KECURANGAN DALAM TAKFIR DALAM HAL ILMIYAH

oleh : abu fatih jaulani

Duniaekspress.com. (29/6/2018). Salah satu hal yang harus ada dalam sebuah tulisan ilmiah, apalagi untuk menjelaskan perkara yang berkaitan dengan akidah dan syariat, adalah kejujuran ilmiah. Seorang penulis harus menampilkan tulisan ulama yang dikutipnya secara jujur, tanpa membuang-buang, memotong-motong atau menyembunyikan bagian-bagian tulisan ulama tersebut yang tidak sejalan dengan pendapat yang ia anut.

Kejujuran ilmiah ini, amat disayangkan, tidak kita dapatkan dalam tulisan pengarang kitab Al-Jawab Al-Mufid fi Hukmi Jahilit Tauhid. Penulis kitab Aqidatul Muwahhidin wa ar-Raddu ‘ala adh-Dhullal wal Mubtadi’in, yang menampilkan tulisan kitab Al-Jawab Al-Mufid fi Hukmi Jahilit Tauhid secara lengkap dalam bukunya tersebut, juga mendiamkan saja kecurangan ilmiah tersebut tanpa melakukan penelitian ulang (tahqiq) dan menunjukkan beberapa kecurangan ilmiahnya. Wallahu a’lam, apakah ini ada unsur kesengajaan untuk memenangkan pendapat yang sebelumnya telah dianut ataukah karena ia sekedar mengumpulkan tulisan-tulisan penulis lain dan tidak melakukan tahqiq yang matang.

Agar masalahnya menjadi jelas, pembaca bisa membaca edisi bahasa Arab dari buku Aqidatul Muwahhidin wa ar-Raddu ‘ala adh-Dhullal wal Mubtadi’in, yang memuat juga buku Al-Jawab Al-Mufid fi Hukmi Jahilit Tauhid. Cara penulis tersebut dalam mengutip tulisan para ulama bisa diteliti ulang dalam edisi bahasa Arabnya, dan kutipan-kutipan tulisannya (dalam bahasa Indonesia) telah disebutkan di awal pembahasan ini, saat menyebutkan beberapa kutipan perkataan ulama dalam menafsirkan QS. Al-A’raf [7]: 172-174 dan sampai pada kesimpulan tidak ada udzur kebodohan walau dalam cabang perincian tauhid dan syirik.
Untuk bisa mengetahui sejauh mana tingkat kejujuran ilmiah penulis tersebut, mari kita bandingkan kutipannya (dalam buku edisi bahasa Arab maupun bahasa Indonesianya) dengan sumber-sumber kitab asli yang mereka kutip (dalam buku edisi bahasa Arab). Jika disebutkan semuanya tentu akan sangat panjang dan memakan banyak halaman. Namun berikut ini kita sebutkan beberapa contoh, sekedar sebagai bukti kecurangan ilmiah dalam pengutipan pendapat para ulama.
[1]. Contoh pertama, perkataan imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang dikutip oleh pengarang kitab Al-Jawab Al-Mufid fi Hukmi Jahilit Tauhid.

Syaikh Abu Abdillah Abdurrahman Ibnu Abdil Hamid berkata tentang ayat di atas: Ibnul Qayyim berkata: Dikarenakan ayat Al A’raf ini ada di surat makkiyyah maka Allah menyebutkan di dalamnya mitsaq (perjanjian) dan pengambilan kesaksian yang umum bagi seluruh mukallaf yang telah mengakui rububiyyah-Nya, keesaan-Nya dan kebatilan syirik, di mana ia adalah mitsaq dan pengambilan kesaksian yang dengannya hujjah tegak atas mereka, udzur (alasan) terputus dengannya dan sangsi hukum menimpa dengannya serta pembinasaan menimpa dengan sebab menyelisihinya.”(Al-Jawabul Mufid Fi Hukmi Jahilit Tauhid, Aqidatul Muwahhidin, hlm. 330).

Pengarang al-jawab al-mufid fi hukmi jahilit tauhid hanya mencantumkan paragrap-paragrap tulisan imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang mengesankan dukungan kepada pendapatnya; dan membuang paragraph-paragrap lanjutan tulisan imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang menunjukkan pemahaman yang berbeda dengan apa yang dianut oleh pengarang al-jawab al-mufid fi hukmi jahilit tauhid.

Bandingkan kutipan tersebut dengan kalimat lengkap imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam sumber aslinya (Kitab Ar-Ruh) berikut ini, niscaya akan diketemukan perbedaan yang sangat jauh, sehingga kesimpulan uraian tersebut juga berbeda sangat jauh. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menulis:

“Karena ayat Al-A’raf ini berada dalam surat Makkiyah, maka Allah menyebutkan di dalamnya mitsaq dan persaksian yang umum untuk seluruh mukallaf yang mengikrarkan rububiyah Allah dan keesaan-Nya serta batilnya kesyirikan. Ia adalah mitsaq dan persaksian yang dengannya hujah tegak, udzur (alasan) terputus, hukuman terjadi, dan menyelisihinya menyebabkan penghancuran. Maka mereka pasti mengingatnya dan mengenalnya, yaitu Allah menciptakan mereka di atas dasar ikrar akan rububiyah-Nya, bahwa Dia adalah Rabb dan pencipta mereka, dan mereka adalah makhluk yang diatur. Kemudian Allah mengutus kepada mereka para rasul-Nya yang mengingatkan mereka apa yang telah berada dalam fitrah dan akal mereka, dan para rasul-Nya tersebut mengenalkan kepada mereka hak Allah atas mereka, perintah dan larangan-Nya, janji dan ancaman-Nya.
Susunan kalimat dalam ayat ini menunjukkan perkara ini dari beberapa segi:

Pertama, firman Allah ‘Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu mengambil dari anak-anak Adam’. Allah tidak berfirman ‘Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu mengambil dari Adam’. Sudah jelas bahwa anak-anak Adam bukanlah Adam.

Kedua, firman Allah ‘dari sulbi-sulbi mereka’. Allah tidak berfirman ‘dari sulbi’. Ini adalah badal ba’dh min kull atau badal isytimal, dan itu yang lebih tepat.

Ketiga, firman Allah ‘keturunan mereka’. Allah tidak berfirman ‘keturunannya’.

Keempat, firman Allah ‘dan Dia menjadikan sebagai saksi atas diri mereka’, yaitu Allah menjadikan mereka saksi atas diri mereka sendiri. Seorang saksi pasti mengingat kesaksiannya sendiri, dan ia hanya bisa mengingat kesaksian tersebut setelah ia keluar ke dunia ini, ia tidak akan ingat kesaksian sebelum ia keluar darinya (masih di alam ruh, pent).

Kelima, Allah SWT menyebutkan hikmah kesaksian ini adalah untuk menegakkan hujah atas diri mereka, agar mereka tidak mengatakan pada hari kiamat ‘kami lalai dari hal ini’. Sedangkan hujah tegak atas diri mereka dengan para rasul dan fitrah yang mereka diciptakan di atasnya, sebagaimana firman Allah:

رُسُلاً مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’ (4): 165)

bersambung ke

KECURANGAN-KECURANGAN DALAM TAKFIR part2

 

Baca juga, BERHATI-HATILAH DALAM TAKFIR