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi manusia anak keturunan mereka seperti urutan mereka lahir, satu generasi demi generasi.

Firman Allah ‘dari punggung-punggung mereka adalah badal, dari anak keturunan Adam adalah badal ba’dh. Ima Nafi’, Abu Amru, Ibnu Amir, dan Ya’qub membaca dzurriyaatihim,
Maksud firman Allah ‘dan Dia menjadikan sebagai saksi atas diri mereka: Bukankah Aku adalah Rabb kalian?’ adalah Allah menegakkan kepada mereka bukti-bukti rububiyah-Nya dan menyusun dalam akal mereka perkara yang mengajak mereka untuk mengikrarkan rububiyah-Nya sehingga keadaannya seakan-akan dikatakan kepada mereka
Maksud firman Allah Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi adalah Allah menjadikan mereka mampu mencari ilmu tentang rububiyah-Nya dan kemampuan mereka atas hal itu diposisikan seperti persaksian dan pengikraran, dalam gaya bahasa perumpamaan. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah ‘agar kalian (tidak) mengatakan pada hari kiamat’ maksudnya benci kalau kalian mengatakan hal ini. Firman Allah ‘sesungguhnya kami lalai akan hal ini’ maksudnya kami belum diperingatkan dengan dalil.

Firman Allah ‘atau supaya kalian tidak mengatakan…” adalah athaf (sambungan kalimat) dari firman Allah agar kalian (tidak) mengatakan pada hari kiamat. Imam Abu Amru membaca kedua kalimat ttersebut dengan ya’ (agar mereka tidak mengatakan pada hari kiamat dan atau supaya kalian tidak mengatakan, pent) karena awal kalimat memakai kata ganti orang ketiga.
Firman Allah: “yang berbuat syirik itu bapak-bapak kami dahulu, sedangkan kami adalah keturunan setelah mereka’ maka kami mengikuti jejak mereka. Karena taklid ketika telah tegak dalil dan adanya kemampuan untuk mengetahui dalil tersebut tidak sah menjadi udzur.

Firman Allah ‘maka apakah Engkau membinasakan kami dengan sebab apa yang dilakukan orang-orang sesat itu?’ maksudnya adalah orang tua mereka yang tersesat, karena merekalah yang memulai perbuatan syirik.
Dikatakan (sebagian ulama berpendapat, pent): ketika Allah menciptakan Adam dan mengeluarkan dari tulang punggungnya anak keturunanya seperti benih, Allah menghidupkan mereka, menjadikan akal untuk mereka, membuat mereka berbicara dan mengilhamkan hal itu kepada mereka. Pendapat ini didasarkan kepada hadits Ibnu Umar RA dan saya telah menguraikan penjelasan makna hadits dalam syarh saya atas kita Al-Mashabih (Mashabih as-Sunnah, pent).

Maksud dari penyebutan kalimat ini dalam ayat ini adalah mewajibkan atas kaum Yahudi konskuensi mitsaq yang umum setelah Allah mewajibkan atas mereka mitsaq yang dikhususkan untuk mereka (lihat QS. Al-A’raf [7]: 169-171, pent), menerangkan hujah-hujah wahyu dan akal atas diri mereka, mencegah mereka dari taklid, dan mendorong mereka untuk berfikir dan mengambil pelajaran dari dalil, sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah: “Dan demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf [7]: 174)
Maksudnya supaya mereka kembali dari taklid dan sikap mengikuti kebatilan. (Tafsir Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil (Tafsir al-Baidhawi), 3/71-72, edisi maktabah syamilah, bersumber dari cetakan Darul Fikr, Beirut) (RR)

bersambung ke:

KECURANGAN-KECURANGAN DALAM TAKFIR part 3

 

Baca juga, SEBAB-SEBAB MUNCULNYA SIKAP EKSTRIM DALAM TAKFIR