BAGAIMANA STATUS ORANG YANG TIDAK PERCAYA AKAN KEDATANGAN IMAM MAHDI?

duniaekspress.com, 30 Juni 2018.

Harap sabar membaca tulisan ini sampai tuntas….

Mengenai tentang kemunculan Imãm Mahdĩ di akhir zaman, sebelum memperpanjang pembahasan, perlu dicatat terlebih dahulu bahwa keyakinan terkait Imãm Mahdĩ akan muncul di akhir zaman sebagai Imãm penyelamat dunia yang dinanti-nantikan adalah keyakinan yang berkembang di kalangan Syĩ‘ah Imãmiyah. Menurut Syĩ‘ah Imãmiyah pada akhir zaman akan datang seorang khalĩfah yang adil dari keturunan ‘Alĩ bin Abĩ Thãlib dengan nama-nama Mahdĩ, yang akan berkuasa di seluruh dunia Islam.

Paham tentang Imãm Mahdĩ pada mulanya termasuk rekayasa dan strategi Syĩ‘ah Imãmiyah untuk mengimbangi kerajaan Banĩ Umayyah yang memerintah dengan penuh penindasan kepada pengikut ‘Alĩ bin Abĩ Thãlib pada waktu itu. Sementara menunggu munculnya Imãm Mahdĩ, maka dunia ini dipimpin oleh tokoh-tokoh spiritual Syĩ‘ah yang kasat mata (Rijãlul Ghaib); yang susunannya terdiri dari seorang Quthub atau Qhaus yang diberi nama Insãn Kãmil, empat orang Autãd sebagai menteri, tujuh orang Abdal, dua belas orang Nuqabã’ dan tiga ratus orang Nujaba.

Keyakinan aneh ini dapat dengan mudah dibantah. Kerajaan batiniyah yang konon dikendalikan orang-orang kasat mata (Rijãlul Ghaib) pada hakikatnya tidak ada, itu hanya imajinasi orang Syĩ‘ah, tidak bisa diterima oleh akal dan naql (Syara’). Keyakinan Syia’ah ini mirip dengan mitologi masyarakat Jawa. Dalam mitologi jawa, Imãm Mahdĩ dapat disebut dengan Ratu Adil.

Terlepas dari itu semua, perlu dicatat pula: datangnya Mahdi adalah sesuatu yang direkam dalam buku-buku hadis dan berkwalitas shahih, di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Sa’îd Al Khudrî, beliau menuturkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَخْرُجُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِـي الْمَهْدِيُّ؛ يُسْقِيْهِ اللهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ اْلأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَيُعْطِى الْمَالَ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ، وَتَعْظُمُ اْلأُمَّةُ، يَعِيْشُ سَبْعًا أَوْ ثَمَانِيًا (يَعْنِي: حِجَجًا).

“Pada akhir umatku akan keluar al-Mahdi. Allah menurunkan hujan kepadanya, bumi mengeluarkan tumbuhannya, harta akan dibagikan secara merata, binatang ternak melimpah dan umat menjadi mulia, dia akan hidup selama tujuh atau delapan (yakni, musim haji).” (HR. Al Hãkim dalam Mustadrak (IV/557-558), beliau berkata, “Sanad hadis ini shahih, akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Hal ini disepakati oleh Adz Dzahabî. Syaikh Al Albãnî berkata, “Ini adalah sanad yang shahih, perawinya tsiqat.” Silsilah Al Ahãdîts Ash Shahîhah (II/336, no. 711).

Diriwayatkan pula dari ‘Alî bin Abî Thãlib, beliau menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اَلْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ، يُصْلِحُهُ اللهُ فِيْ لَيْلَةٍ.

Al Mahdî dari keturunan kami; Ahlul Bait, Allah akan memperbaikinya dalam satu malam.” (HR. Ahmad dalam Musnad (II/58, no. 645), tahqiq Ahmad Syãkir, beliau berkata, “Sanadnya shahih,” dan Sunan Ibnu Majãh (II/1367). Dan hadis ini dishahihkan juga oleh Syaikh Al Albãnî dalam Shahîh Al Jãmi’ish Shaghîr (VI/22, no. 6611).

Dalam riwayat yang lain, riwayat tentang Al Mahdi disandingkan turunnya Isa bin Maryam. Dari Jãbir –semoga Allah meridhainya-, beliau menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ، فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ اَلْمَهْدِيُّ: تَعَالَ صَلِّ بِنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ؛ إِنَّ بَعْضَهُمْ أَمِيْرُ بَعْضٍ؛ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.

