duniaekspress.com, 1 Juli 2018. Telah berkembang di kalangan penganut takfiri berdasarkan dalil-dalil yang mereka kemukakan bahwa tidak ada udzur bil jahl dalam perkara syirik akbar. Ini menjadi sandaran bagi mereka untuk mudah dalam mengkafirkan kaum muslimin. Untuk itu kami bawakan bantahan nya oleh Ustadz Abu Ammar yang didasarkan dari kitab syarh ushul i’tiqod ahlussunnah wal jama’ah karangan Imam al-Lalika’i yang mana hal ini sudah dibahas pada tahun 400H, jauh lebih dahulu dari fatwa-fatwa imam Nejd. Silahkan disimak!   Dalil-dalil yang dipakai sebagai landasan bahwa tidak adanya ‘udzur jahil pada masalah syirik akbar: DALIL PERTAMA: SURAT AL-A’RAF 172-174 TENTANG MITSAQ Ayat-ayat tentang perjanjian Alloh dengan bibit-bibit manusia  adalah surat al-a’raaf (7):172-174. Mereka memahami bahwa dengan mitsaq ini sudah cukup alasan bagi Alloh SWT untuk mengadzab di hari akhir, walau tidak ada wahyu yang sampai, walau tidak ada rosul. Bahwa dengan akal semata manusia sudah bisa bertauhid. kemudian mereka melandaskan pada Hadist riwayat Anas bin Malik r.a: Dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Allah berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya:  ‘Seandainya kamu mempunyai dunia serta isinya, apakah kamu akan menebus dengan semua itu?’ Orang itu menjawab:’ Ya’. Allah berfirman: ‘Aku telah meminta darimu yang lebih ringan daripada ini ketika kamu masih berada di tulang punggung Adam, yaitu agar kamu tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu’ (aku kira beliau juga bersabda) ‘dan Aku tidak akan memasukkanmu ke neraka’. Tetapi kemudian kamu enggan dan tetap menyekutukan-Ku”. (Shahih Muslim No.501) BANTAHAN : Kita tidak bisa memahami persoalan ini dengan bersandar pada ayat ini saja tanpa melihat ayat-ayat yang lain. Di dalam Alqur’an disebutkan juga bahwa seorang bayi yang lahir ia tidak mengetahui apa-apa. “Alloh mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sesuatupun”,  syai’un di sini adalah isim nakiroh dalam konteks peniadaan (nafiyyun), berarti ia adalah sighoh-sighoh umum yang maknanya umum (apapun), nama bapak ibunya saja tidak tahu apalagi mengingat mitsaq fitrah ini. Jangankan kita, Nabi SAW saja sampai umur 40 tahun (sebelum diangkat menjadi nabi) tidak ingat tentang mitsaq fithrah ini. Sedangkan Alloh SWT di dalam firmanNya dan juga hadist-hadist mengampuni dosa hamba-hambanya yang terlupa. banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan bahwa mengenal Alloh dan rosul landasannya adalah dengan wahyu, tidak bisa dengan akal semata atau dengan fithrah. Manusia memang memiliki fithrah yang murni jika tidak dipengaruhi orang tua dan lingkungannya, dia aslinya menyadari bahwa sang pencipta mestilah lebih besar dari seluruh makhluk, krena makhluk aja ada yang besar-besar,  namun dia tidak tahu cara mengenal sang pencipta itu, apa namanya, apa sifatnya, apa saja perbuatanNya, saya dilahirkan kedunia ini buat apa, dan bagaimana cara menyembahNya, semua itu diketahui setelah ada wahyu. Dalam kitab syarh ushul i’tiqod ahlussunnah wal jama’ah karangan imam abul qosim ibatulloh bin hasan bin mansur at-thobari arrozi al-lalika’i (diringkas: imam al-lalika’i, wafat 418H): “pemaparan dalil-dalil yang menunjukkan kitab Alloh dan sunnah Rosululloh SAW bahwa wajibnya mengenal Alloh, sifat-sifatNya,perbuatanNya itu dengan wahyu, tidak dengan akal semata. Dalilnya: Alloh SWT berfirman kepada NabiNya dengan lafal yang khusus, namun yang dimaksud adalah kepada umum (seluruh umat) “Maka ketahuilah (oleh mu Muhammad) bahwa tidak ada ilaah yang disembah kecuali Alloh” (QS. Muhammad:19), (surat ini bahkan adalah madaniyyah, ed.) “Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Robbmu, tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, dan berpalinglah engkau dari orang-orang yang musyrik” (QS. Al-An’am: 106) “dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang rasulpun kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Aku, maka beribadahlah kepadaKu semata” (QS. Al-anbiyaa’: 25) (jadi panduan jelas dalam beribadah itu adalah setelah adanya wahyu, ed.) “maka Alloh memberitahukan nabiNya SAW di dalam ayat di atas bahwasannya dengan wahyulah para nabi sebelum beliau mengenal tauhid, mengenal syirik”. “katakanlah: jika aku tersesat maka sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri,jika aku mendapat petunjuk maka sesungguhnya semata-mata karena wahyu yang Alloh turunkan kepadaku, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Dekat “(QS. Saba’:50) “Dan sungguh Nabi Ibrahim telah berdalil dengan buatan-buatan Alloh yang sangat sempurna, yang sangat teratur yang menunjukkan keesaan Alloh dengan melihat terbit dan terbenamnya matahari, muncul dan tenggelamnya bulan, muncul dan hilangnya bintang, kemudian Nabi Ibrahim berkata: “Ketika malam telah tiba maka dia melihat bintang, lalu dia berkata, ‘inilah robbku’, ketika besok paginya ia (ibrohim) berkata, ‘aku tidak suka tuhan yang tenggelam’. