KECURANGAN ILMIYAH DALAM TAKFIR

( tulisan terakhir bag. 3 )

Baca sebelumnya, KECURANGAN -KECURANGAN DALAM TAKFIR PART 2

Duniaekspress.com. (1/7/2018). [3]. Contoh ketiga adalah kutipan dari syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Penjelasan syaikh Rasyid Ridha yang menyetujui uraian lengkap imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Ar-Ruuh sama sekali tidak disebutkan oleh pengarang al-jawab al-mufid fi hukmi jahilit tauhid. Pengarang al-jawab al-mufid fi hukmi jahilit tauhid hanya mencantumkan paragrap-paragrap tulisan syaikh Muhammad Rasyid Ridha yang mengesankan dukungan kepada pendapatnya; dan membuang paragraph-paragrap lanjutan tulisan syaikh Muhammad Rasyid Ridha yang menunjukkan pemahaman yang berbeda dengan apa yang dianut oleh pengarang al-jawab al-mufid fi hukmi jahilit tauhid. Ini jelas sebuah kecurangan ilmiah. Berikut kutipan lengkap tulisan syaikh Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsirnya:
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengawali penafsiran QS. Al-A’raf [7]: 172-174 dengan menulis sebagai berikut:

“Ayat-ayat ini adalah permulaan konteks (tema pembicaraan) yang baru tentang persoalan-persoalan manusia yang umum yang berkaitan dengan petunjuk Allah kepada mereka dengan apa yang Allah simpan dalam fitrah mereka dan Allah susun dalam akal mereka berupa kesiapan untuk beriman kepada-Nya, mentauhidkan-Nya, dan bersyukur kepada-Nya. Konteks baru ini datang setelah (konteks ayat-ayat) penjelasan tentang petunjuk Allah kepada mereka dengan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab suci dalam kisah Bani Israil. Keterkaitan antara konteks ini dengan konteks sebelumnya sangat jelas, oleh karenanya konteks ini disusulkan (‘athaf) setelah konteks sebelumnya dalam penyusulan kalimat demi kalimat, atau penyusulan konteks demi konteks.”
Lalu beliau menjelaskan makna ayat 172 dengan menulis:

“Makna ayat ini adalah peringatkanlah wahai Rasul SAW, setelah peringatan dengan pengambilan mitsaq (perjanjian) wahyu atas Bani Israil secara khusus, mitsaq fitrah dan akal yang Allah ambil dari seluruh manusia. Yaitu ketika Allah mengeluarkan dari tulang punggung manusia anak keturunan mereka satu generasi demi generasi. Maka Allah menciptakan mereka di atas fitrah Islam, Allah simpan dalam hati mereka instink untuk beriman, dan Allah jadikan dalam ilmu akal dharuri (kepastian yang diterima oleh akal sehat) mereka bahwa setiap perbuatan pasti ada pelakunya, setiap perkara pasti ada pihak yang mengadakannya, dan bahwa di atas alam yang teratur yang tegak di atas hukum sebab-akibat ada kekuasaan tertinggi atas seluruh makhluk. Dialah Maha pertama dan Maha terakhir, Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi.

Kami telah menguraikan panjang lebar masalah ini, dan inilah makna firman Allah ‘dan Dia menjadikan sebagai saksi atas diri mereka: “Bukankah Aku Rabb kalian?”, mereka menjawab: “Benar, kami bersaksi”’. Maksudnya Allah menjadikan setiap orang yang lahir dari mata rantai keturunan tersebut saksi atas dirinya sendiri dengan apa yang Allah sediakan dalam instink dan kesiapan akalnya. Yaitu Allah memfirmankan perkataan yang berupa kehendak dan pembentukan, bukan perkataan yang berupa wahyu dan penyampaian: “Bukankah Aku Rabb kalian?”

Maka mereka menjawab dengan jawaban yang berupa kesiapan dan sikap, bukan jawaban yang berupa perkataan: “Benar, Engkaulah Rabb kami dan hanya Engkau yang berhak kami ibadahi.”Hal ini semakna dengan firman Allah setelah Allah menciptakan bumi: “Lalu Allah berfirman kepada langit dan bumi: ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa!’ Maka langit dan bumi menjawab: ‘Kami akan datang dengan patuh.” (QS. Fushilat [41]: 11)

Metode pengungkapan dan penjelasan seperti ini dalam istilah ulama Balaghah disebut Tamtsil, dan ia merupakan gaya bahasa Balaghah (sastra Arab) yang paling tinggi. Bukti-bukti kebenarannya dalam Al-Qur’an dan perkataan para pakar Balaghah sangat banyak.
Allah kemudian menjelaskan sebab pengambilan kesaksian ini, Allah berfirman:
(yang demikian itu Kami lakukan) agar kalian di hari kiamat (tidak) mengatakan:

“Sesungguhnya kami lalai akan hal ini” Maksudnya, kami melakukan hal ini untuk mencegah kalian membela diri pada hari kiamat karena kalian menyekutukan Allah dengan alasan: Sesungguhnya kami lalai dari tauhid rububiyah ini dan konskuensinya tauhid uluhiyah dengan beribadah kepada Rabb semata. Maksudnya, Allah tidak menerima udzur (alasan) kebodohan mereka.