‘‘Isa bin Maryam turun, lalu pemimpin mereka, Al Mahdi berkata, ‘Shalatlah mengimami kami!’ Dia berkata, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lainnya, sebagai suatu kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.” (HR. Al Hãrits bin Abû Usãmah dalam Musnadnya, begitu juga diriwayatkan dalam Al Manãr Al Munîf).

*Perbedaan di Kalangan Ulama Seputar Ada Tidaknya Imam Mahdi*

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa keyakinan akan datangnya Imam Mahdi adalah keyakinan yang berkembang di kalangan Syi’ah, khususnya Syi’ah Imamiyah. Namun begitu pun, dikarena sejumlah hadis, maka Ahlus Sunnah juga menyakini kedatangan Imam Mahdi, dan ini termasuk masalah yang sangat ditekankan para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jam’ah.

Seperti dijelaskan di atas, sebagian ulama menolak keyakinan seputar kedatangan Imam Mahdi da ntugas-tugas yang dikaitkan denngannya, walau pendapat yang tidak menyakini kedatangan Imam Mahdi tidak populer atau syadz. Mereka berpendapat bahwa khabar tentang Imam Mahdi bersumber dari hadits-hadits yang tidak shahih. Menurut mereka hadis-hadis tentang Mahdi dihimpun oleh Abdullah Muhammad Al Anshãrî Al Andalûsî.

Imam Ibnu Khaldûn dalam Al Muqaddimah mennyatakan bahwa hadis-hadis tersebut dikarang oleh para politisi dari kelompok Syiah dan kelompok lainnya yang berambisi merebut jabatan khalifah. Menurut beliau, beberapa tokoh Syiah telah menggunakan gelar “Al Mahdi”, di antaranya adalah Muhammad bin Al Hasan Al ‘Askarî, yang katanya menghilang ke dalam gua dan kelak akan muncul kembali untuk menegakkan keadilan di dunia serta membawa kemakmuran.

Muhammad Farid Wadjdi dalam Dã-iratu Ma’ãrifil Qarni Rãbi’ A’syar mengomentari karangan Abdullah Muhammad Al Anshãrî Al Andalûsî tersebut, “Inilah hadis yang menyangkut Al Mahdi yang dinanti-nanti kedatangannya. Maka para pakar ilmu tidak akan ragu-ragu dan tanpa segan membebaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari keterlibatan yang diutarakan hadis-hadis semacam itu, yang penuh dengan pemujaan terhadap seseorang, mengandung kekeliruan sejarah dan isinya amat bertentangan dengan sunnatullah. Dengan demikian timbullah kesan bahwa hadis-hadis itu adalah hadis-hadis maudhû (dusta) yang telah dirancang oleh orang-orang yang sesat, yang cuma punya ambisi guna meraih jabatan Khalifah.”

Bahkan. Jika dikaitkan dengan turunnya Isya putra Maryam (kisah ini sepaket dengan kisah Imam Mahdi dan Dajjal), banyak ulama yang tidak mempercayainya. Bukan karena hawa nafsu mereka, seperti yang dituduhkan para dai yang profokatif, mereka menolaknya karena beberapa argumentasi yang layak juga untuk dikaji dan didengarkan. Dan jika tidak sepakat silahkan dibantah. Tidak perlu menjatuhkan pribadi atau otoritas mereka dengan memberikan gelar muktazilah, ahlul bid’ah, bahkan tak jarang ada pula yang mengkafirkan mereka. Padahal tidak semua hal yang berkaitan dengan masalah akidah dihukumi Ushul; yang mana jika ada orang yang menyelisihinya maka harus dikafirkan. Tak jarang masalah akidah adalah masalah Furu’ul Ushul, anak atau cabang dari kajian Ushul atau akidah.

Syaikh Muhammad Abduh contohnya, beliau berpendapat bahwa hadis tentang turunnya Nabi Isa ini adalah hadits shahih (dari sisi sanadnya), hanya saja tergolong dalam hadis ahad, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh hanya satu orang, derajatnya bukan mutawatir. Jadi, ini bukan merupakan dalil qath’i yang mewajibkan setiap Muslim beriman kepadanya dan kafir bagi yang menolaknya. Setiap kabar mengenai sesuatu yang ghaib harus ditetapkan dengan dalil yang meyakinkan, yaitu yang bersumber dari Al Qur’an atau hadits shahih mutawatir yang jelas dan tegas. Ini alasan beliau menolak pendapat jumhur kaum muslimin.