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: ‘Inilah rabbku’. Tetapi ketika ia lihat bulan itu tenggelam dia berkata: ‘Sesungguhnya JIKA ROBBKU TIDAK MEMBERI PETUNJUK KEPADAKU , pastilah aku termsk orang2 yang sesat’.” (QS. Al-an’am:77). “maka dari ayat ini diketahui bahwasannya hidayah itu terjadi dengan adanya wahyu, demikian pula wajibnya mengenal para rosul” “katakanlah (muhammad): ‘wahai seluruh umat manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada umat manuisa semuanya. Dia lah Alloh yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tiada yang berhak diibadahi selain Dia, Dialah Yang Maha menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Alloh dan rasulNya, yaitu nabiNya yang ummi dan beriman kepada kalimatNya, dan ikutilah dia niscaya kalian akan mendapat petunjuk” (QS. Al-a’raf: 158) “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa org lain, dan tidaklah Kami mengazab sebelum (sampai) Kami mengutus seorang rasul” (QS. Al-israa’ :15) (di sini tidak disebutkan maf’ulnya dari mengazab, artinya bahwa ini bersifat umum, baik kristen, yahudi, majusi, musyrikin, semua tidak dihukum kecuali telah datang petunjuk Rasul, ed.) “Alloh mengutus para rosul sebagai pemberi  kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan kabar buruk bagi orang-orang yang kafir agar umat manusia tidak punya alasan untuk membantah Alloh setelah diutusnya para rosul(QS. An-nisaa’ : 165) “Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Thursina ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Rabbmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu agar mereka ingat (ingat tentang mitsaq kepada Alloh, ingat tentang apa tujuannya hidup, dll, ed.). Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat  Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mu’min’”. (QS. Al-qoshosh: 46-47) “dan mereka mengatakan’ ‘mengapa muhammad tidak datang kepada kami dengan mu’jizat dari Tuhannya’, bukankah telah datang kepada mereka bukti yang nyata dalam lembaran-lembaran wahyu para nabi sebelumnya. Dan sekiranya kami binasakan mereka dengan ‘adzab sebelum (bukti-bukti itu turun) tentulah mereka berkata, ‘ya robb kami mengapa engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami sehingga kami mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (QS. Thahaa: 133-134) “maka ayat ini juga menunjukkan adalah bahwa tauhid ibadah itu dengan wahyu sebagaimana yang Alloh beritahukan pada ayat-ayat di atas, dan inilah madzhabnya ahlus sunnah wal jama’ah” (juz I syarh ushul i’tiqod ahlussunnah wal jama’ah)   Orang yang menganggap bahwa tanpa wahyu atau dengan akal semata sudah bisa bertauhid dengan benar sesuai penafsiran mereka tentang surat al-a’raf 172-174, tanpa melihat penjelasan pada ayat-ayat lain maka sebenarnya ia telah jatuh pada paham mu’tazilah tanpa sadar, pada pandangan ahlussunnah bahwa akal punya potensi, tetapi akal hanya bisa menangkap garis besarnya sedang rinciannya: mana yang tauhid mana yang syirik, mana yang halal dan haram, mana yang ibadah dengan benar, dll, akal semata tidak bisa mandiri tanpa adanya wahyu. Dan orang di’adzab di akhirat bukan karena  melanggar akal, tetapi karena melanggar wahyu. Demikianlah di atas bagaimana imam al-lalika’i yang hidupnya jauh lebih dahulu (abad 400H) memaparkan tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah, lalu bagaimana orang-orang yang tidak mengenal ‘udzur dalam masalah aqidah pada zaman-zaman belakangan  tiba-tiba mengatakan bahwa mereka membawa aqidah ahlussunnah wal jama’ah?? (USTADZ ABU AMMAR) Bersambung ke:

BANTAHAN ATAS TIDAK ADANYA UDZUR JAHIL DALAM PERKARA SYIRIK bagian 2

baca juga,

TIDAK PERCAYA AKAN DATANGNYA IMAM MAHDI, KAFIRKH?MUJAHIDIN HTS SERU MILITAN ISIS UNTUK BERTAUBAT