Firman Allah atau supaya kalian (tidak) mengatakan: “yang berbuat syirik itu bapak-bapak kami dahulu, sedangkan kami adalah keturunan setelah mereka’, maksudnya kami tidak mengetahui kebatilan syirik mereka, maka kami tidak ada keleluasaan selain meniru jejak mereka.

Firman Allah ‘maka apakah Engkau membinasakan kami dengan sebab apa yang dilakukan orang-orang sesat itu?’ dengan perbuatan mereka yang mengada-adakan syirik, lalu Engkau mengazab kami sebagaimana Engkau mengazab mereka? Padahal kami memiliki udzur (alasan) persangkaan baik kepada mereka? Maksudnya Allah tidak menerima udzur (alasan) taqlid mereka kepada bapak dan kakek mereka, sebagaimana Allah tidak menerima udzur kebodohan mereka, setelah Allah menegakkan atas diri mereka hujah fitrah dan akal.

Firman Allah ‘Dan demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)’, uraian yang sangat rinci ini, kami jelaskan secara detail kepada anak keturunan Adam tanda-tanda dan bukti-bukti nyata agar mereka mempergunakan akal mereka, dan mereka kembali dari kebodohan dan taklid mereka.

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang belum sampai kepadanya dakwah Rasul tidak diberi udzur para hari kiamat atas perbuatan syirik yang dilakukannya, tidak juga atas perbuatan-perbuatan keji dan perbuatan-perbuatan munkar yang fitrah sehat lari darinya (menolaknya) dan akal semata bisa mengetahui bahaya dan kerusakannya. Mereka hanya diberi udzur jika menyelisihi petunjuk para rasul dalam perkara yang tidak diketahui kecuali dari jalan para rasul, yaitu sebagian besar perkara ibadah yang rinci.

Inilah hal yang langsung bisa dipahami oleh pikiran dari ayat-ayat di atas. Namun dalam masalah pengeluaran anak keturunan Adam dari tulang punggung mereka dan pengambilan mereka sebagai saksi atas diri mereka sendiri terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang tidak mungkin bisa diketahui kecuali dari jalan wahyu. Masalah ini telah menjadi tema kajian dan diskusi para ulama ma’qul (ilmu akal, manthiq, pent) dan ulama manqul (ilmu riwayat, hadits, pent). Maka kami sebutkan di sini pendapat terbaik mereka tentang masalah ini.

Imam Ibnu Katsir berkata saat menafsirkan ayat ini (syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengutip panjang lebar perkataan Ibnu Katsir dan hadits-hadits tentang mitsaq. Ibnu Katsir menguatkan pendapat bahwa maksud ayat ini adalah Allah menciptakan manusia di atas fitrah tauhid, seperti dijelaskan oleh QS. Ar-Rum [30]: 30, hadits Abu Hurairah, hadits Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i, dan Aswad bin Sari’. Sebagian kutipannya telah diterjemahkan di atas dalam uraian syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi, pent).

Imam Ibnu Qayyim telah menjelaskan panjang lebar masalah ini dalam kitab Ar-Ruuh dalam pembahasan ruh diciptakan sebelum jasad. Beliau menyebutkan hadits-hadits yang marfu’, mauquf, dan riwayat-riwayat (sahabat dan tabi’in) tentang hal itu, kemudian membicarakan jarh dan ta’dil atas sanad-sanadnya. Kemudian beliau berkata: (syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengutip panjang lebar penjelasan Ibnu Qayim Al-Jauziyah, yang telah kami sebutkan kutipan panjangnya dari kitab Ar-Ruuh dalam catatan no. I di atas, pent).”
(Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Qur’an Al-Hakim (Tafsir Al-Manar), 9/386-404, Kairo: Dar Al-Manar, cet. 2, 1367). (RR)

Alhamdulillah Selesai

 

Baca juga, JEBAKAN GHULUW TAKFIR DAN INFILTRASI INTELIJEN KEDALAM GERAKAN JIHAD