Syaikh Mahmûd Syaltût, mantan rektor Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir menjelaskan: Hadis-hadis yang menerangkan turunnya Nabi Isa sesudah Dajjal adalah hadits mudhtharib, tidak bersamaan lafazh dan maknanya, dari riwayat Wahb dan Kabul. Keterangan yang amat diragukan kebenarannya bahkan dipastikan dustanya oleh ulama Jarh wat Ta’dil pada masa-masa terakhir ini.

Selain itu, menurut beliau, tidak ada dalil qath’i yang tegas dan jelas dari Al Qur’an atau dari Hadis Nabi bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dengan badannya dan dia hingga sekarang masih hidup serta akan turun kembali ke bumi kelak. Maka barangsiapa menolak berita bahwa Isa masih hidup dan akan diturunkan kembali ke bumi kelak di akhir zaman, ia tidak boleh dikafirkan. Ia masih tetap Muslim dan tetap mukmin, selama hidupnya tetap diperlakukan sebagai orang Islam, tetap dishalati kalau wafat dan dikubur di pemakaman Islam.

Namun demikian, jika diteliti lebih jauh ternyata banyak ulama seperti Al Hafĩzh Abû Hasan Al Abiri dan Imãm Asy Syaukãnĩ serta Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang berpendapat bahwa hadis-hadis yang membicarakan tema Imãm Mahdĩ bukan hanya hasan, bahkan shahih dan lebih dari, yaitu Mutãwatir Ma’nawĩ sekalipun jika jalur-jalurnya dikaji secara satu persatu maka mayoritas derajat jalur-jalur tersebut adalah ahãd. Tetapi jika ditinjau secara menyeluruh akan ditemukan kandungan satu hadis akan mendukung hadis lain, bahkan berbagai jalur saling menguatkan. Baik kandungan tersebut bersifat khusus (seperti hadits yang menceritakan ciri-ciri fisik Al Mahdĩ) maupun kandungan umum yaitu hadis-hadis yang menceritakan kedatangan Imãm Mahdĩ.

Terkadang ada hadis yang membicarakan asal usul Imãm Mahdĩ dari keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ada hadis lain yang menerangkan kondisi kehidupan saat Al Mahdĩ memimpin. Jika kita urutkan, maka kita akan dapati semacam keselarasan yang saling menguatkan serta sama-sama menerangkan bahwa Imãm Mahdĩ akan keluar di akhir zaman (kandungan umum). Dengan demikian dari segi kandungan khusus, maka hadits yang menerangkan ciri fisik Al Mahdĩ dan yang semisal dengannya berstatus ahãd, namun dari segi kandungan umum, maka hadits-hadits ini adalah Mutãwatir Ma’nawĩ. Dan derajat Mutãwatir Ma’nawĩ ini telah menjadi ijmak ulama untuk menerimanya.

Imãm Asy Syaukãnĩ berpendapat, “Hadits-hadits mengenai kedatangan Al Mahdĩ Al Muntazhar yang bisa diteliti sebanyak lima puluh. Di antaranya ada yang shahĩh, hasan, dan dha‘ĩf. Riwayat-riwayat ini mutãwatir tanpa ada keraguan dan kerancuan di dalamnya.” (Shãdiq Hasan Khãn dalam Al Idzã’ah: 113-114 menukil dari At Taudhĩh fĩ Tawãtur Mã Jã’a fĩ Al Mahdĩ al-Muntazhar wa Ad Dajjãl wa Al Masĩh oleh Imãm Asy Syaukãnĩ).

Berdasarkan keterangan di atas, kami berpendapat bahwa keyakinan terhadap Al Mahdĩ merupakan bagian dari keyakinan terhadap hal-hal ghaib adalah benar menurut hadis-hadis Mutãwatir Ma’nawĩ. Dan kami berpendapat, orang yang menolak datangnya Imam Mahdi dan turunnya Isya tidak dikafirkan, namun mereka keliru berdasarkan penjelasan kami di atas.

(by Sutan Serdang)

KECURANGAN-KECURANGAN DALAM TAKFIR

MARKAS ISIS DIGEREBEK MUJAHIDIN HTS